Mengapa harus kuliah di luar negeri? Memang sistem pendidikan di Indonesia tidak ada yang bagus? Mengapa harus kuliah di luar negeri? Bukankah kuliah dimana saja sama saja, tergantung orangnya juga kan?

Pertanyaan sekaligus pernyataan seperti diatas seringkali saya dengar. Ada yang diungkapkan dengan nada pertanyaan yang santai, ada juga yang mempertanyakan hal tersebut dengan nada sedikit sinis.

Tidak ada yang salah memang, setiap orang berhak atas pendapatnya masing-masing. Tetapi izinkan saya juga menyampaikan pendapat saya tentang alasan mengapa kita perlu belajar ke luar negeri, baik dengan sekolah formal, maupun non- formal, seperti short course, International visit dan lainya.

Bagi saya, belajar di luar negeri adalah salah satu bentuk cara terbaik menghargai diri kita sendiri. Imam Syafii (150-204 H) dalam salah satu syairnya pernah berkata: “Belajarlah!, karena tidak ada satu orang pun dilahirkan dalam keadaan berilmu”. Ungkapan ini sekan menjadi penegas bahwasanya setiap orang lahir dalam keadaan tidak berilmu dan harus terus menghormati dirinya dengan semangat belajar sepanjang waktu untuk menanggalkan kebodohan yang ada dalam dirinya.

Dengan belajar di luar negeri, secara langsung maupun tidak langsung, kita telah memberikan kesempatan pada diri kita untuk belajar dalam spektrum yang lebih luas.

Berdiskusi dan berdialog langsung dengan banyak teman baru dari pelbagai negara di dunia, dengan begitu kita bisa belajar arti sebuah toleransi dan menghargai perbedaan pendapat. Kita pun berkesempatan belajar untuk menjalin komunikasi dan kerjasama dalam menyusun program kuliah hingga kegiatan akademik lainya dengan banyak teman lintas negara, dengan begitu kita berkesempatan membangun relasi mancanegara sebanyak-banyaknya.

Dengan belajar di luar negeri, kita pun bersekempatan mentadabburi betapa luar biasanya peradaban dan kebudayaan manusia di banyak negara di dunia, sekaligus berjalan-jalan menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa.

Muara dari semua adalah ketakwaan dan Kesalehan. Takwa dan Saleh dalam artian, meminjam istilah Gus Mus, saleh ritual dan saleh sosial. Kesemua hal tersebut diatas juga sekaligus merupakan sebuah ikhtiar meresapi firman Allah SWT dalam Q.S Al-Hujurat: 13:

“Hai Manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa.”

Oh iya! salah satu bentuk pendidikan langsung (direct learning) yang saya dapati ketika belajar di luar negeri (baca: Eropa) adalah semangat menghargai waktu.

Umumnya, masyarakat Eropa sangat tegas dan ketat dalam hal pola manajemen waktu, apapun itu kegiatanya, termasuk khususnya belajar. Waktu mereka terpola dengan sangat baik dari hari satu ke hari-hari berikutnya, kapan harus belajar, kapan harus istirahat, kapan harus berolahraga. Pola manajemen waktu dan efektifitas waktu ini pulalah yang membedakan masyarakat eropa dengan masyarakat di belahan dunia lainya, termasuk Indonesia.

Lebih jauh lagi, belajar di luar negeri tidak hanya sekedar duduk di kelas untuk mengikuti proses perkuliahan, tetapi juga kesempatan untuk berdakwah, dakwah islam yang ramah bukan marah.

Kita bisa contoh alm. Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bapak bangsa yang satu ini tidak hanya menorehkan kisah sukses dalam proses belajarnya di luar negeri, Baghdad, Iraq, tetapi torehan sukses beliau juga merambah ranah dakwah islamiyyah. Gus Dur berperan penting dalam berdirinya komunitas diaspora Muslim Indonesia di Belanda, yang saat ini bernama PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa).

Komunitas yang saya sebutkan terakhir sampai saat ini masih eksis dan terus berjuang merawat dan meruwat tradisi Islam Indonesia yang ramah di seluruh penjuru negeri Belanda. Saya teringat sebuah petikan wawancara pada pertengahan tahun 2017 dengan salah satu tokoh Muslim Indonesia di Belanda, K.H Nafan Sulchan, yang juga merupakan salah satu kerabat dekat Gus Dur. Dalam wawancara itu, K.H Nafan Sulchan berkata bahwa Gus Dur pernah bilang yang intinya kurang lebih adalah Diaspora Muslim Indonesia di Belanda kedepanya akan semakin banyak, kalau tidak direkatkan dalam satu wadah komunitas, mereka nantinya akan terpecah-pecah ikut sana-sini, kita pun akan kehilangan kesempatan untuk dakwah Islam khas Indonesia di negeri ini.

Contoh lainya datang dari salah satu Imam besar Masjid Istiqlal, Alm. K.H Ali Mustafa Yaqub. Pendiri Pondok Pesantren Darussunnah International Institute for Hadith Sciences. Kisah sukses belajar beliau di Saudi Arabia sungguh tidak diragukan. Lebih dari itu, sepak terjang beliau untuk dakwah Islam di Amerika Serikat sangatlah mengesankan. Berdakwah di negeri non Muslim selalu mempunyai tantangan sendiri, apalagi di negeri paman Sam yang virus-virus Islamophobia di negeri tersebut pasca tragedi WTC 9/11 terus menguat. Dakwah yang santun lagi damai dan mendamaikan itulah yang dicari. Muslim Indonesia yang berjiwa moderat lah yang saya rasa mampu mengisi pos penting ini.

K.H Ali Mustafa Yaqub pun telah mampu menunjukkan kelasnya. Kisah perjalanan dakwah beliau di banyak negara, termasuk Amerika banyak berbuah buku, salah satu buku yang paling saya suka adalah Islam is Not only for Muslims buku setebal 159 halaman yang dicetak pada tahun 2016 lalu. Buku ini yang juga selalu diskusikan dengan teman-teman sekelas non-Muslim saat menempuh kuliah S2 di Belanda 2016-2017 lalu.

Tentu banyak pendapat lain yang bisa disuarakan seputar pentingnya belajar di luar negeri. Setiap dari kita pasti punya alasan dan kepentinganya masing-masing. Namun, satu hal yang pasti, Santri! Jangan pernah takut bermimpi belajar di luar negeri, apalagi belajar dengan beasiswa. Semuanya sangatlah mungkin, asal kita yakin!

Dito Alif Pratama, MA

Founder Santri Mengglobal


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *