Mengenal Hadis Dha’if

Ketika kita dihadapkan dengan sebuah hadis yang kualitasnya lemah, maka apa yang akan kita lakukan terhadap hadis tersebut? Menolaknya secara mentah-mentah? Atau mengamalkannya? Memang boleh mengamalkan hadis dha’if ? kalau boleh ada kah syarat-syaratnya?

            Sebelum kita bahas tentang kebolehan mengamalkan hadis lemah ini, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu pengertian dan pembagiannya. Secara etimologi kata dha’if  berarti lemah, dalam disiplin ilmu hadis pengertian hadis dha’if adalah hadis yang yang tidak terkumpul sifat-sifat hadis hasan, disebabkan hilangnya satu syarat atau lebih[1], hadis dha’if  ini memiliki jenis yang beragam sesuai dengan kadar kelemahan periwayatannya, ada yang tingkat kemlemahannya biasa saja, ada juga yang sangat lemah hingga tingkatan paling rendah yaitu mauḏû’ (palsu).

Hukum Meriwayatkan Hadis Dha’if

            Menurut para ulama meriwayatkan hadis dha’if  boleh boleh saja dan tidak perlu diperketat dalam menyeleksi jalur periwayatannya, berbeda dengan hadis palsu, hukum meriwayatkan atau mengajarkan hadis palsu adalah haram kecuali hanya untuk dijelaskan sisi kepalsuannya. Namun, kebolehan meriwayatkan hadis dha’if  bukan secara mutlak, hadis yang kualitasnya lemah ini boleh diriwayatkan dengan dua syarat

  1. Tidak berkaitan dengan akidah
  2. Tidak dalam posisi menjelaskan hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan masalah halal-haram.

Jadi, boleh meriwayatkan hadis-hadis yang kualitasnya lemah, semisal dalam hal targîb (memotivasi agar senang dalam kebaikan), tarhîb (ancaman-ancaman agar terhindar dari keburukan), periwayatan tentang kisah-kisah, dan nasihat-nasihat kebaikan. Para ulama papan atas juga mempermudah periwayatan hadis-hadis dha’if seperti Imam Sufyan al-Tsauri (97-161 H), Imam Abdurrahman bin Mahdi (135-198), dan Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H)[2].

Hukum Mengamalkan Hadis Dha’if

            Para Ulama berbeda pendapat mengenai hukum mengamalkan hadis yang kualitasnya lemah, namun meunurut jumhur ulama, hadis dha’if tetapboleh diamalkan dalam hal keutamaan ibadah (fadha’il ‘amal) dengan tiga syarat;

  1. Kelemahannya tidak sangat parah
  2. Hadisnya termasuk dalam cakupan pokok-pokok hadis yag diamalkan (ma’mul bihi)
  3. Saat mengamalkannya tidak diyakini kepastiannya, hanya sekedar kehati-hatian saja[3].

Dalam disiplin ilmu hadis, bila ada kelemahan sanad pada sebuah hadis dan kelemahannya itu bukan disebabkan oleh perawinya yang dituduh pendusta (matrûk) bukan juga disebabkan oleh kefasikan perawinya (munkar), maka hadis tersebut tidak termasuk kedalam kategori dha’if jiddan (sangat parah kelemahannya) dan masih bisa diamalkan, apalagi bila substansinya juga diriwayatkan melalui beberapa jalur lain, maka hadis tersebut bisa naik kualitasnya menjadi hasan ligairihi, sementara hadis yang kualitasnya hasan ligairihi tetap sah diamalkan dan dijadikan hujjah. Jika demikian, tidak semua hadis yang lemah tidak bisa diamalkan, tetap bisa diamalkan dengan beberapa ketentuan yang telah disebutkan di atas.

Contoh Hadis-Hadis Lemah Yang Diamalkan

  1. Hadis berbuka puasa

حدثنا مسدد، حدثنا هشيم، عن حصين، عن معاذ بن زهرة، أنه بلغه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أفطر قال: اللهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ (رواه أبو داود والبيهقي)

Dha’if karena dalam sanadnya ada perawi yang wahm (ragu) kemudian ia me-mursal-kannya, sementara derajatnya maqbûl (diterima)

  • Hadis mencukur kumis dan memotong kuku di hari jumat

كان رسول الله ﷺ يقص شاربه ويقلم أظفاره يوم الجمعة قبل أن يروح إلى الصلاة، أخرجه البيهقي. قال السيوطي: وبالجملة فأرجحها أي الأقوال دليلا ونقلا يوم الجمعة والأخبار الواردة فيه ليست بواهية جد مع أن الضعيف يعمل به فى فضائل الأعمال[5]

  • Hadis Membaca Yasin Untuk Mayit

حدثنا محمد بن العلاء، ومحمد بن مكي المروزي المعنى، قالا: حدثنا ابن المبارك، عن سليمان التيمي، عن أبي عثمان، وليس بالنهدي، عن أبيه، عن معقل بن يسار، قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: اِقْرَءُوْا يس على موتاكم رواه أبو داود

  • Hadis Menghidupkan Malam Lebaran Dengan Ibadah

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الْمَرَّارُ بْنُ حَمُّويَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى قَالَ: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَامَ لَيْلَتَيِ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ. رواه ابن ماجه

Hadis-hadis yang disebutkan di atas kendati kualitasnya lemah namun tingkat kelemahannya tidak parah, jadi tetap bisa diamalkan karena tidak berkaitan dengan ibadah dan hukum halal-haram. Wallahu’alam.


[1] Mahmud Tahan, Taisîr Mushṯalah al-Hadith (Riyadh: Maktabah Maarif, 1431 H) h. 78

[2] Mahmud Tahan, Taisîr Mushṯalah al-Hadith, h. 80.

[3] Al-Syuṯî, Tadrîb al-Râwî fî Syarh taqrîb al-Nawawi(Kairo: Daar El-Hadith, 2002 M) h. 258

[4] Catatan editor (muhaqqiq) dalam kitab Syu’ab al-Iman

[5] Abdul Fatah al-Yafii, Hukm al-‘Amal bi al-Hadîth al-Dha’îf


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *