Sebagian dari kita sudah tak asing lagi dengan sosok ulama panutan umat ini. Ahmad Hasyim Muzadi atau kita lebih akrab menyebutnya dengan Kiai Hasyim Muzadi. Beliau lahir di Bangilan, Tuban, Jawa Timur, 8 Agustus 1944 dari pasangan H. Muzadi dan Hj. Rumyati.
Kiai Hayim kecil mengenyam Pendidikan di sekolah dasar sebagaimana biasanya, kemudian setelah tamat beliau melanjutkan ke SMP. Namun tak lama, beliau berhenti dari SMP kemudian melanjutkan pendidikannya di pesantren. Pesantren yang ditujunya adalah Pondok Pesantren Gontor.
Tak berhenti di pesantren Modern, beliau melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren (PP) Senori, Tuban, Jawa Timur dan Lasem di Jawa Tengah. Barulah setelah matang keilmuannya, beiau
Setelah mematangkan keilmuan di pesantren, ia meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang, Jawa Timur (sekarang UIN Malang).
Kiai Hasyim muda sangatlah aktif dalam organisasi, salah satunya adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Selain PMII, beliau juga bergabung menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan. Dari sana, ia menjadi anggota DPRD Malang dan juga DPRD Jawa Timur.
Pada tahun 1992, Hasyim terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Karirnya terus menanjak pada tahun 1999, ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU selama dua periode sampai tahun 2010.
Kiai Hasyim pernah diminta sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2004. Hasilnya memang belum memuaskan dan yang menang saat itu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.
Di awal berjalannya kabinet baru presiden terpilih Joko Widodo, Kiai Hasyim diminta untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama sembilan orang lainnya utuk periode 2015-2019.
Diantara nasihat Kiai Hasyim Muzadi yaitu:

  • Orang yang tidak berbuat apapun, untuk kemaslahatan umat, justru akan dililit oleh permasalahannya sendiri.
  • Orang yang tidak memperjuangkan umat tidak akan kekurangan, dan orang yang memperjuangkan diri sendiri belum tentu berlebihan

Keikhlasan itu tidak nampak dan tidak perlu ditampak-tampakkan. Tetapi Allah akan menampakkan hasil dari keikhlasan itu

PENDIDIKAN

  • Madrasah lbtidaiyah Tuban-Jawa Timur, Tahun 1950-1953
  • SD Tuban-Jawa Timur, Tahun 1954-1955
  • SMPN I Tuban-Jawa Timur, Tahun 1955-1956
  • Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo-Jawa Timur, Tahun 1956-1962
  • Pondok Pesantren Senori, Tuban-Jawa Timur, Tahun 1963
  • Pondok Pesantren Lasem-Jawa Tengah, Tahun 1963
  • IAIN Malang-Jawa Timur, Tahun 1964-1969

KARIER

  • Pelajar Islam Indonesia (PII), 1960-1964
  • Ketua Ranting NU Bululawang-Malang
  • Ketua Anak Cabang GP Ansor Bulul,awang-Malang, 1965
  • Ketua Cabang PMII Malang, 1966
  • Ketua KAMI Malang, 1966
  • Ketua Cabang GP Ansor Malang, 1967-1971
  • Wakil Ketua PCNU Malang, 1971-1973
  • Ketua DPC PPP Malang, 1973-1977
  • Ketua PCNU Malang, 1973-1977
  • Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, 1983-1987
  • Ketua PP GP Ansor, 1985-1987
  • Sekretaris PWNU Jawa Timur, 1987-1988
  • Anggota DPRD Tingkat II, Malang-Jawa Timur
  • Anggota DPRD Tingkat I, Jawa Timur 1986-1987
  • Wakil Ketua PWNU, Jawa Timur 1988-1992
  • Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur
  • Ketua PWNU Jawa Timur, 1992-1999
  • Ketua Umum PBNU, 1999-2004, 2004-2010
  • Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, 2015-2019

Karya KH Hasyim Muzadi

  1. Membangun NU Pasca Gus Dur, Grasindo, Jakarta, 1999.
  2. NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa, Logo, Jakarta, 1999.
  3. Menyembuhkan Luka NU, Jakarta, Logos, 2002.

Beliau wafat pada hari Kamis, 16 Maret 2017 di Malang, Jawa Timur pada pukul 06.00 WIB dan dimakamkan di rumah duka, Pesantren Mahasiswa al-Hikam, Depok. Semoga Allah menempatkannya di surga-Nya. Amiin
*dari berbagai sumber

Categories: Tokoh

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *