Sebagaimana aforisma yang masyhur di telinga kita, “Be your self,” maka “Jadilah ranking pertama pada bakat yang kamu sukai.”
Sebenarnya kedua aforisma diatas bukan berasal dari saya sendiri. Namun saya dapatkan dari kata-kata di yang muncul di sela-sela pembicaraan maupun bacaan yang saya baca. Aforisma pertama saya dapatkan ketika masa-masa mondok di pesantren, saat masih duduk di madrasah Tsanawiyah. Aforisma selanjutnya saya dapatkan ketika wisuda Qur`an di pondok tempat saya tinggal sekarang.
Kalian tentu akrab dengan sistem Pendidikan di sekitar kalian. Saya pun begitu. Ya, di sekolah kita, tidak semua sekolah di Indonesia pastinya, prestasi di kelas atau ranking adalah sebuah kompetisi dan ukuran keberhasilan. Ukuran kesuksesan seseorang adalah ranking yang ada di raport. Parahnya, orang-orang yang posisi rankingnya berada di paling bawah seakan-akan dianggap sampah. Tak memiliki keahlian sama sekali.
Terlintas di ingatan saya, melihat teman-teman di sekolah dasar dulu banyak memiliki karakter yang berbeda. Ada yang hobby belajar, ada yang hobby olahraga, ada juga yang hobby bernyanyi. Namun kita semua sepakat, yang terbaik adalah yang ranking satu. Karena asumsi yang selalu ditekankan di otak kita adalah ranking satu yang terbaik. Pengalaman tersebut berlanjut hingga saya lulus dari tingkat Aliyah.
Saat saya memasuki dunia perkuliahan, saya menemukan IPK dan nilai-nilai semacamnya seperti di sekolah dulu. “Ya mungkin seperti ini sistem Pendidikan di Indonesia.” Ucap saya membatin.
Berlanjut ke semester 2, saya mendapatkan mata kulian metode mengajar. Pengajarnya adalah dosen lulusan Mesir, dan beliau adalah dosen favorit saya, wawasannya sangat luas dan penyampaianya mudah diserap otak. Intinya di dalam kelas saya sangat menikmati mata kuliah tersebut. Disana saya baru menyadari bahwasannya

Pendidikan bukanlah soal bersaing menjadi yang terbaik, bukan soal melebihi orang lain. Namun bagaimana menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya.

Bayangkan jika dalam satu kelas terdapat banyak individu yang memiliki skill atau bakat yang berbeda-beda. Misal si A memiliki bakat melukis, si B memiliki bakat memasak, si C memiliki bakat menyanyi, si D memiliki bakat bermain bola, dst. Jika melihat mereka hanya dari satu sisi, dan meremehkan sisi lainnya maka sang murid merasa bahwa dirinya tidak memiliki bakat apapun. Bahkan hobby atau bakatnya saja tak ada yang mengapresiasi. Apresiasi hanya bagi orang-orang yang mendapatkan nilai dan ranking yang tinggi.
Namun jika bakat dan skill tersebut diolah, diapresiasi serta diayomi, barangkali si A tadi akan menjadi seorang pelukis terkemuka dengan lukisannya yang sangat indah, si B akan menjadi seorang koki yang banyak membuat resep masakkan yang kreatif serta inovatif, si C akan akan menjadi musisi terkenal dengan bakat musiknya, si D akan menjadi pemain sepak bola professional yang dibanggakan negeri ini. Bayangkan!
Mungkin kita sering melihat di video-video di Instagram atau Youtube, anak-anak berumur delapan tahun keatas sudah disekolahkan di akademi sepakbola, bahkan pemain sepakbola terbaik dunia, Lionel Messi sejak berumur lima tahun sudah bermain di salah satu klub asuhan ayahnya. Mungkin kita bertanya-tanya, “Loh, kok mereka lebih sering main bola daripada masuk sekolah, malahan mereka masuk sekolah sepakbola, apa nggak ngabisin uang.”
Jawabannya adalah justru karena itu bakat mereka memang di bidang tersebut. Tulisan ini bukanlah sebuah intruksi untuk kalian berhenti dari sekolah ataupun perkuliahan yang sedang para pembaca kenyam. Namun tumbuhkanlah kesadaran bahwasannya kita memiliki bakat yang berbeda-beda antar individu kemudian kembangkanlah.
Menobatkan seseorang menjadi ranking satu memang baik, namun di sisi lain hal tersebut barangkali menumbuhkan rasa bahwa ia lebih baik dari teman-teman sekelasnya, dan ini bukanlah tujuan Pendidikan.
Semua orang memiliki hak untuk mendapatkan Pendidikan. Pendidikan yang menopang bakat dirinya. Dan inilah hakikat dari fastabîqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Kita harus mengubah cara pandang kita. Bahwasannya Pendidikan adalah ajang untuk saling melengkapi, bukan kompetisi individual. Bagaimana kita menciptakan si A, B, C menjadi pelengkap bagi si D, E, dan F.
Lalu, setelah kita mengembangkan bakat kita masing-masing, jangan lupa untuk berdoa dan tawakkal kepada Gusti Allah SWT yang menentukan hasil akhir dari segala usaha kita semua.
Salam sahabat santri, semoga termotivasi!


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *