Masih seputar Negara di Timur Tengah, kesempatan kali ini kita akan mengulas sedikitnya tentang kehidupan dan perjuangan mahasiswa Indonesia di kota Tarim, Yaman.

Sebelumnya, saya sudah mengumpulkan informasi dari salah seorang sahabat yang sedang mengenyam pendidikan strata 1 di Universitas Al-Ahqaff, Tarim di Yaman. Mulai dari suasana lingkungan di Yaman, perjuangan menghadapi ujian, biaya hidup di Yaman dan kegiatan apa aja yang biasanya dilakukan mahasiswa di sana.

Berbeda dengan suasana konflik politik dalam negri yang sudah berlangsung sejak tahun 2004, menurut narasumber Kota Tarim merupakan salah satu kota yang aman di Negri Yaman. Kota di mana para mahasiswa dari berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia bermukim. Tidak pernah terlihat adanya aktivitas politik di kota tersebut. Mayoritas penduduk lokalnya berprofesi sebagai pedagang atau tenaga pendidik. Berikut kutipan dari hasil wawancara dengan Faruq Arrahman, mahasiswa jurusan syariah islamiyah di universitas Al-Ahgaff Yaman :

“Orang Indonesia di sini, kebanyakan cuma pelajar, biasanya yang sambil kerja udah punya keluarga. Rutinitasnya nggak jauh dari belajar agama di kampu, pondok atau pengajian rutin di masjid dan rumah para Masyayikh. Ziarah ke makam wali, dzuriyyat nabi atau masyayikh, sama agenda rutin penduduk Tarim yg udah terjadwal setiap bulan hijriyah; kayak haul, khataman, awadat, maulid dll.
Kalau ada hiburan, nggak jauh dari berenang (kolamnya nyewa buat setiap rombongan, bukan buat umum), ziarah makam, nonton pake hp atau internetan. Itu pun kalau ada izin dari lembaganya, karena setiap lembaga peraturannya beda beda.”

“Oh iya, ada juga beberapa masalah dari pasokan listrik. Di sini suplainya emang buruk. Kadang bisa mati lampu tiap hari. Paling sebentar empat jam. Udah gitu, internet masih lemot banget. Jaringannya masih 3G dan mahal. Kebanyakan pake paketan wifi. Itu juga jaringannya paling lama bisa dipake setengah hari, bisa jadi seminggu lebih gak ada jaringan internet.
Yaa pastinya nyusahin banget buat generasi milenial yg bisa dibilang bergantung sama multimedia.”

“Kalau suasana ujian, yaa pastinya kerasa banget, khususnya di Al-Ahqaff ini. Karena setiap tahun ada aja yang tinggal kelas, I’adah atau fashl. Dari angkatan Ana, sebelumnya sekitar 120 orang lebih, sekarang di tahun ke 3 kayaknya nggak sampe 70 orang.”

“Biaya hidup di Yaman mungkin agak rumit. Kalau buat penduduk lokal pastinya agak merugikan. Kalau pendatang kayak kita yaa mungkin bahasanya cuma untung untungan. Permasalahannya ada di nilai tukar dollar yang nggak stabil. setiap hari naik turun. Dulu pernah Alana nuker $100 = 58000YER (Yemen real) trus sekitar 2 minggu kemudian udah jadi 72000YER. Tapi alhamdulillah sekarang ini agak stabil, naik turunnya ngga jauh dari 52000-56000YER/$100.
Pas ana pertama ke sini $100=29000YER.
Tapi aslinya kalo harga barang sama aja harga di Indonesia, kecuali yg impor dari Indonesia kayak bumbu sachet, sambel terasi, kerupuk mentah dll, emang agak mahal. Kalau indomie ada pabriknya, jadi gak terlalu mahal.”

Mahasiswa nggak ada yg part time, palingan cuma jualan kecil kecilan di sakan atau matbakh kaya jualan sambel, bakwan, atau makanan ringan. Di Ahqaff Ada warung makan yang nyediain makan nasi dan lauknya, sama tempat fotokopi yang dikelola mahasiswa Indonesia, tapi itu niatnya emang khidmah buat kuliah. Setiap bulannya uang disetor ke kampus beberapa puluh ribu real. Ahqof sendiri ngelarang mahasiswa buat kerja part time di luar. Di sini emang mayoritas orang Indonesia dateng cuma buat belajar atau khidmah ke habaib atau masyayikh.”

Sungguh penuh dengan perjuangan bukan ! Kalau bukan karena niat tholabul ilmi, mungkin tidak akan allah kokohkan hati para pelajar yang datang dari berbagai manca negara. Namun kondisi seperti itu malah sangat diinginkan oleh mereka yang benar-benar fokus untuk menuntut ilmu dan berkhidmad kepada para masyaikh disana. Yaa semoga kita semua diberi kesempatan waktu oleh allah untuk singgah dan belajar dikota tarim kalaupun tidak, semoga allah menanamkan rasa cinta kepada kota tarim dan penduduknya.

*Sumber Photo www.ppihadramaut.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *