Ramadan di Negeri Jiran

Allah swt menciptakan para rasul dan memilih Ulul Ajmi menjadi yang terbaik dari mereka semua, dan memilih nabi Muhammad SAW menjadi yang terbaik dari Ulul Ajmi. Allah swt menciptakan 7 hari dan menjadikan Jum’at sebagai sayyidul ayyam (pimpinan hari-hari). Allah menciptakan malam-malam yang panjang dan menjadikan laylatul qodr sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan Allah swt menciptakan 12 bulan dan menjadikan Ramadan sebagai bulan yang terbaik dari seluruh bulan yang ada.

Mari kita merenung sejenak. Apa yang akan kita lakukan jika minggu depan akan ada seorang tamu spesial yang hendak berkunjung ke rumah? Pastinya, setiap penghuni rumah bersiap-siap membersihkan dan merapikan setiap sudut rumah. Tidak ada lagi barang-barang berserakan tidak pada tempatnya, tidak ada lagi debu-debu yang tampak, semua dibuat mengkilap. Seperti itulah kita seharusnya menyambut Bulan Suci Ramadan ini.

Segala aktifitas seringnya melalaikan kita, sehingga lupa akan perputaran waktu yang tak kenal henti. Kini kita akan memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukharino. 2024 dan Muslim no.1174). Oleh karena itu, bagi setiap Muslim di manapun kita berada, mari bersama-sama tingkatkan kualitas ibadah dan senantiasa lebih giat lagi dalam melaksanakannya.

Menjalani bulan Ramadan bersama keluarga, merupakan hal lumrah bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, menjadi hal yang sangat istimewa dan luar biasa mahalnya bagi saya dan sebagian orang yang sedang mengenyam pendidikan atau mengais rezeki di negeri orang. Momen-momen indah saat bersama keluarga, tak jarang membuat pilu karena harus terpaksa menahan rindu. Tak ada sosok ibu yang selalu sigap memenuhi serta menyiapkan segala kebutuhan. Semua dikerjakan sendirian.

Dewasa ini, saya tengah menempuh studi di Islamic International University Malaysia (IIUM). Bertempat di Negri Jiran, yang mana apa bila dilihat dari budaya, lingkungan, bahasa dan fisik orang-orangnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Akan tetapi, ada hal yang berbeda di sini ketika sudah memasuki bulan Ramadhan. Jika di Indonesia, hanya masjid-masjid besar saja yang menyediakan makanan dan minuman untuk berbuka, itu pun biasanya menjelang 10 terakhir bulan Ramadan.
Maka, di Malaysia (khususnya di Kuala lumpur) setiap masjid menyediakan makanan & minuman untuk berbuka sejak awal hingga akhir bulan ramadhan.

Selain itu, di dalam kampus sendiri, organisasi-organisasi mahasiswa dari setiap negara, juga rutin menyediakan makanan & minuman untuk berbuka. Makanan dan minuman yang disediakan merupakan makanan khas dari negara asalnya masing-masing.
Jadi, bagi mahasiswa di sini bisa memilih di mana mereka ingin berbuka, tanpa dipungut biaya alias gratis pastinya. Di dalam maupun di luar kampus. Ini salah satu keberkahan bulan Ramadan disini, semua orang berlomba-lomba dalam mengamalkan kebaikan.

Tidak hanya masjid dan orgasiasi mahasiswa saja yang menyediakan makanan-minuman untuk berbuka secara gratis. Namun, dosen-dosen pun tidak ingin ketinggalan. Para dosen biasanya membagikan bingkisan-bingkisan gratis yang tersebar di setiap sudut kampus IIUM.
Suatu hari, sebelum waktu dzuhur saya keluar dari ruang kelas. Seorang dosen sedang membagikan makanan kepada setiap mahasiswa yang kebetulan lewat di hadapannya. Pemandangan yang sangat indah. Dalam hati saya berdoa, agar pemandangan seperti itu tidak hanya terjadi di bulan Ramadan, tapi tetap berlanjut pada bulan-bulan setelahnya.

Untuk pembaca tulisan ini, tidak peduli di manapun kalian berada, dengan atau tanpa keluarga, bukanlah hal yang membatasi seseorang untuk tetap meningkatkan semangat beribadah di bulan ramadan. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan serta kekuatan untuk terus beribadah dengan sungguh-sungguh.

Salam hangat dari Negeri Jiran, Malaysia,

Muhammad Afief Qubaish
Mahasiswa IIUM (Malaysia)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *