Berziarah ke makam Aulia Allah adalah jalanku menitik cemburu pada Allah atas karunia-Nya yang senantiasa diberikan kepada Aulia Allah. Cemburu disini bukan rasa perasangka burukku pada Allah, melainkan pengharapan bahwa diriku ingin mengikuti jalan para Aulia Allah, karena bagaimana firman Allah “Alaa Inna Aulia allahi Laa khoufun alaihim walaa hum yahzanun” Ingatlah wali-wali allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.

Hari rabu minggu kemarin, tepatnya 10 juli pukul 5 sore, aku beserta rombongan memulai perjalanan dari kairo menuju daerah humaithara dimana itu destinasi utama dari perjalanan kami, yaitu berziarah kemakam Syeikh Abul Hasan As-syadzili, sudah barang tentu bagi kami untuk lebih mengenal siapa yang akan kami ziarahi ini, ia adalah ulama tersohor pada masanya namanyapun senantiasa harum hingga sekarang, dikenal dengan semangat dalam mencari guru guna menuntut ilmu dan kezuhudannya yang luar biasa.

Masjid & Makam Al Imam Abul Hasan As-Syadzili di Humaithara, Mesir


Al Imam Abul Hasan As-syadzili yang lahir dari daerah Ghumroh, sebuah daerah yang berada di afrika utara, dekat dengan kota sabtah yang terletak di daerah Maghrib (Maroko) sekarang. Imam Syadzili lahir pada tahun 593 Hijriyah. Dan konon rumah tempat beliau lahir,  masih terjaga hingga saat ini dan tempat untuk bertabaruk atas atsar beliau.

Sejak kecil Beliau biasa dipanggil dengan nama: ‘ALI, sudah dikenal sebagai orang yang memiliki akhlaq atau budi pekerti yang amat mulia. Tutur katanya sangat fasih, halus, indah dan santun, serta mengandung makna pengertian yang dalam. Di samping memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur, Beliau juga tergolong orang yang memiliki kegemaran menuntut ilmu. Di desa tempat kelahirannya ini, Beliau mendapat tempaan pendidikan akhlaq serta cabang ilmu-ilmu agama lainnya langsung di bawah bimbingan ayah-bunda beliau. Beliau tinggal di desa tempat kelahirannya ini sampai usia 6 tahun, yang kemudian pada akhirnya hijrah ke kota Tunis (sekarang ibu kota negara Tunisia, Afrika Utara) yang semata-mata hanya untuk tujuan tholabul ‘ilmi di samping untuk menggapai cita-cita luhur Beliau menjadi orang yang memiliki kedekatan dan derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.

Dalam fase menuntut ilmu beliau berguru dan bertalaqqi ilmu kepada para Ulama di daerahnya, dan pada usianya yang masih kecil beliau telah menghafal Qur’an beserta memahaminya dengan sangat bagus. Kemudian beliau melanjutkan belajarnya dalam seni tasawwuf dan pertama kali berguru kepada Sayyidi Muhammad bin Ali bin Hirzihim rahimahullah, beliau adalah salah satu Syeikh atau ulama di Maghrib dan andalusia yang tersohor dengan ilmu tasawwufnya pada zaman itu.

Setelah Wafatnya guru pertama beliau, Imam Syadzili memutuskam untuk terus menuntut ilmu dan pada tahun 603 H beliau pergi ke daerah Zarwilah/ Zerouala (dekat dengan Tunis) dan ketika itu umur beliau masih terbilang sangat muda yaitu10 tahun. Disana beliau belajar banyak cabang Ilmu, mulai dari Fiqih yang mana beliau mengambil Madzhab Imam Maliki, beliau juga belajar ilmu nahwu, Shorf, Tafsir, Hadist, Ilmu Kalam, dan juga ilmu tasawwuf kepada beberapa Syeikh/Ulama di daerah itu.

Dalam usianya yang masih sangat terbilang muda dan sampai menjelang usia senja beliau sangat rajin dalam beribadah dan juga menuntut Ilmu. Bahkan Imam Bushiri (Shohibul burdah) sempat menuliskan syair untuk Imam Assyadzili, Imam bushiri adalah murid dari muridnya imam assyadzili yaitu syeikh abul abbas al mursi, syair yang dituliskan oleh Imam Bushiri :

ألف النسك والتهجد والخلوة طفلا وهكذا النجباء#
وإذا حلت الهداية قلبا نشطت للعبادة الأعضاء

Dia (Imam Syadzili) telah merefleksikan Zuhud, tahajjud, dan kholwat sewaktu kecil, dan seperti inilah keadaan orang-orang yang unggul. #

Dan apabila hidayah telah membuka suatu hati,  maka anggota badan juga akan rajin dalam beribadah.

Beliau melanjutkan perjalanannya dalam mencari guru dan kota yang pertama beliau tuju adalah kota Mekkah yang merupakan pusat peradaban Islam dan tempat berhimpunnya para ulama dan sholihin yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk memperdalam berbagai cabang ilmu-ilmu agama. Namun setelah berbulan-bulan tinggal di Mekkah, Beliau belum juga berhasil menemukan orang yang dimaksud. Sampai akhirnya pada suatu saat Beliau memperoleh keterangan dari beberapa ulama di Mekkah bahwa Sang Quthub yang Beliau cari itu kemungkinan ada di negeri Iraq yang berjarak ratusan kilo meter dari kota Mekkah.

Sesampainya beliau di iraq, beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan bergegas bertanya-tanya kepada setiap ulama disana tentang seorang wali quthub, namun tidak ada yang mengetahui keberadaan wali quthub dinegeri itu. Memang setelah meninggalnya Sulthonul Aulia wali Quthub Syeikh Abdul Qadir Jilani rahimahullah, kedudukan wali quthub oleh allah disamarkan. Karena sampainya Imam Assyadzili ke iraq, Syeikh Abdul Qadir Al jilani sudah wafat sekitar 50 tahun sebelum Imam Syadzili lahir. Pada suata hari ada seorang ulama yang menarik hati Imam Syadzili, asy Syeikh ash Sholih Abul Fatah al Wasithi, rodliyAllahu ‘anhu seorang pemimpin dan khalifah thoriqat rifai’yah. Syeikh Abul Fatah adalah, yang memiliki pengaruh dan pengikut cukup besar di Iraq pada waktu itu. Segeralah Beliau sowan kepada Syekh Abul Fatah dan mengemukakan bahwa Beliau sedang mencari seorang Wali Quthub yang akan Beliau minta kesediaannya untuk menjadi pembimbing dan pemandu perjalanan ruhani Beliau menuju ke hadirat Allah SWT.

Membahas perjalanan Syeikh Abul Hasan As-syadzili rahimahullah sangatlah panjang, dan inilah yang beliau contohkan begitu mulianya ilmu beliau rela menghabiskan waktunya guna mencari guru untuk menimba ilmu.

“niat untuk untuk ilmu dan semangat dalam mempelajarinya sangatlah mudah didapatkan oleh setiap kita, namun apalah artinyanya belajar kalau tidak ada bimbingan seorang guru!”


Sekelas Imam Assyadzili pun harus terus melangkah menyebrangi samudra dan berbagai negeri dalam perjalanannya mencari sang guru, karena kata beliau belajar itu kepada guru yang membuat ilmumu sampai kepada allah, tak hanya tertanam dilisan melainkan juga terealisasikan dalam perbuatan. Kisah perjalanan Syeikh abul hasan As-syadzili masih terus belanjut sampai beliau wafat di sebuat pelosok daerah bernama Humaithara. Semoga dengan kisah perjalanan imam syadzili dalam mencari guru menjadi motivasi kita agar terus mengaji dan berguru. Bersambung…

Mesir, 18 juli 2019




0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *