Perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari harapan dan impian, untuk mencapai apa yang diharapkan tentunya harus ada pembekalan yang cukup. Laksana seorang pendaki yang hendak berpetualang menelusuri gunung dan hutan belantara, untuk menuju pendakian yang diingankannya ia pun harus mempersiapkan segala pembekalannya, dari mulai makanan, alat masak, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Selain itu, ia pun harus mempersiapkan mental dan fisiknya untuk menghadapi tantangan dan risiko yang akan menghadangnya selama di perjalanan.

Dengan demikian, jika kita tahu bahwa hidup ini tidak terlepas dari tantangan dan risiko maka tentunya kita pun harus siap dengan segala pembekalan untuk melaluinya. Usaha, doa, dan tawakal merupakan bekal untuk menghadang tantangan tersebut, maka sangat tidak tepat seseorang dalam mengarungi perjalanan hidup hanya mengandalkan salah satu dari tiga rangkaian prosedur ini. Tidak tepat hanya mengandalkan usaha tanpa dibarengi doa, pun sebaliknya tidak tepat hanya doa tanpa ada usaha, keduanya harus berjalan beriringan.

Setelah keduanya dilakukan, jangan lupa ada satu prosedur lagi yang harus dilalui, yaitu tawakal. Allah swt berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya;

Jika engkau telah membulatkan tekad untuk menggapai sesuatu maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Syekh Wahbah al-Zuhayli mengartikan kata tawakal dengan;

الاعتماد على الله في كل أمر

 “Menggatungkan semua urusan kepada Allah swt.”

Imam al-Qurtubi mengartikan kata tawakal dengan;

الِاعْتِمَادُ عَلَى اللَّهِ مَعَ إِظْهَارِ الْعَجْزِ

“Bergantung hanya kepada Allah dengan menunjukan rasa ketidakberdayaan di hadapan-Nya”   

Konteks ayat di atas dalam hal perintah bermusyawarah, di mana musyawarah menjadi kewajiban dalam menentukan keputusan, kebijakan apapun mesti diolah melalui musyawarah. Selain sebagai wadah bertukar pikiran, musyawarah juga sebagai bentuk usaha atas harapan terwujudnya kemashlahatan dan jalan yang terbaik.  Bila seseorang bertawakal atas apa yang telah diusahakannya, maka ia tidak akan mengalami kekecewaan mendalam bila impiannya belum atau tidak tercapai, karena sejatinya orang yang tawkal menyerahkan segala bentuk usahanya hanya kepada Allah swt dan rela menerima segala ketetapan-Nya. Oleh sebab itu, Allah swt mencintai hamba-hamba-Nya yang bertawakal.

Terkadang banyak hal yang diasumsikan oleh seseorang baik padahal meurut Allah swt sebaliknya, bisa jadi belum waktuya atau ada hal lain yang meurut-Nya lebih baik dibanding dengan dugaan hamba-Nya tadi, laksana seorang anak kecil yang merengek-rengek meminta pisau depan ibunya untuk ia mainkan, apakah ibu tersebut rela untuk memberikan pisau kepada anaknya? Tentu tidak! Alasannya ibu tersebut semata-mata bukan berarti tidak sayang melihat anaknya nangis, tapi justru ibu itu sayang kepada anaknya dengan tidak memeberikan pisau kepadanya karena belum waktunya dan jika dilaksanakan keinginan anak tersebut, tentu dapat membahayakannya.

Ragam Harapan  

            Harapan muncul dalam diri sesorang tentunya untuk meraih impian. Terdapat banyak harapan yang dimiliki oleh manusia baik di dunia maupun di akhirat, nyaris tidak ditemukan orang yang tidak memiliki harapan, baik dalam skala kecil maupun besar, dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Harapan laksana kebutuhan yang terbagi menjadi tiga bagian;

  1. Primer, para ulama menyebutnya dengan Dharûriyyât, yakni harapan pokok manusia. Contohya, sesorang berharap ingin memiliki tempat tinggal, sandang, pangan yang cukup, sehat jasmani dan rohani.
  2. Sekunder, para ulama menyebutnya dengan Hâjiyât artinya pelengkap dari harapan pertama, Contohnya, harpan ingin memiliki kendaraan motor untuk keberlangsungan kegiatan sehari-hari.
  3. Tersier yang disebut oleh para ulama sebagai Tahsîniyât kategori ketiga ini tentunya hanya sebagai penunjang dari harapa pertama da kedua. Contohnya, jika dalam konteks sepeda motor seseorang mengingikan sepeda motor yang kekinian, mahal atau mewah.

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna mempersilahkan penganutnya untuk memenuhi harapan diatas, tentunya dengan usaha yang tidak menyalahi aturan. Di samping itu, usahanya juga harus dibarengi etika dan diakhiri dengan doa dan tawkal. Tiga harapan diatas sebagai sarana dan bekal menuju harapan di akhirat kelak. Maka pantas Nabi Saw sering memanjatkan doa untuk kebaikan di dunia dan di akhirat.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : كان أكثر دعاء النبي صلى الله عليه وسلم اللهم ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآرة حسنة وقنا عذاب النار. رواه البخاري

Artinya

Dari Anas bin Malik berkata: doa yang palig sering Nabi saw panjatkan adalah “RABBANÂ ÂTINÂ FI AL-DUNYÂ HASANAH WA FI AL-ÂKHIRATI HASANAH WA QINÂ ‘ADZÂBA AL-NNÂR” Ya Allah karuniakanlah kami kebaikan di dunia da di akhirat serta lindungilah kami dari siksaan api neraka. HR. Bukhari (w.256 h)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *