Belanda identik dengan sepeda. Di setiap ruas jalan, mau itu jalan besar maupun jalan kecil, hampir tidak mungkin kita tidak berjumpa dengan sepeda. Bahkan, menurut informasi yang saya dapat dari program kursus akulturasi dan Bahasa Belanda yang diadakan oleh Nuffic Neso dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, ‘jumlah sepeda di negeri kincir angin tersebut jauh lebih banyak dari jumlah penduduknya’. Menarik bukan?

Berspeda di Belanda memang mengasyikkan. Selain karena bersepeda telah menjadi tradisi warga Belanda, fasilitas negara untuk menunjang kenyamanan dan keselamatan kaum bersepeda pun sangatlah baik. Ruas jalan sepeda disediakan khusus, umumnya berwarna merah. Fasilitas rambu-rambu lalu lintas penunjang jalan khusus sepeda pun cukup baik. Pengguna sepeda seperti dimanjakan. Sehingga wajar jika ada pernyataan dari orang Belanda yang sering saya dengar, ‘Pengendara sepeda adalah raja di jalanan Belanda’. Juga wajar saja kalau ada yang berpendapat, termasuk saya sendiri, ‘Belanda adalah surganya bersepeda di dunia’.

Sejauh pengamatan saya, ada 3 (tiga) alasan utama mengapa orang-orang di Belanda cenderung lebih senang bersepeda daripada menggunakan moda transportasi darat lainya. Ohya, perlu dipahami, maksud kebiasaan bersepeda ini bukan berarti orang Belanda anti/alias tidak pernah menggunakan moda transportasi darat lainya, tetapi lebih kepada meminimalisir penggunaan transportasi darat seperti bus, tram, mapun kereta api, dan lebih memilih menggunakan sepeda, khususnya untuk jarak tempuh yang dekat dan tidak sampai berjam-jam.

Alasan pertama, bagi orang belanda, bersepeda tidak hanya sekedar tradisi biasa, tetapi juga upaya menjaga kesehatan badan dan lingkungan. Semenjak kecil, anak-anak di Belanda telah dididik oleh orang tua dan guru di sekolahnya untuk mau bersepeda sambil dijelaskan manfaat bersepeda bagi diri dan lingkungan. Bersepeda, pastinya, mempunyai manfaat luar biasa bagi kesehatan tubuh kita karena merupakan salah satu bentuk olahraga paling nyata yang memungkinkan pembakaran kalori dan lemak dalam tubuh manusia. Lebih jauh lagi, bersepeda juga mempunya dampak langsung bagi kesehatan lingkungan sekitar. Ini terbukti, tingginya angka pengguna sepeda di Belanda telah membuat negara ini menjadi salah satu negara dengan tingkat polusi udara terendah di dunia.

Kedua, biaya transportasi darat yang cukup mahal. Dibanding dengan sejumlah wilayah eropa lainya yang pernah saya kunjungi, biaya transportasi darat di Belanda tergolong cukup mahal. Sebagai contoh, ongkos paling murah untuk gunakan bus/tram jarak dekat sekali jalan adalah kurang lebih 2 euro (setara Rp. 30.000, jika gunakan kurs 1 euro: 15.000). Sepintas, angka 2 euro memang tidak terlalu besar, tetapi kalau diakumulasikan berkali kali, tentu biaya tersebut akan menjadi semakin besar dan mahal.

Ketiga, biaya parkir kendaraan yang juga cukup mahal. Tingginya biaya parkir di Belanda jugaa disinyalir menjadi salah satu alasan mengapa orang-orang di Belanda cenderung memilih bersepeda daripada membawa kendaraan pribadi mereka. Data yang saya dapat dari Sindonews.com (07/02) menempatkan Amsterdam, Belanda sebagai wilayah dengan biaya parkir termahal ke 6 di dunia setelah Sydney, London, New York, Brisbane, dan Paris. Biaya parkir di pusat kota Amsterdam, contohnya, bisa berkisar 6 euro (sekitar Rp. 90.000) per satu jamnya. Kita pun tidak bisa coba-coba parkir sembarangan di samping jalan tanpa menggunakan jasa sistem parkir kendaraan di setiap wilayahnya, karena jika sistem online/CCTV parkir mendapati kendaraan kita tidak tercatatkan dalam sistem mesin parkir tersebut, kita akan dikenai denda dengan harga puluhan euro (ratusan ribu rupiah).
Yakin, masih gak mau pilih bersepeda saat di Belanda? hehe

Dito Alif Pratama
Alumnus Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *