Masih hangat dalam benak, pasca Hari Raya Idhul Adha, Kairo masih diselimuti kesunyian. Toko-toko masih tertutup rapat di setiap sudut kota. Tak lagi terdengar gemuruh mesin pembuat roti, maupun para penjaja kaki lima yang biasanya lumrah terlihat di sepanjang jalan. Kemanakah mereka orang-orang Mesir yang biasanya akrab dengan kebisingan? Ya sebenarnya suasana seperti ini sudah biasa saya rasakan. Setelah 4 kali melalui Hari Raya Idul Adha di Negeri Mesir membuat saya paham bahwa setiap Negara punya cara masing-masing dalam merayakannya. Bagi orang-orang Mesir, Idul Adha menjadi ajang tradisi berlibur dan pulang kampung. Mengambil cuti 1-2 minggu dalam rangka menikmati daging qurban dan bercengkrama dengan sanak keluarga. Berkebalikan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri, kebanyakan orang mesir hanya berekreasi ke taman-taman dengan keluarga.


Bagi mahasiswa Indonesia, di Hari Raya Idul Adha masih ada yang hanya menikmati sebungkus mie instan. Faktornya, bukan karena tidak ada daging. Lebih karena malas keluar rumah. Padahal setiap kekeluargaan dari berbagai daerah atau lembaga pendidikan mengadakan open house untuk mahasiswa Indonesia. Seperti KBRI Kairo yang bekerja sama dengan PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia) menyediakan hidangan hari raya setelah sholat idul adha dilaksanakan. Jadi sebenarnya tidak ada cerita rindu semur, gulai, rendang dsb. bagi para mahasiswa indonesia, karena undangan Open House bertebaran dimana-mana, asal kamu mau bergerak saja untuk datang.

Kekeluargaan tiap daerah pasti disibukan dengan membagi-bagi daging qurban. Biasanya para dermawan dari orang-orang Mesir membagikan daging melalui kekeluargaan daerah agar terkoordinir dan merata. Jarang dibagikan perorang, kecuali ada mahasiswa yang sudah sangat dekat dan akrab dengan orang mesir.
Tingkat solidaritas mahasiswa Indonesia sebenarnya sudah tidak perlu diragukan lagi, apalagi dengan kemandiriaannya. Itu terbukti pada saat ini, menghidangkan satu kurang lebih 1000 tusuk, gulai hampir 500 porsi dan nasi yang entah beberapa puluh kilo dimasak, dan itu semua hampir dikerjakan oleh kaum adam. Terkadang dalam proses penyembelihan, mengkuliti, pembersihan bagian dalam dan pemotongan daging, itu langsung ditangani oleh lara mahasiswa Indonesia. Yaa… walaupun hal tersebut sudah tidak asing bagi mereka yang di Indonesia, akan tetapi di sini menjadi bukti sejauh mana orang Indonesia jiwa mandirinya akan tetap ada.
Dalam proses penyembelihan hewan qurban, saya pribadi lebih suka di Indonesia karena lebih rapih dan tidak sembarangan memilih tempat menyembelih. Berbanding terbalik dengan kebiasaan di Mesir. Hewan qurban disembelih di tepi-tepi jalan atau di lorong-lorong depan flat. Tidak adanya selokan membuat darah-darah hewan qurban berceceran dan menggenang sembarangan. Walaupun ada sedikit keunikan yang terjadi, yakni tidak tercium bau amis darah sedikitpun meski jalanan dipenuhi genangan darah hewan qurban yang tercampur siraman air.

Proses penyembelihan hewan qurban


Lebaran Idul Adha di Negeri Musa ini, saya tidak hanya melihat penyembelihan hewan qurban seperti sapi, kambing dan hewan qurban lainnya yang lumrah di Indonesia. Di sini saya melihat bagaimana unta disembelih. Cara penyembelihannya terlihat sangat mudah dibandingkan sapi atau kerbau, yang mana seseoarang harus menggulingkan atau membaringkannya terlebih dahulu lalu disembelih. Namun unta cukup berbeda, biarkan saja ia tetap berdiri, penyembelih hanya perlu memotong bagian leher bawah saja setelah itu unta akan jatuh.


Orang mesir tidak pernah membuat saya tercengang kaget, kalau di Indonesia mereka butuh orang banyak dalam menyembelih sapi atau kerbau, seperti 2 orang menahan badanya, 2 oranga menahan kakinya, dan 2 orang menahan kepalanya. Namun orang mesir hanya butuh 1 orang saja untuk menyembelih sapi. Ia membantingnya (sapi) seorang diri lalu setelah itu ia begegas mengambil pisau tajam yang seseorang lain memberikannya. Nah sungguh mengagumkan bukan berlebaran di Negeri Piramida ini.

Darma Ami Fauzi

Mahasiswa Al-Azhar Mesir


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *