Berkeliling ke tempat bersejarah mesir kuno sepertinya sudah tidak asing bagi mereka yang memang sengaja berkunjung ke Negeri Musa ini. Selain Piramida, salah satu sumber peradaban yang ada di mesir ialah Masjid Sultan Hasan. Masjid ini merupakan salah satu bukti peradaban atau pusat transmisi keilmuan dan keadaban publik.

Sultan Hasan merupakan nama anak Sultan Mamluk terkemuka, An-Nashir Muhammad Bin Qalawun. Masjid Sultan Hasan dibangun pada tahun 757 H/ 1356 M dengan pembangunan selama 3 tahun. Dibangun sangat megah dengan ukurannya yang sangat besar, masjid ini juga disertai seni-seni artistik yang sangat memukau dan variatif loh.

Masjid yang dibangun pada masa Kerajaan Mamluk ini bukan hanya dibangun untuk sholat saja, tapi juga dipakai sebagai madrasah, yang mana pada masanya bangunan ini menjadi salah satu pusat transmisi ke ilmuan yang bersumber 4 Imam Madzhab, yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali.

Beberapa hari yang lalu saya tak sengaja melawati daerah kairo lama yaitu dimana masjid sultan hasan dan benteng sholahuddin al-ayubi berada, sempat berhenti sejenak dan mengambil gambar di sana sambil sedikit menganalisa rahasia di balik pembangunan masjid sultan hasan ini. Setelah melihat kondisi masjid sultan hasan atau yang sering disebut masjid 4 madzhab ini sekaligus merujuk pada berbagai sumber, sampailah saya pada opini seputar masjid sultan hasan kairo.

di depan gerbang Masjid Sultan Hasan Kairo, Mesir

Dari bangunan ini, yaitu masjid plus madrasah. Kita sebagai orang Indonesia yang telah berkunjung ke sini ataupun yang baru saja membaca artikel tentang masjid sultan hasan harus bisa memahami dan mengambil contoh. Di mana dalam satu lokasi yang sama, terdapat para muslim yang belajar di sini bisa saling memahami perbedaan pendapat dengan madzhab yang mereka ikuti. Tak ada istilah saling mencaci tanpa referensi, ada referensipun mereka tak saling mencaci. Karena semakin banyak membaca dan mengetahui maka semakin besar tingkat pemahaman dan toleransi.

Belajar dari bangunan bersajarah ini merupakan dasar awal yang harus dipahami oleh orang-orang Indonesia menurut saya pribadi. Kita yang baru dan sedang bersemangat mempelajari agama terkadang langsung buta dan enggan menerima pendapat dan rujukan dari orang lain. Kenapa saya katakan orang Indonesia harus belajar dari sejarah Masjid Sultan Hasan Kairo? Karena masjid yang di bangun sebagai tempat ibadah serta dijadikan madrasah 4 madzhab saja tidak pernah ada perselisihan didalamnya, nah di Indonesia yang masjidnya berjauhan dan terkadang didalamnya berbeda kajianpun malah melahirkan kecurigaan dan perpecahan. Kemungkinan ada dua sebab. Pertama karena sempitnya akal pikiran, kedua karena sempitnya hati hingga enggan untuk saling memahami dan mengerti.

Hasil dari sempitnya akal pikiran dan sempitnya hati adalah mudahnya sebagian dari masyarakat indonesia menyalahkan hingga mengkafirkan sesama muslim hanya karena menelan informasi secara mentah-mentah tanpa dibarengi dengan membaca dari informasi lain. Menuduh tanpa dasar keilmuan yang jelas saja itu telah menunjukan identitas diri seseorang akan sempitnya akal pemikiran alias kurangnya wawasan, pantas dalam tweetnya prof nadirsyah hosen menulis : “perintah pertama Allah itu Iqra yang artinya disuruh membaca bukan membacot seenaknya”, nah maka dari itu sudah jelas bukan ? Bahwa kita mayoritas masyarakat indonesia masih dirongrong penyakit enggan membaca namun senang menerka.

Semoga dari sejarah bangunan masjid plus madrasah sultan hasan ini bisa menjadi bukti dimana saling menghargai dan memahami selalu di jungjung tinggi dan juga menjadi motivasi kita yang masyarakat indonesia khususnya untuk senantiasa saling memahami sesama manusia umumnya dan sesama muslim khususnya, karena mengkafirkan sesama muslim adalah hasil dari mereka yang hatinya sempit dari menerima pendapat orang lain.

Kairo, 13 Juni 2019

*Sumber Poto https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mosque-Madrassa_of_Sultan_Hassan


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *