Kiai Ali Mustafa dilahirkan di desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada tanggal 2 Maret tahun 1952. Beliau lahir dari pasangan Kiai Yaqub dan Siti habibah.
Ali Mustafa kecil, tak pernah terbersit dalam dirinya bahwa dia kelak akan menjadi ulama kenamaan. Justru cita-cita beliau sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di masa yang akan datang, cita-cita Ali Mustafa kecil adalah menjadi seorang dokter.
Beliau memulai pendidikannya di sekolah rakyat (SR) yang tak jauh dari rumahnya. Tamat sekolah tingkat dasar, Ali Mustafa melanjutkan ke SMP, saat itulah beliau mulai mengenal pesantren sekaligus mencicipinya.
Hampir ketujuh anak Kiai Yaqub nyantri di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Dari tujuh anaknya hanya dua yang tidak nyantri. Pendidikan Kiai Ali Mustafa meliputi Pesantren Seblak, Tebuireng, IKAHA, S1 dan S2 di Saudi Arabia, S3 di Universitas Nizamia Hyderabad India. Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak adalah tempat awal beliau nyantri, meski ketika SMP beliau pernah nyantri juga, ibaratkan ketika itu hanya santri kalong.
Banyak hal yang diperoleh Ali Mustafa muda saat nyantri di Seblak, diantaranya adalah ilmu alat, fikih, hadis, dan ilmu lainnya.
Setelah selesai di Seblak, Ali Mustafa tak langsung pulang, namun melanjutkan nyantrinya ke pesantren Tebuireng, Jombang. Disana beliau menempuh Madrasah Aliyah Syafiiyah Tebuireng selama tiga tahun, mulai dari tahun 1969 hingga 1972.
Tidak hanya mondok, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Fakultas Syariah IKAHA Tebuireng mulai dari dari 1972-1975. Selain kuliah, beliau pun menekuni kitab-kitab kuning di bawah bimbingan kiai sepuh.
Selama di Tebuireng ini Ali Mustafa banyak bertemu dengan kiai-kiai hebat dan kharismatik, serta belajar pada mereka. Diantara ulama-ulama hebat ini adalah, Kiai Idris Kamali, Kiai Adhlan Ali, Kiai Shobari, Kiai Sansuri Badawi, dan Kiai Syuhada Syarif. Dan diantara mereka yang paling berpengaruh dalam proses belajarnya adalah Kiai Idris Kamali.
Ali Mustafa sering menyebut dirinya dengan “Tukang Pijit Kiai Idris.” Tatkala beliau ingin berguru pada Kiai Idris, Kiai Idris bertanya kepada Ali Mustafa, “Siro mau apa?” (Kamu mau apa?”), “Namamu siapa?” “Hafalkan sepuluh kitab, ya?”
Seketika Ali Mustafa terdiam membisu mendengar perintah ini, namun tetap ia jalankan. Sepuluh kitab itu adalah Matan al-Jurumiyah, Matan al-Kailany, Nadzom al-Maqsud, Nadzom al-Imrithy, al-Amtsilah Tasrifiyyah, Alfiyah, al-Baiquniyyah, dan al-Waraqat.
Setelah lulus, Ali Mustafa diminta untuk mengabdi mengajar bahasa arab untuk santri tingkat Sekolah Persiapan (SP) Tsanawiyah ketika itu. Beliau sangat handal dalam mengatur waktunya, tak ada kata nganggur, setiap waktu selalu digunakan dengan hal yang bermanfaat.
Di usianya yang ke-24, Ali Mustafa mendapat panggilan untuk melanjutkan studinya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Muhammad bin Saudh, Saudi Arabia. Beliau memperoleh pendidikan ini setelah melalui jalur murosalah (korespondensi) atau pengajuan lamaran jarak jauh via pos. ali Mustafa menyelesaikan S1 dengan ijazah Licence pada tahun 1980.
Selepas pendidikan S1, beliau tak langsung pulang ke tanah air, jiwa haus akan ilmunya masih menggebu-gebu. Kiai Ali masih ingin melanjutkan studinya di Arab Saudi. Akhirnya beliau melanjutkan studinya di S2 Universitas King Saud, Departemen Studi Islam jurusan Tafsir Hadis, sampai lulus dengan mendapat ijazah Master pada tahun 1985.
Tahun 1985, Kiai Ali Mustafa pulang ke Indonesia dan mengakhiri studinya, namun jiwa menuntut ilmunya belum surut juga, akhirnya berkat saran gurunya, Syaikh Hasan Hitou, beliau pun melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Nizamia, Hyderabad, India, pada tahun 2005. Studi ini tidak bersifat resindensial atau belajar di kampus, namun melalui komunikasi jarak jauh.
Studi ini rampung setelah beliau menulis disertasinya yang berjudul Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa al-Sunnah (Kriteria Halal-Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadis).
Disertasi ini diujikan di Indonesia, karena kesibukan Kiai Ali adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, maka disertasi pun diujikan di masjid Istiqlal, Jakarta.
Gelar doktor tak menyurutkan dahaga beliau dalam menuntut ilmu, maka beliau memiliki semboyan hidup “Nahnu Thullabul’Ilmi Ila Yaumil Qiyamah” (Kami adalah penuntut ilmu hingga hari kiamat).
Ulama yang Produktif
Dilihat dari beberapa buku yang beliau tulis, dapat dihitung bahwa Kiai Ali Mustafa termasuk ulama yang produktif. Beliau memiliki motivasi untuk selalu berkarya. Santrinya sangat beliau anjurkan untuk menulis, maka tak salah wejangan beliau sangat akrab sekali di telinga para santrinya, yaitu “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimun” (Janganlah kalian mati kecuali menjadi penulis).
Hingga akhir hayatnya Kiai Ali telah menulis 49 buku, namun ada juga buku terakhir yang terbit pasca wafatnya beliau, hasil transkip dari ceramah-ceramah pak Kiai, maka jadilah jumlah buku itu berjumlah 50 buku.
Diantara buku yang fenomenal adalah Haji Pengabdi Setan (2006) dan Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa as-Sunnah (2010).
Kiai Ali Mustafa Yaqub wafat pada 28 April 2016. Mari sejenak bacakan suratal-Fatihah untuk beliau. al-Fatihah
(Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di nu.or.id)
Oleh: Amien Nurhakim

Categories: Tokoh

Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *