Islam sebagai agama yang komprehensif (syamil) menetapakan ibadah sebagai wujud loyalitas hamba terhadap Rab-nya. Dalam hal ini, Islam tidak hanya menetapkan ibadah yang bersifat individual (qashirah), dimana dampak dan manfaatnya hanya bisa dirasakan oleh pelakunya saja. Lebih dari itu, Islam juga menetapakn ibadah yang bersifat sosial (muta’addiyah), dimana dampak dan manfaatnya bisa dirasakan oleh pelakunya dan orang lain.

Makna dari kedua sifat ibadah tersebut, dapat kita ketahui manakala kita memahami ajaran Islam dari berbagai aspek. Salah satunya adalah puasa ramadhan. Dimana, puasa ini diwajibkan bagi umat Islam hanya satu bulan dalam setahun, kewajiban puasa ini sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Surat al-baqarah:183)

Secara eksplisit, kita dapat mengetahui kedudukan ibadah puasa sebagai ibadah yang bersifat individual. Allah s.w.t. nyatakan dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (W.261 H)

إِنَّ الصَّوْمَ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

Artinya:

“ sesungguhnya puasa itu untuk aku dan aku sendiri yang akan membalasnya”

Puasa adalah bentuk ibadah yang tidak terlihat gerak gerik si pelakunya, sehingga jauh dari sifat yang berpotensi menimbulkan riya, kecuali jika ia memberitahu orang lain bahwa ia sedang berpuasa, besar kemungkinan dapat menimbulkan riya. Oleh karenanya, dalam hadis ini Allah s.w.t. menyatakan kemesraan dengan hamba-Nya yang tulus menjalankan ibadah semata-mata untuk melaksanakan kewajiban dari-Nya. Sebagaimana yang diutarakan oleh Wahbah al-Zuhaili (W.1435 H) dalam kitab al-Tafsir al-Munir, puasa merupakan rahasia antara hamba dengan Rab-Nya.

Dari hadis di atas tersurat, bahwa ibadah puasa bersifat individual. keuntungan, manfaat, dan dampaknya hanya bisa dirasakan oleh si pelakunya saja. Namun, secara implisit kita dapat menggali kedudukan ibadah puasa, sebagai ibadah sosial. Untuk mengetahui kedudukan tersebut, kita harus mengetahui arah tujuan dari puasa itu sendiri, yaitu untuk menjadi orang yang bertakwa. Selanjutnya, diupayakan dengan meneladani kegiatan Rasulullah shallahu’alaihi wasllam selama bulan ramadhan.

Dua surat dalam al-Qur’an Allah s.w.t menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa, pertama dalam surat al-Baqarah ayat 3-4.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4

“Yaitu (orang-orang yang bertakwa) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka (3) dan mereka yang beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum kamu. Dan mereka yakin akan adanya akhirat (4)”

Dalam kandungan ayat ini ciri orang bertakwa yang bersifat sosial, terbatas kepada seseorang yang menginfakan sebagian harta yang dimilikinya. Seakan-akan ayat ini membuka peluang bagi orang-orang yang mampu secara materiil, untuk melakukan ibadah sosial sebanyak-banyaknya dengan shadaqoh, zakat, nafkah dan semua bentuk ibadah yang dapat mempertajam kepedulian sosial. Sehingga, prestasi ibadah individual dan ibadah sosial dapat berjalan secara seimbang. Waallahu’alam

Kemudian yang kedua, dalam surat Alu-Imran ayat : 134-135

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135

Artinya :

Yaitu orang-orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (134) dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzhalimi diri sendiri, segera mengingat Allah s.w.t lalu memhohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui (135)

Jika dalam surat al-Baqarah sebagaimana yang disebutkan di atas, ibadah sosial hanya terbatas kepada infaq melalui harta saja. Dalam ayat ini Allah menyebutkan tiga rangkain ibadah sosial, seakan-akan Allah s.w.t membuka kesempatan selebar-lebarnya untuk menggapai derajat ketakwaan, bagi yang mampu secara materiil maupun yang kurang mampu. Sebab, dalam ayat ini tidak disebutkan kata amwal (harta). Jadi, infaq di sini baik bisa dengan harta, tenaga, dan apa saja yang dimilikinya.

Selanjutnya, masih ciri-ciri orang yang bertakwa yang terkandung dalam ayat di atas, yaitu orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Hal ini selaras dengan pesan moral dari puasa itu sendiri, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (W.256 H) dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu (W.58 H) 

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ

Artinya :

“puasa adalah perisai, apabila salah seorang kalian sedang berpuasa maka hendaknya tidak berkata kotor dan membangkang. Jika ada orang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, maka hendaknya ia katakan, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa.         

Menurut al-Imam al-Nawawi (w.676 H) rahimahullah,  orang yang berpuasa itu apabila ada orang yang mencaci dan mengajaknya bertengkar hendaknya ia mengatakan dengan lisannya ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’ karena hal itu lebih menguatkan. Jika dibarengi di dalam hatinya maka hal itu lebih baik.

Dari ayat al-Qur’an dan hadis di atas, korelasi antara puasa dengan ibadah sosial sekurang-kurangnya terdapat dua pelajaran :

  1. orang yang berpuasa harus lebih berhati-hati dalam berkata, jangan sampai keluar perkataan kotor dari mulutnya. Seperti berdusta, menghina orang lain, membicarakan ‘aib saudaranya dan perkataan membuat hati orang terskiti. Sehingga, setelah ia berpuasa dan seterusnya ia terbiasa menjaga perkataannya dari hal-hal buruk tersebut. Dari sinilah orang yang berpuasa itu dilatih selalu memperhatikan keadaan sosial, agar ia tidak hancur disebabkan oleh perkataanya.
  2. Orang yang berpuasa tidak makan dan juga tidak minum seharian, setidaknya ia bisa menginsafi, bagaimana rasanya menjadi orang-orang kelas bawah yang hidupnya serba kekurangan dan kesulitan. Dengan lapar dan dahaga itu diharapkan, bisa terbangunlah rasa kepedulian terhadap sesama, lalu ia infakan sebagian hartanya untuk orang-orang yang kurang mampu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab al-Tafsir al-Munir “puasa melatih diri agar menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap faqir miskin dan orang yang sulit menemukan makanan. Sehingga termotivasi untuk memberi”

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *