Umumnya, santri Indonesia masih berpandangan bahwa alumni pesantren ya hendaknya belajar ke Timur Tengah untuk terus memperdalam ilmu agamanya. Tidak sedikit pula yang mengatakan: ‘bagi santri belajar di negara barat seperti Amerika, Australia, dan Eropa adalah sulit dan mustahil. Terlebih untuk bisa studi dengan fasilitas beasiswa yang tak sepeserpun keluarkan dana’.

Bahkan, ada pula yang mempunyai pandangan lain yang menurut saya cukup ekstrim dengan mengatakan, ‘Santri koq belajar di Barat, Eropa, Amerika, bukannya belajar di negara Timur Tengah, apakah gak takut jadi liberal nantinya?’ Dahsyat bukan?

Saya akan memulai tulisan singkat ini dengan merespon pandangan yang terakhir, karena sesungguhnya pernyataan tersebut pulalah yang menjadi renungan panjang yang saya pikirkan selama masa perenungan memilih kampus untuk studi. Saya habiskan banyak waktu untuk menyendiri, berkontemplasi, sampai akhirnya memutuskan untuk mantapkan hati untuk berjuang cari beasiswa studi di luar negeri, di Eropa khususnya.

Santri itu harusnya belajar di Timur Tengah, Bukan di Barat, kurang lebih ungkapan semacam ini yang sering saya dengar dan temukan di masyarakat sekitar tempat saya tinggal. Sebuah paradigma berpikir yang mempolakan karir lanjutan pendidikan santri adalah negara-negara Timur Tengah, bukanlah negara-negara Barat.

Saya tidak hendak menyalahkan pandangan demikian. Namun juga bukan berarti membenarkan pemahaman tersebut. Memang, tidak salah kalau siapapun berpendapat bahwa santri berhak dan seharusnya lanjutkan studi di Timur Tengah, karena itu akan semakin mematangkan kajian ilmu agama yang mereka dapatkan selama di pesantren, atau paling tidak semakin mematangkan identitas kesantrian mereka.

Namun tidak tepat juga jikalau sampai melarang hingga memandang sebelah mata manakala ada santri yang berkeinginan untuk studi lanjut di negara-negara barat bukan di timur tengah sebagaimana lazimnya. Sedikitnya karena dua alasan berikut.

Pertama, saya meyakini bahwa perintah belajar sebagaimana tertuang dalam hadis nabi Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim adalah tidak terbatas jarak dan terkekang waktu. Hadis ini bersifat luwes dan dinamis. Singkatnya perintah belajar bisa dimana saja dan kapan saja dan bahkan dari siapa saja, sekalipun dari anak kecil. Kunci utamanya adalah niatan belajar yang tidak salah, yang muaranya adalah mendapatkan ridho Allah dan bisa semakin mendekat diri denganya, selain pastinya untuk menghilangkan kebodohan dalam diri juga untuk membantu mencerdaskan orang lain. Bukankah kita juga dianjurkan untuk belajar hingga ke negeri china, bukan? Padahal di negara tersebut tidak banyak orang Islamnya.

Karenanya, tidak ada salahnya dengan belajar di barat. Terlebih peradaban dunia saat ini banyak didominasi dunia barat, mulai dari sektor pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan belajar langsung disana, kita pun berkesempatan melihat dan merasakan langsung atmosfer peradaban hingga bagaimana pola langkah mereka membangun peradaban yang mereka bangga-banggakan saat ini. Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan bisa kita ambil hikmah dan pelajaran untuk nantinya sama-sama membangun peradaban Islam yang oleh banyak orang dirasa tengah tertinggal dalam kurun waktu dan abad terakhir.

Bukankah ajaran agama mengajarkan kita untuk selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang kita lihat dan rasakan?

Alasan lain yang semakin menguatkan saya adalah bahwa peran santri dalam syiar Islam rahmatan lil aalamin di seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa sangatlah penting juga dibutuhkan. Terlebih setalah semakin merebaknya paham Islamophobia di Barat dan semakin maraknya aksi kekerasan mengatasnamakan agama, khususnya Islam, sebut saja ISIS, Jamaah Al-Qaeda dan sebagainya.

Stigma ini harus diluruskan sama-sama. Santri-santri Indonesia yang berpaham moderat lah yang harus melakukanya. Belajar dan tinggal langsung di Barat sambil terus lakukan dakwah bil hal, untuk menunjukan betapa damai, ramah dan tolerannya agama Islam. Saya teringat pernyataan Ust. M Diyah (salah satu guru favorit saya di Pesantren dulu, di Pondok Pesantren Assalam Sukabumi) yang dalam suatu kesempatan di pengajian Selasa sore beliau menyampaikan sebuah wejangan dalam bahasa Arab, yang kalau saya artikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya ‘dimanapun engkau berpijak, engkau bertanggung jawab atas Keberislaman masyarakatnya’. Kontekstualisasi dari pernyataan ini bisa pula diartikan bahwa dimanapun kita berada, kita bisa dakwah syiarkan Islam yang damai lagi toleran, bahkan untuk tingkatan lebih tinggi adalah peran mengislamkan masyarakat setempat yang belum mendapatkan hidayah agama Islam yang hanif. Sungguh luar biasa bukan? Tentunya, ini menjadi PR kita bersama untuk terus berjuang belajar sekaligus mendakwahkan Islam yang damai dimanapun kita berada, termasuk saat kita belajar di luar negeri.

Selanjutnya, saya juga hendak meyakinkan semua santri bahwa kesempatan studi di Eropa bukan lagi sebuah mimpi di siang bolong. Semuanya bisa dan sangatlah mungkin terwujud. Untuk semua jenjang strata studi, baik S1, S2 hingga S3. Terlebih dengan banyaknya tawaran beasiswa, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bisa dibilang, beasiswa studi saat ini seperti kacang goreng, bisa dengan sangat mudah dicari.

Kunci utama dapatkan beasiswa, selain doa, saya kira adalah sungguh-sungguh dan kemantapan hati. Sungguh-sungguh mau berjuang dan memperjuangkan apa-apa yang menjadi prasyarat studi hingga dapatkan program beasiswa. Hingga memantapkan hati bahwa kita bahwa kita layak deserved to be untuk bisa studi lanjut di eropa dengan beasiswa.
Tidak cukup hanya bilang mau karena siapapun pastinya mau jika dapatkan kesempatan studi di luar negeri. Apalagi gratis. Pada akhirnya yang membedakan semuanya adalah kesungguhan dan kemantapan hati kita, sejauhmana kita mau berjuang dan memperjuangkan apa yang dicita-citakan. Saatnya Santri Mengglobal!

Dito Alif Pratama
Founder Santri Mengglobal


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *