Sudah barang tentu, bahwasanya menyambut bulan suci ramadhan adalah momen bahagia bagi kita semua selaku muslim di manapun kita berada. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “barang siapa yang bahagia dengan datangnya bulan ramadhan, maka Allah haramkan tubuhnya terhadap api neraka”.

Memahami hadits di atas, menjadi sebuah ultimatum bagi kita agar senantiasa bersukacita menyambut bulan ramadhan. Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan adalah bulan di mana berkah, ampunan dan pahala serta merta melimpah kepada kita selaku ummat yang memeluk agama islam. Entah itu bagi kamu yang melewatinya bersama keluarga dan sanak saudara, bagi kamu yang sudah berkeluarga, atau bagi kamu yang masih sendiri saja (alias jomblo lillahi ta’ala). Kegembiraan terhadap datangnya bulan Ramadhan harus tetap ada!

Beruntunglah bagi orang-orang yang bisa menyambut bulan Ramadhan bersama keluarga dan sanak saudara. Bukan berarti yang tidak menyambut bersama keluarga tidak beruntung, kalian tetaplah beruntung karena masih bisa bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini. Hanya saja, memang kadar beruntungnya setahap di bawah. Haha

Berkaca dari pengalaman yang telah saya lalui, 13 tahun sudah menyambut bulan suci Ramadhan di tanah rantau, sampai saat ini belum ada kesempatan untuk menyambut bulan Ramadhan bersama keluarga. Seringkali saya duduk termenung sambil menikmati sepoi angin di beranda masjid, “sudah berapa lama saya buka puasa pertama di tanah rantau?”
Semoga masih tersisa ramadhan-ramadhan selanjutnya untuk saya lalui bersama keluarga, sanak saudara dan orang-orang tercinta lainnya. Aamiin.

Berbicara tentang bulan Ramadhan dan bagaimana menyambutnya, tentu akan banyak versi dari setiap penjuru dunia. Memasuki tahun ke-lima menikmati bulan Ramadhan di Negeri Musa, banyak hal yang tidak biasa atau jarang ditemui di tanah air. Ada yang mengatakan bahwa orang-orang Mesir menyambut bulan Ramadhan seperti halnya orang-orang Indonesia menyambut perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Mereka memasang pernak-pernik, lampion atau lampu warna-warni yang digantungkan di setiap lorong flat, juga disepanjang jalur pertokoan. Begitulah mereka (orang-orang Mesir) menyambut bulan Ramadhan. Terlebih bagi para Muhsinin (orang-orang dermawan) sengaja mencari mahasiswa perantau untuk diberi sembako.


sumber poto :Bobo.ID – Grid.ID

Selain itu, jika kita melalui bulan Ramadhan di Negeri Musa ini, kita tidak akan pernah dibuat khawatir atau tak perlu memikirkan bagaimana kita berbuka, karena setiap masjid jami sudah menyediakan menu berbuka yang bervariasi. Menu berbuka yang disediakan disebut “Maidatur Rahman” (Hidangan Tuhan). 1 bulan penuh selama bulan Ramadhan maidatur rahman beroprasi guna menunjukkan bahwa beginilah seharusnya orang-orang kaya berlomba-lomba dalam kebaikan.

Bagaimana peran Al – Azhar menyambut bulan suci Ramadhan?

Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya ciptaan, disaat Muhsinin sibuk berlomba-lomba menginfaqkan sebagian hartanya, Al – Azhar pun terus menggerakkan perannya dengan memperbanyak pengajian-pengajian baik di masjid-masjid maupun di rumah para Masyasyikh yang diwakafkan untuk majlis ilmu. Inilah yang membuat saya sadar, bahwa negeri ini memberikan kombinasi yang sangat luar biasa disaat manusia merasa lapar dan haus, maka orang-orang dermawan harus bergegas menyiapkan hidangan perut. Begitu juga Al – Azhar yang bergegas menyipkan hidangan hati dan pikiran.

Darma Ami Fauzi
Mahasiswa Al-Azhar Kairo


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *