Oleh: Muarif Rifat Syauqi

Tinta emas sejarah mencatat bahwa kaum santri selalu tampil memberi sumbangsih dan mencurahkan darma baktinya bagi eksistensi Negara dan Bangsa Indonesia, baik pada periode; Pra-Kolonial, Zaman Kolonial, Era Kemerdekaan, Orde Baru, dan Reformasi. Penelitian dan buku sejarah merekam semua tentang ini, dan menjadi sebuah fakta sejarah bahwasannya santri selalu senantiasa memberikan sumbangan yang maha penting dan berharga bagi masyarakat Bangsa Indonesia. Bukan hanya dalam pembentukan karakter positif yang luhur bagi individu-individu anak bangsa, melainkan juga bagi utuhnya sistem Negara dan Bangsa dengan seluruh pilarnya.

Pesantren merupakan ujung tombak dan kunci perubahan di Nusantara. Dulu Nusantara mayoritas menganut Agama Budha dan Hindu, namun setelah datangnya para wali terutama di Daerah Jawa yang terkenal dengan sebutan ‘walisongo’. Yang mana mereka membangun sebuah surau (pondok) sebagai pusat penyebaran agama Islam. Menurut Prof Anthony Johns, peristiwa sejarah Islamnya Nusantara merupakan peristiwa yang menakjubkan, karena pada abad 13-16 M imperium Islam mengalami kemunduran di Timur Tengah, dan berlangsung dengan cepat tanpa bantuan negara/militer manapun.

Sejak masa penjajahan, kontribusi santri dan para kiai sangatlah besar bagi kemerdekaan Indonesia bahkan dalam buku klasik milik jurnalis Mesir yang bertajuk ‘al-‘Allamah Hasyim Asy’ari Wadhiu’ Libinati Istiqlali Indonesia’ yang sudah diterjemahkan oleh KH. Musthafa Bisri kedalam bahasa Indonesia. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sesungguhnya tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia dipicu oleh adanya resolusi jihad dari KH Hasyim Asy’ari.

Saat ini pesantren perlu tampil kembali dengan memegang prinsip menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik untuk menjadikan generasi muda Indonesia yang berkualitas dalam berbagai aspek seperti ilmu pengetahuan, moral, profesionalitas, dan nasioanalisme agar bisa menjawab tantangan zaman di era globalisasi ini, dimana ilmu tekhnologi (iptek) semakin melesat begitu cepat.

Peradaban Indonesia modern ini tidak boleh terjepit oleh peradaban lain, apalagi kehilangan dasar-dasar peradabannya sendiri. Kita punya bibit dan peradaban sendiri yang sangat kuat. Sekarang ini peran dari pesantren sangatlah diperlukan untuk memperkuat Sumber Daya Manusia. Santri harus menjadi pemain, jangan sampai hanya menjadi penonton saja.

Santri sebagai output pesantren, tidak hanya mempunyai intelektualitas yang tinggi, melainkan juga menjadi sosok yang memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata. Santri hidup dan digembleng tentang arti solidaritas, tenggang rasa, dan kebersamaan dalam memperoleh ‘piwulang’ integral dari segi moral sampai dengan keterampilan hidup (life skill). Santri dididik soal keduniaan sampai keakhiratan. Inilah karakter pendidikan pesantren yang komunal, integral, dan futuristik. Santri itu adalah penjelajah intelektual yang kritis, moderat dan toleran. Seorang santri itu mempunyai rasa cinta terhadap Tanah Air, mengapa demikian? Karena didalam tubuh santri itu telah mengalir darah nasionalisme, mandiri, sederhana, ikhlas, asketis, rendah hati, selalu istiqamah menjaga marwah diri, dan visioner.

Pergerakan santri harus lebih luas untuk menyentuh segala lini di masyarakat, termasuk mengisi lokus-lokus strategis dalam kepemimpinan nasional. Santri mempunyai modal yang kuat dalam kepemimpinan nasional, diantaranya adalah legalitas sejarah, keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum yang membuat santri lebih objektif, terbiasa dididik agar memiliki semangat berkorban, bertanggung jawab, juga peduli terhadap lingkungan sekitar (cultural and social responsibility). Digemblengnya santri-santri itu bertujuan supaya perilakunya menjadi lebih baik, serta dididik dengan menggunakan prinsip Ahlu as-Sunnah Wa al-Jama`ah (Aswaja) & nilai-nilai ke-Indonesia-an.

Jikalau suatu kepemimpinan itu dipegang/dipimpin oleh santri akan menjadik lebih bermartabat. Disamping itu, santri juga dapat membawa bangsa ini pada jati diri dan karakter yang kuat. Seperti halnya pada saat kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang sangat kental dengan kesantriannya mampu membuat Bangsa dan Negara Indonesia ini disegani oleh berbagai negara-negara di Dunia. Inilah yang menjadikan bukti bahwasannya santri itu mampu & bisa memimpin Bangsa dan Negara ini. Juga dapat membuat bangsa ini berkarakter luhur, serta yang terpenting adalah santri itu harus terus berkontribusi untuk Negeri.

Santri harus terus-menerus mengembangkan diri guna meneruskan estafet perjuangan para pendahulunya. Saat ini perlu dipikirkan lagi bagaimana cara untuk menciptakan santri agar memiliki kemampuan diferensial dan distinctive dalam menghadapi perkembangan & perubahan mondial (global) dan dapat berkiprah didalam wilayah-wilayah sosial, ekonomi, politik maupun pemerintahan. Santri bukan hanya menguasai kitab-kitab kuning saja, akan tetapi juga mampu survive dan memberikan warna tersendiri dalam berbagai sektor kehidupan.

Di Era Milenial ini, santri di-fardhu ‘ain-kan untuk melakukan jihad-jihad kekinian di zaman kacau (message) dalam hal ini, tetap dengan memegang teguh pada prinsip, “Muhafadhah ‘ala al-qadimi as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah wa al-ishlah ila ma huwa al-ashlah tsumma al-ashlah fa al-ashlah.” Santri harus menjadi generasi Bangsa yang moderat dan toleran. Santri harus aktif dan berani mentransfer, mengampanyekan sekaligus mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti kekerasan. Santri adalah garda terdepan yang mendakwahkan Islam dengan teduh, bukan dengan kerusuhan. Santri harus menjadi ‘promotor’ persatuan, perdamaian, dan ketertiban. Bukan menjadi ‘buzzer’ kemunkaran, permusuhan, fitnah dan ujaran-ujaran kebencian. Santri itu juga harus serbaguna, serbabisa dan multitalenta. Santri tidak boleh kudet (kurang update). Santri harus berpikir konstruktif, reflektif, aktif, efektif, kreatif dan inovatif. Santri harus terus menjadi pelaku sejarah, bukan menjadi beban sejarah. Dan juga santri harus menjadi paku bumi.

Kaum pesantren harus percaya diri saat berperan di tingkat Nasional mau pun Internasional. Di Dunia, khususnya negara-negara Eropa kini sedang tertarik dengan karakter ke-Islam-an di Nusantara, bahkan beberapa pengamat luar negeri yang mencermati pesantren di Nusantara, mereka percaya bahwasannya Islam di Indonesia adalah pemimpin masa depan Dunia.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *