Gurun ‘Idzaab, sebuah daerah di tepi pantai Laut Merah, tepatnya di desa Khumaitsaroh, yaitu antara Gana dan Quseir, di mana makam Imam Abul Hassan Assyadzili dimakamkan. Perjalanan Imam Assyadzili sudah disebutkan oleh sang guru; Imam Abdussalam Ibnu Masyis, ketika sang guru menceritakan bahwa persinggahan terakhir  dari perjalanan sufistik Imam Assyadzili adalah desa Khumaitsaroh. Suatu ketika Imam Assyadzili pernah berkata kepada gurunya, “Wahai guru, cuaca di sana sangat panas!” Sang guru pun menjawab, “Awan-awan akan menaungimu.” Lalu imam Assyadzili berkata kembali, “Di sana juga tidak ada air.” Imam Ibnu Masyis pun menjawab, “Langit akan menghujani wilayahmu.” Dan sungguh luar biasa, dengan izin Allah apa yang dikatakan sang guru Imam Abdussalam Ibnu Masyis itu benar-benar terjadi.

          Saya yang tiba bersama rombongan di desa Khumaitsaroh terkejut, cuaca di sana bukan main panasnya. Dengan suhu mencapai 50oc, membuat air di kamar mandipun ikut panas—benar-benar panas seperti air yang baru saja mendidih. Kondisi air yang sangat panas akibat terpapar cahaya matahari,  membuat saya dan kawan-kawan harus mendinginkan air ke dalam ember sekitar 20-30 menit agar suhu air tidak terlalu panas.

Akan tetapi keadaan ini bukanlah suatu kendala yang membuat orang-orang enggan untuk tinggal maupun berkunjung ke daerah Khumaitsaroh. Orang-orang dari pelosok daerah pun tetap saja datang silih berganti. Ada yang datang dari Kairo, Fayoum, Aswan dan daerah-daerah Mesir lainnya. Ada keunikan dan hal yang menakjubkan lainnya, ialah prilaku penduduknya yang berkebalikan dengan mayoritas prilaku penduduk di Kairo dan sekitarnya. Orang-orang di Khumaitsaroh jarang berteriak apalagi berkelahi. Saya pernah menjumpai sekumpulan orang Mesir yang sedang duduk di penginapan, kami terlibat sebuah diskusi yang cukup panjang hingga menjelang subuh. Topik pembicaraan yang dibahas hingga selera humor mereka dengan kami mahasiswa luar bisa dikatakan cukup sesuai.

Bagi para mahasiswa yang pertama kali menginjakkan kaki kalian di Mesir, pasti kalian sudah sering diperingati oleh senior untuk berhati-hati dengan barang bawaan seperti handphone, uang, dan barang penting lainnya, karena rawannya pencurian baik di kendaraan maupun di dalam flat. Akan tetapi, apabila kalian datang berkunjung ke Khumaitsaroh dan hendak berziarah ke makam Imam Abul Hasan Assyadzili, kalian tidak perlu khawatir atas barang bawaan kalian. Karena sepengalaman saya dan rombongan kemarin bahwa dengan minimnya keamanan dan ditambah banyaknya orang asing yang berlalu-lalang, alahamdulillah tidak ada satupun barang yang hilang. Padahal banyaknya diantara kami ketika berziarah meninggalkan handphone dan powerbank didalam kamar yang tidak terkunci, belum lagi kamar yang kami tempati masih dalam tahap renovasi. Kemudian saya bertemu dengan rombongan keluarga dari Bogor. Bayangkan jauh-jauh dari Indonesia ke Mesir lalu melanjutkan perjalanan ke daerah pelosok Mesir guna berziarah dan menekuni sejarah perjalanan sufistik Imam Assyadzili.

Jumlah penduduk di sana masih terbilang sedikit, tidak seramai daerah-daerah yang lain. Kegiatan penduduk di sana tidak hanya berziarah, ada juga yang melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Bagi anak-anak biasanya diadakan halaqah tahfidz. Oleh karena itu sudah menjadi hal yang lumrah di umur yang sangat muda mereka sudah menghapal Al-Qur’an.

Karena letak Khumaitsaroh yang tidak dilalui sungai Nill, pemerintah memberikan subsidi air guna keperluan sehari-hari para penduduknya. Sebenarnya ada sumur Imam Assyadzili. Sumur ini merupakan salah satu karomah Imam Assyadzili yang mana air ini tidak tahu datang dari mana sumbernya. Namun sangat disayangkan air sumur ini hanya bisa dipakai di area masjid saja.

Bagaimana Orang-orang di Khumaitsarah?

Wajah mereka hampir mirip dengan orang Sudan di samping kulitnya yang terlihat gelap karena dipengaruhi cuaca yang sangat panas dan tidak adanya pepohonan dan hanya dikelilingi gunung batu, bisa dibayangkan bukan bagaimana kalau kamu tiba-tida dehidrasi dan tidak menemukan air untuk diminum? tapi sebagaimana yang telah saya ceritakan tadi bahwa penduduk di desa ini sangatlah ramah dan baik.

Bagaimana untuk mencari warung atau pedagang kaki lima ?

ini yang sangat unik! Warung disini sangat sedikit, bahkan disana saya dan kawan-kawan tidak menemukan isy (salah satu makanan pokok mesir) to’miyah (gorengan mesir) dan alhamdulillah saya masih bisa menemukan indomie dan popmie, cukup untuk menahan rasa lapar hehe. Jadi kalian yang mau ke Khumaitsarah jangan lupa bawa bekal yang tahan untuk 3 hari yaa! seperti empal daging atau teri balado (hhhmmmm jadi laper nih hehe….)

Wasiat dan Nasihat Syekh Abul Hasan Ali Asy Syadzili

• Jika Kasyaf bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunah, tinggalkanlah Kasyaf dan berpeganglah pada Al Qur’an dan Sunah. Katakan pada dirimu : Sesungguhnya Allah SWT menjamin keselamatan saya dalam kitabnya dan sunah Rasulnya dari kesalahan, bukan dari Kasyaf, Ilham, maupun Musyahadah sebelum mencari kebenarannya dalam Al Qur’an dan Sunah terlebih dahulu.

• Kembalilah dari menentang Allah swt, maka engkau menjadi Ahli Tauhid. Berbuatlah sesuai dengan rukun-rukun Syara’, maka engkau menjadi Ahli Sunah. Gabungkanlah keduanya, maka engkau menuju kesejatian.

• Jika engkau menginginkan bagian dari anugerah para wali, berpalinglah dari manusia kecuali dia menunjukkanmu kepada Allah swt dengan cara yang benar dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunah.

• Seandainya kalian mengajukan permohonan kepada Allah swt, sampaikan lewat Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali. Kitab Ihya Ulumuddin Al Ghazali mewariskan Ilmu; sedangkan Qutub Qulub Al Makki mewariskan cahaya kepada kalian.

• Ketuklah pintu zikir dengan hasrat dan sikap sangat membutuhkan kepada Allah swt melalui kontemplasi, menjauhkan diri segala hal selain Allah swt. Lakukanlah dengan menjaga rahasia batin, agar jauh dari bisikan nafsu dalam seluruh nafas dan jiwa, sehingga kalian memilki kekayaan rohani. Tuntaskan lisanmu dengan berzikir, hatimu untuk tafakur dan tubuhmu untuk menuruti perintah-Nya. Dengan demikian kalian bisa tergolong orang-orang saleh.

• Manakala zikir terasa berat di lisanmu, sementara pintu kontemplasi tertutup, ketahuilah bahwa hal itu semata-mata karena dosa-dosamu atau kemunafikan dalam hatimu. Tak ada jalan bagimu kecuali bertobat, memperbaiki diri, hanya menggantungkan diri kepada Allah swt dan ikhlas beragama.

Darma Ami Fauzi Mahasiswa Al-Azhar Kairo, Mesir


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *