(Bagian ketiga)

Idzil fatā hasba’ tiqādihi rufi’, wa kullu man lam ya’taqid lam yantafi’, Idealnya pemuda harus memiliki keyakinan yang tinggi, sebab tanpa keyakinan, apapun tidak akan berguna.

Pedoman menjalani kehidupan salah satunya adalah harus yakin dengan keputusan yang ditentukan. Tanpa ditanamkannya rasa yakin, kita akan selalu terombang-ambing dalam keraguan yang membuat kita tidak penah mencapai tujuan hidup kita.

Seorang santri umumnya sudah mengetahui bait ini, sebab nadhom ‘Imrithy adalah salah satu kurikulum wajib di pesantren. Jikalau aforisma yang terangkum daam satu bait ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan kita, setidaknya kita tahu bahwa rasa yakin harus kita tanam sejak masa muda, kemudian kita asah hingga kuat, sehingga berapapun besarnya tantangan, cobaan dan rintangan yang menghadang, akan dapat diselesaikan dengan mudah dan tidak pernah mengeluh. “Usaha, jalankan, yakinlah kedepannya akan ada jalan!

I’tiqad dapat dimaknai juga keimanan. Nadhom diatas dapat saja kita artikan, “Barangsiapa yang imannya kuat, maka Allah Swt tinggikan derajatnya.” Iman berarti percaya. Dalam islam ada rukun iman yang wajib kita percayai, yaitu percaya kepada Allah, malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul, hari kiamat serta takdir yang telah ditetapkan Allah Swt.

Beriman kepada Allah Swt menuntut kita mengimani pula sifat-sifatNya. Terutama sifat-sifat wajib bagi Allah Swt yang dua puluh. Wujûd, qidam, baqā`, dan seterusnya. Andai saja kita benar-benar mengimani dengan kuat, meresap ke dalam sanubari dan seluruh jiwa raga, tentu kita akan giat untuk melaksanakan ketaatan kepadaNya, juga malu apabila durhaka kepada Tuhan semesta alam.

Kita umpamakan begini, Allah Swt memiliki sifat bashîr dan samî’, Maha melihat dan Maha mendengar. Kita mengetahui hal itu dengan mempelajarinya dari guru kita dalam bidang ilmu tauhid, kemudian kita percayai, kita imani secara utuh dan dalam, hingga kepada tingkat pengamalan dan praktik dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Maka, dengan mengimani dua sifat tersebut secara utuh, meresap ke dalam jiwa dan raga kita tak mungkin berani untuk mendurhakai Allah Swt. Bagaimana mungkin kita berani mendurhakaiNya, sedangkan ia Maha melihat semua tindakkan kita, semua yang kita lakukan. Bagaimana mungkin kita dapat berkata dusta, memfitnah orang lain dan mengeluarkan perkataan buruk lainnya yang dapat keluar dari lisan jika kita benar-benar beriman kepada sifat Maha mendengarnya Allah.
Selain kedua sifat diatas, diantara sifat wajib duapuluh adaah sifat Qadîr dan irādah, Maha kuasa dan Maha berkehendak. Semua takdir dan jalan hidup yang kita jalani, tentunya ada rasa senang dan sulit di dalamnya, semuanya sudah ditentukan oleh Allah Swt, kita bagaimanapun harus menerimanya. Orang yang sudah kuat mengimani kedua sifat diatas, maka keadaan susah dan senang baginya sama saja, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. Ada sebuah syair dari imam Syafi’i yang berbunyi:


دع الأيام تفعل ما تشاء ۞ وطب نفسا إذا حكم القضاء
ولا تجزع لحادثة الليالي ۞ فما لحوادث الدنيا بقاء

Biarkanlah hari-hari berbuat sesukanya

Lapangkanlah dada jika takdir sudah menentukan

Dan janganlah berputus asa karena suatu keburukan

Karena suatu keburukan di dunia ini tidaklah kekal

Pada intinya, sifat keimanan dan tekad yang kuat harus ditanamkan sejak muda. Tanpa keimanan, keyakinan, dan tekad kuat, apalah artinya hidup kita, semua rintangan akan diisi oleh rasa tidak terima dan keluhan yang tak ada habisnya. Tetaplah berusaha, kemudian serahkan semuanya kepada Allah Swt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here