Muhammad Syakir, santri asal Cirebon ini mengikuti program konferensi pelajar Asia Tenggara, Timor Leste, dan Jepang (Jenesys) di Tokyo, Jepang. Santri pondok pesantren Buntet ini selama delapan hari berada di Jepang mendiskusikan persoalan lansia yang menjadi masalah besar bagi Jepang saat ini dan negara-negara Asia Tenggara. Selain Lansia, konferensi juga membahas tema lainnya, seperti gender, energi, kesehatan, agrikultur, dan desain komunitas.
Selain konferensi, Syakir bersama 11 delegasi Indonesia lainnya juga mengikuti kegiatan lain yang diagendakan panitia yang terdiri dari Japan International Cooperation Center (JICE) dan Multilateral Interactions with Students (MIS) Tokyo University untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah, seperti Edo Tokyo Museum, Asakusa Shrine, Meiji Shrine, dan Tokyo Tower.
Di samping itu, hal menarik lainnya, para peserta diajak untuk makan di restoran dengan pemandangan yang sangat menarik, seperti di restoran yang berada di lantai 29 hingga lantai 52.
Saya menyerahkan peci kepada salah satu mahasiswa Tokyo University, yakni Katsuhiro sebagai tanda mata baginya. Peci sebagai satu identitas keindonesiaan dan kesantrian, sekaligus syiar pesantren khas Indonesia.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *