Setiap perjalanan sudah barang tentu mempunyai pelajaran dan pengalaman tersendiri. Begitupun dengan perjalanan ke Israel-Palestina yang saya ikuti melalui program Internship and Field trip yang diselenggarakan oleh Amsterdam Center for Religion, Peace, and, Justice VU Amsterdam, 2017 lalu.

Diantara pengalaman hidup yang tidak saya lupakan setelah mengikuti program short visit kurang lebih 2 minggu tersebut adalah pesan tentang pentingnya merawat dan meruwat cinta pada tanah air dan pentingnya menyemai nilai-nilai toleransi antar umat beragama.

Bagi rakyat Palestina, tidak ada hal yang paling membahagiakan saat ini dan paling mereka inginkan selain kemerdekaan yang utuh bagi negaranya. Rakyat Palestina saat ini hidup dalam penjajahan. Israel yang menjadi penjajahnya. Penjajahan tersistem yang hampir tidak ada yang tau kapan ujungnya. Penjajahan tersebut pun makin membabi-buta. Terlebih, setelah Israel membangun tembok pemisah (segregation wall). Saya lebih senang menyebutnya tembok apartheid, karena sistem yang diberlakukan layaknya model racial segregation (pemisahan ras) di Afrika Selatan beberapa puluh tahun silam.

Tembok apartheid yang menjulang tinggi dan kokoh sepanjang kurang lebih 725 KM ini dibangun untuk untuk memisahkan mana wilayah yang bisa menjadi akses utama rakyat Israel dan mana wilayah yang menjadi daerah khusus warga Palestina. Perbedaan dari kedua wilayah tersebut sangatlah nyata. Sarana dan pra sarana di kedua wilayah tersebut sungguh jauh berbeda, wilayah Israel umumnya lebih subur, sanitasi air bagus, akses pendidikan dan rumah sakit mumpuni, jauh berbeda dari wilayah yang dihuni masyarakat Palestina yang serba seadanya dan jauh dari kata sejahtera.

Suara lantang akan kemerdekaan yang disuarakan rakyat Palestina dan berbagai negara di seluruh penjuru dunia pun terus digalakkan. Namun semuanya seakan mentah di hadapan tembok besar PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Aktifitas PBB saat ini banyak disponsori oleh Amerika, baik untuk anggaran berkala maupun penjagaan perdamaian (Republika.co.id, 24/12/18). Bahkan, Amerika Serikat yang menyutujui Jerusalem sebagai ibukota Israel, walau ditentang banyak negara di dunia, pun adalah salah satu pendonor terbesar bagi PBB untuk mengurusi urusan pengungsi Palestina (UNRWA). Jadi wajar saja, jikalau hegemoni Amerika terhadap PBB begitu kuat. Termasuk dalam urusan ‘mempersulit’ dan ‘memperlambat’ pemberian pengakuan kemerdekaan rakyat Palestina.

Imbas dari penjajahan Israel atas Palestina tersebut, warga Palestina hidup dalam ketidakamanan, kemiskinan, hingga keterbatasan. Bagaimana bisa hidup tenang kalau tiap harinya suara senapan berdentuman, gas air mata yang selalu mewarnai udara atau juga bom yang siap meledak kapan saja dimana saja. Nyawa manusia seperti barang murah yang bisa digadai dan dihilangkan begitu saja.
Rakyat palestina juga menjadi miskin. Mereka Miskin ilmu dan miskin harta. Miskin ilmu karena akses belajar bagi warga dan khususnya bagi anak-anak Palestina untuk belajar di sekolah sangat terbatas. Miskin harta, karena memang lapangan pekerjaaan sangatlah minim. Ada diantara mereka mempunyai sawah dan ladang. Namun sawah dan ladang tersebut banyak yang gagal panen lantaran kering kerontang yang disebabkan kekurangan pasokan air. Bahkan, tidak sedikit sawah dan ladang tersebut yang dirampas secara paksa oleh tentara Israel.

Yang lebih menyedihkan dari itu semua adalah akses warga Palestina untuk beribadah pun menjadi sulit. Untuk umat Islam, jangankan bisa berkunjung ke Masjid Al-Aqsa, untuk melaksanakan jamaah Jum’at dan shalat lima waktu di masjid terdekat pun sangat susah. Tidak sedikit masjid yang pugar dengan check point yang dijaga ketat oleh tentara Israel, salah satunya adalah masjid Ibrahim, di Hebron.

