Setiap orang pasti pernah mencari cara bagaimana agar hidupnya senang, gembira, bahagia dan santai tanpa beban. Apa pun caranya akan mereka cari. Terkadang kesenangan ada di dalam tamasya, menjelajahi sana-sini, mendaki gunung bersama teman-teman, bermain game sampai tak tahu waktu, pergi berbelanja ke mall-mall besar, dan semacamnya. Intinya senang. Selesai.
Mencari kesenangan tak lepas dari dua hal, positif dan negatif. Semoga saja kita tak mencari kesenangan kepada ranah yang negatif. Lantas, cara sederhana apakah yang membuatmu merasa senang?
Sederhana saja, dalam sebuah aforisma arabi disebutkan,

“Man as’adun nâsi? Man ‘asadan nâsa”
(siapakah orang yang paling senang? Adalah ia yang membuat senang orang lain).

Ada kata dalam pertanyaan dan jawaban yang hampir sama, akan tetapi ada sedikit perbedaan harakat awal dalam kalimat as’adu dan as’ada, yang keduanya itu memiliki arti yang berbeda. Kata as’ada pertama bentuknya isim tafdhil dan yang kedua adalah fi’il madhi dengan wazan af’ala.
Ketika kita berbuat kebaikan kepada orang lain serta ikhlas melakukannya, maka timbulah rasa senang dan bahagia dalam hati secara otomatis.
Barangkali kalian pernah bersedekah kepada seorang pengemis dengan suka rela, tidak terpaksa, tiba-tiba saja perasaan senang muncul tanpa disadari.
Atau kalian pernah dimintai pertolongan oleh teman kalian yang sedang berada dalam kesulitan. Tanpa berpikir Panjang dari lubuk hati terdalam secara sigap kalian langsung membantunya. Dengan terenyuh rasa senang hati tiba-tiba saja hadir dalam hati, mengalir melalui senyuman sederhana dalam bibir. Ya itulah cara sederhana membuat diri sendiri menjadi bahagia.
Dalam kitab Ibnu Abi Dunya, terdapat hadis Rasulullah Saw yang berbunyi:

أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا

“Sebaik-baik amal Shalih adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman.” (HR.Ibnu Abi Dunya, Jamiush Shaghir)
Dalam hadis lain disebutkan, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
Dan dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis-hadis diatas memiliki poin-poin penting, diantaranya adalah pentingnya menolong saudara kita. Siapapun yang menolong saudaranya maka akan ditolong oleh Allah. Barangkali, bentuk kebahagiaan tidak mesti satu bentuk saja. Ia berupa macamnya. Termasuk ketika Allah menolong kita dalam hajat dan kebutuhan kita. Bukankah hal tersebut adalah kebahagiaan. Tentu saja.
Semoga kita dapat lebih banyak lagi membantu orang lain, membuat hatinya senang. Mungkin saja dengan wasilah tersebut hidup kita akan menjadi semakin mudah, dan tentu saja senang.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *