Majelis Ulama Indonesia yang berdiri pada tanggal 17 Rajab 1395 H bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 adalah rahmat Allah SWT kepada bangsa Indonesia yang patut disyukuri. Majelis Ulama Indonesia hadir ke pentas sejarah Ketika bangsa Indonesia tengah berada fase kebangkitan Kembali, setelah selama 30 tahun sejak kemerdekaan energi bangsa terserap dalam perjuangan politik baik di dalam negeri maupun didalam forum internasional, sehingga kurang mempunyai kesempatan untuk membangun menjadi bangsa yang maju, dan berakhlak mulia.

Ulama di Indonesia menyadari dirinya sebagai ahli waris tugas-tugas para Nabi (waratsatul anbiya) pembawa risalah Ilahiyah dan pelanjut misi yang diemban Rasulullah Muhammad SAW. Mereka terpanggil Bersama-sama zuama dan cendikiawan muslim untuk memberikan kesaksian akan peran kesejarahan pada perjuangan kemerdekaan yang telah berikan pada masa penjajahan serta berperan akhtif dalam membangun masyarakat dan menyukseskan pembangunan melalui berbaai potensi yang mereka miliki dalam wadah Majelis Ulama Indonesia. Ikhtiar-ikhtiar kebajikan yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia senantiasa ditunjuk bagi kemajuan agama, bangsa dan negara baik pada masa lalu, kini, dan mendatang.

Ketika saya mengikuti kegiatan PKU (Pendidikan Kader Ulama) Angkatan VI di cisarua bogor pada 16-20 September 2020, disana para peserta diberikan materi yang amat luar biasa terlebih dengan para narasumber yang luar biasa dan saya pun dibuat terkagum dengan keluasan ilmu yang disampaikan para narasumber. Sesuai dengan tema “Kaderisasi Sebagai Sarana Motivasi Perjuangan Ulama”.

Kegiatan PKU VI MUI Kota Depok Tahun 1442 H/ 2020 M

Umat Islam adalah bagian terbesar dari bangsa Indonesia, maka wajar jika umat Islam memiliki peran dan tanggung jawab terbesar bagi kemajuan dan kejayaan Indonesia di masa depan. Namun, ada suatu hal yang tidak boleh dinafikan bahwa umat Islam masih menghadapi masalah Internal dalam berbagai, baik sosial, Pendidikan, Kesehatan, kependudukan, ekonomi, dan politik. Maka merujuk kepada Visi MUI, terciptanya kondisi kehidupan kemasyarkatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, memperoleh ridho dan ampunan Allah SWT, menuju masyarakat berkualitas (khoira ummah) demi terwujudnya kejayaan Islam dan kaum muslimin dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai manifestasi dari rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Visi da Misi MUI ternyata tidak hanya diemban oleh mereka yang datanya terstruktur dalam keorganisasian MUI saja namun, para santri juga termasuk yang diberikan tanggung jawab dalam menyebarkan pemahaman agama islam dalam bentuk memberikan contoh akhlak baik dan juga pehamaman agama islam yang santun, ramah dan merangkul. Saya dan para pesarta yang lain diberikan informasi tentang meyebara luasnya Aliran Menyimpang, Bermasalah, Sesat Dan Infiltrasi Ajaran Agama. Tema ini disampaikan oleh Ibu Rida Hesti Ratnasari, beliau Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Kota Depok, sekretaris Komisi Pengkajian Dan Penelitian MUI Pusat.

Ada faktor penyebab munculnya aliran sesat, terkhusus di Indonesia :

  1. Upaya mengaburkan ajaran Islam
  2. Ketidakmampuan memahami ajaran Islam dengan benar
  3. Karena motif dan kepentingan tertentu (popularitas, ekonomi, politik dll)
  4. Terpengaruh oleh pemikiran sesat
  5. gangguan kejiwaan

Adapun faktor kecenderungan mengikuti aliran sesat ada 2 faktor, faktor internal dan eksternal :

Faktor internal :

  1. Kekosongan akidah dan syari’at Islam
  2. Problem kehidupan yang melilit berakumulasi
  3. Kondisi sosial ekonomi yang buruk
  4. Eksklusif
  5. Beragama tanpa ilmu memadai
  6. Taklid

Faktor Eksternal :

  1. Ajarannya sesuai hawa nafsu
  2. Ajarannya sederhana, ringan  dan tidak banyak beban
  3. Menawarkan solusi instan dan jalan pintas selamat dunia dan akhirat
  4. Pengaruh relasi yang tidak selektif
  5. Tekanan orang lain
  6. Ajaran mengajarkan perubahan revolusioner

Dari sini kita sedikit dibuat untuk kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar ternyata ada tanggung jawab besar bagi seorang mubaligh tidak hanya Ketika berdakwah saja tanggung jawab seorang mubaligh yang mengerti agama akan terus diminta meskipun ia telah turun dari podium. Masih banyak masayrakat yang terabaikan dalam penanaman akidah sehingga ada sekelompok yang tidak bertanggung  jawab ingin merusak akidah seorang muslim, apalagi kalau sudah dikaitkan dengan ekonomi, seakan mereka bisa membeli akidah seseorang dengan harga murah.

Para ulama, zuama dan cendikiawan muslim menyadari bahwa negara Indonesia memerlukan Islam sebagai landasan bagi pembangunan bermasyarakat yang maju dan berakhlak. Keberadaan MUI adalah salah satu konsekuensi logis dan prasyarat bagi berkembangnya hubungan harmonis antara berbagai potensi untuk kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

Maka Para santri juga harus lebih bersikap kritis tentang kondisi umat saat ini, Indonesia ini  adalah pasar bagus, barang apa saja yang ditawarkan kepada masyarakat selalu saja ada peminatnya. Dan pembekalan yang didapatkan di pondok pesantren harus benar-benar kuat, jangan sampai malah para santri yang goyah dan terbawa arus oleh pemahaman yang menyimpang. Maka  tanggung jawab para santri sama halnya dengan visi misi  dan orientasi Majelis Ulama Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here