Saya kutip curahan hati warga Palestina dalam sebuah poster yang saya dapati di sepanjang tembok apartheid di wilayah Betlehem. Tulisan ini dibuat oleh Um Mohammed, seorang warga Palestina yang tinggal di Beit Sahour. Ia tegaskan:
‘Once during the first Intifada, the Israeli army imposed a strict curfew on my hometown, Beit Sahour. People were forbidden to go out even for prayers in the mosque or the church. My mother was very pious and she insisted that she would not miss any Friday prayers in the Mosque. She used to say ‘ I fear nobody except God’.
Kurang lebih arti dalam bahasa Indonesianya adalah: ‘Suatu waktu setelah Intifada satu, tentara Israel menerapkan sebuah peraturan tentang aktifitas di luar rumah yang keras di kampung halaman saya, Beit Sahour. ‘Orang-orang dilarang untuk pergi keluar rumah sekalipun untuk melakukan ibadah di masjid ataupun gereja. Ibu saya adalah seorang (muslimah) yang sangat taat dan dia berazzam untuk tidak meninggalkan satupun shalat Jumat di Masjid. Ia biasanya berkata ‘ saya tidak takut pada siapapun, kecuali pada Tuhan’.

Ada juga curhatan lainya yang tidak kalah menyayat hati:‘
This Land, my children, is like a mother, it is the soul, give to it and it will give you in return. This land is all you have; it is for you and for your children after you.’ Wahai anak-anakku, tanah ini layaknya seorang ibu, ia adalah jiwa, berikan (cinta kasihmu) padanya dan dia akan kembali memberimu imabalan balasan cinta. Tanah ini adalah milikmu; untukmu dan untuk anak-anakmu kelak’ (Abu Ahmed, Al Walajeh)
Saya ingin kembali tegaskan bahwa sesunggungnya konfllik yang terjadi di Israel-Palestina saat ini bukanlah semata-mata konflik antar agama sebagaimana dipahami oleh sejumlah masyarakat di tanah air. Sesekali, perbedaan latar agama, memang dijadikan bahan bakar untuk menyulut konflik. Karena memang konflik antar agama selalu dianggap ‘seksi’ dan menjadikan perbedaan agama untuk ‘manas-manasi’ tensi konflik hingga memantik empati warga setempat maupun warga dunia terbukti cukup ampuh dan berhasil.
Sejauh pengamatan saya, akar penyebab konflik ini adalah perebutan tanah kekuasaan untuk dijadikan tempat tinggal/negara. Dalam hal ini yang menjadi dua aktor utamanya adalah rakyat Palestina (terdiri dari mayoritas Muslim dan Kristiani) dan warga Israel yang umumnya didominasi oleh umat Yahudi. Adalah naluri manusia ingin mempunya tanah dan wilayah untuk mereka bernaung bersama dengan mereka. Ibnu Khaldun pun dalam magnum opusnya, Mukaddimah, menjelaskan secara gamblang tentang teori Ashabiyah, adalah lumrah manakala manusia mempunya naluri untuk ingin selalu berkumpul, berserikat dengan mereka yang berasal dari latar belakang kehidupan yang sama, entah karena latar agama, suku, maupun bangsa.
Sungguh, beruntung sekali kita hidup di Indonesia, negara yang damai dan jauh dari perang langsung dan konflik berkepanjangan. Oleh Karena tidak adanya perang dan konflik berkepanjangan itulah kita masih dapat berkumpul dengan aktifitas dengan tenang, belajar dan bekerja dengan suka cita, menulis dan membaca dimana saja juga tentunya bahagia berkumpul dengan keluarga tiap harinya. Bagaimana dengan rakyat Palestina? Kebahagiaan semacam itu nampak sirna dan jauh dari pandangan mata.
Karenanyatidak ada asalan untuk kita tidak mencintai negara ini, menjaga sepenuh hati negara ini dari apapun ancaman yang mencoba untuk merongrong persatuan dan kesatuan bangsa, apalagi sampai hati ingin merubah ideologi bangsa, Pancasila.
Tugas kita saat ini hanyalah belajar, terus belajar dan berkarya untuk kemajuan indonesia sesuai dengan jalan dan bidang yang ditekuninya. Tentang Pancasila? Semuanya sudah rampung. ideologi ini sudah paripurna, tidak perlu diperdebatkan. Ini warisan pendiri bangsa dan pedoman hidup paling nyata untuk wujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Hanya tinggal bagaimana kita meresapi nilai-nilai yang terkandung dalamnya untuk kita jewantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sambil tidak lupa kita pikirkan solusi nyata untuk bantu wujudkan kemerdekaan Palestina.
Dito Alif Pratama
Alumnus Vrije Universiteit Amsterdam


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *