Bagi Sebagian orang menjadi pelajar luar negeri merupakan sebuah cita-cita, apalagi dengan beasiswa. Berdasarkan Pengalaman pribadi, mendapat kesempatan belajar di Negeri orang adalah hal yang sangat luar biasa. merasakan bagaiamana rasanya diterima di universitas tertua di dunia lalu memberitahukan kepada keluarga merupakan kebanggaan tersendiri.

Berita diterimanya saya di universitas Al-Azhar tidak hanya sampai ditelinga keluarga saja, bahkan ini menjadi buah bibir di daerah sekitar rumah saya. Sajungan dan ucapan selamat, ditambah rasa bangga itu ditunjukan kepada kedua orangtua saya. Kurang lebih memang itu yang saya harapakan. Sebab ketidakmampuan saya dalam membahagiakan orang tua secara materi, menjadikan kelulusan seleksi tersebut sebagai sebuah jalan yang harus saya tempuh dengan sungguh-sungguh untuk membahagiakan orang-orang terkasih. Walaupun semua yang saya peroleh tidak luput dari doa dan dukungan mereka.

Setiap kebahagiaan, tidak akan terasa bahagia jika didapat tanpa suka cita. Bukan hanya ucapan selamat, pujian serta dukungan positif yang saya terima. Kalimat-kalimat negatif seperti cemoohan juga saya dapatkan.


“Yang seperti kamu kok ke Mesir?”


“Seharusnya bukan kamu yang diterima untuk Belajar di Mesir!”.


Sakit hati, sudah jelas. Bahkan sampai detik, kalimat-kalimat tersebut masih saya ingat dengan begitu jelas seolah baru terjadi kemarin sore. Dalam hidup, cemoohan bagi saya hal yang biasa. Nabi yusuf saja pernah merasakan cemoohan dari saudara-saudaranya sendiri, sampai dibuang jauh dan dikabarkan telah meninggal. Cemoohan tersebut saya terima dan saya jadikan amunisi motivasi belajar sampai hari dimana saya sukses nanti.

Selain itu, menjadi Pelajar Luar Negeri memiliki sisi yang sangat mengerikan juga loh! Kenapa? karena di balik pujian yang kita terima, kelak kita juga akan dituntut dengan ekspetasi besar atas standar sosial. Tuntutan terssebut merupakan suatu tanggung jawab yang harus kita pikul selama kita belajar di luar negeri. Guna sebagai acuan bahwa kita harus sukses dan bermanfaat bagi banyak orang ditanah air kelak, bagaimanapun caranya.

Dalam opini saya pribadi ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan ketika kamu diberi kesempatan menjadi pelajar luar negeri :

A. Jangan lupa dengan tujuan awal. Jika kamu memang pergi keluar negeri dengan tujuan belajar, maka belajar adalah hal prioritas utama kamu. jangan goyah dan terlena dengan hal yang bisa membuat kamu lupa akan tujuan.

B. Harus pintar-pintar mengatur waktu. Banyak para mahasiswa yang terbengkalai kuliahnya, bukan karena dia tidak serius belajar atau karena mereka tidak pintar ! melainkan karena pada dasarnya dia tidak bisa mengatur waktu. Seperti halnya kamu bekerja part time atau aktif di dalam kegiatan organisasi. Bukannya dilarang, tentu saja hal merupakan kegiatan positif. Akan tetapi, sebelum kamu mengambil keputusan tersebut ( partime atau organisasi), kamu harus pandai menilai kapasitas diri kamu sendiri dulu yaa, sekira kamu sanggup gak yaa,? untuk membagi waktu belajar dengan kegiatan lain. Jangan sampai yang wajib dikalahkan oleh sunnah atau kamu lebih mendahulukan yang sunnah dari pada yang wajib ; belajar.

C. Pandai-pandai bergaul. Hal ini yang saya pribadi kritisi. Kamu harus menjadi orang yang berprinsip dan bisa memfilter mana pergaulan yang baik dan mana pergaulan yang buruk. Di saat kamu mendapatkan banyak teman baru, maka jangan lupakan teman lama kamu, jangan sampai kamu jauh-jauh keluar negeri tapi kamu malah melupakan teman-teman kamu. Hal ini yang saya lihat langsung loh, mungkin kamu juga nanti akan menemuinya. Punya teman merasa lebih baik hingga enggan bergaul atau kumpul-kumpul lagi bareng kamu. Jangankan untuk bergaul dan berkumpul seperti dulu bahkan untuk bertegur sapa saja ia enggan. Alasannya sih, kumpul-kumpul bareng teman lama hanya buang-buang waktu dan dianggap tidak bermanfaat. Ya itu sudut pandang dia, saya hanya berhusnudzon. Mungkin, teman seperti itu ngajinya belum sampai ke bab hikmah dari bersilaturahmi sepertinya !.


So, buat kamu yang sudah menjadi pelajar luar negeri Atau kamu yang baru niat untuk melanjutkan studi ke luar negeri tetap sambung silaturahmi kamu dengan teman-temanmu ya.

D. Cari teman dekat yang senantiasa memberikan dampak positif buat kamu. Pepatah bilang, kalau kamu bergaul dengan tukang minyak wangi, maka wanginya akan tertular kepadamu, tapi kalau kamu bergaul dengan tukang pandai besi, maka bau besi yang akan tertular kepadamu. Dalam menjalani hidup di negeri orang kamu membutuhkan seorang teman dekat yang bisa membantu kamu dalam segi moral maupun moril, Sesekali kamu akan merasakan jenuh, home sick atau hal yang membuat kamu galau dan tidak nyaman terhadap lingkungan. Di sanalah gunanya teman dekat yang senantiasa mendukung agar kamu tetap semangat.

Di awal tulisan, saya menuliskan tentang cita-cita menjadi pelajar luar negeri adalah hal yang di dambakan oleh sebagian orang. dan hal itu menjadi hal yang sangat luar biasa bagi masayarkat kita, kalau kamu mau memilih menuntut ilmu dari negeri ke negeri sudah di contohkan oleh para sahabat dan ulama terdahulu. bahkan sahabatpun mencotohkannya. Imam syafi’i melakukan perjalanan dari negeri ke negeri menapaki kaki dari Makkah, Madinah, Baghdad lalu ke Mesir. Begitu juga Imam Asy-syadzili mencotohkan kepada kita tentang perjuangannya mencari guru spiritual. Dikalangan ulama nusantara ada Syeikh Yasin Al-Fadani ulama hadits asal Indonesia. Kemudian juga tentang pengebaraan dari satu tempat ke tempat yang lain memberikan hikmah yang luar biasa, Imam Syafi’i pun menuliskan dalam syai’rnya :


ما في المَقامِ لِذي عَقلٍ وَذي أَدَبِ # مِن راحَةٍ فَدَعِ الأَوطانَ وَاِغتَرِب


Orang yang berakal dan berbudaya takkan tenang berdiam di satu tempat
Karena itu, tinggalkanlah kampung halaman dan mengembaralah!


سافِر تَجِد عِوَضاً عَمَّن تُفارِقُهُ # وَاِنصَب فَإِنَّ لَذيذَ العَيشِ في النَصَبِ


Pergila, niscaya kau akan menemukanganti dari orang yang kau tinggalkan
Dan berusahalah karena kenikmatan hidup ada dalam usaha


إِنّي رَأَيتُ وُقوفَ الماءِ يُفسِدُهُ # إِن ساحَ طابَ وَإِن لَم يَجرِ لَم يَطِبِ


Aku melihat genangan air dapat merusak air tersebut
Sekiranya air itu mengalir niscaya ia menjadi baik, jika ia diam maka ia menjadi rusak


وَالأُسدُ لَولا فِراقُ الأَرضِ مااِفتَرَسَت # وَالسَهمُ لَولا فِراقُ القَوسِ لَم يُصِبِ


Seekor singa, jika tidak meninggalkan hutan, ia tidak akan menjadi buas
Anak panah, jika tidak meninggalkan busur, ia tidak akan mengenai sasaran


وَالشَمسُ لَو وَقَفَت في الفُلكِ دائِمَةً # لَمَلَّها الناسُ مِن عُجمٍ وَمِن عَرَبِ


Jika matahari selamanya tetap pada orbitnya
niscaya orang arab dan non- arab akan bosan memlihatnya


وَالتِبرُ كَالتُربِ مُلقىً في أَماكِنِهِ # وَالعودُ في أَرضِهِ نَوعٌ مِنَ الحَطَبِ


Emas itu seperti tanah jika dibiarkan di tempat aslinya
Dahan yang jatuh ke tanah hanya akan menjadi kayu bakar


فَإِن تَغَرَّبَ هَذا عَزَّ مَطلَبُهُ # وَإِن تَغَرَّبَ ذاكَ عَزَّ كَالذَهَبِ


Jika seseorang mengembara maka pencariannya akan mulia
Jika ia mengembara maka ia akan mulia seperti emas

Dalam syairnya Imam Syafi’I menegaskan sangat dalam tentang pentingnya mengembara dan keluar dari zona nyaman, seperti yang beliau katakan dalam bait syairnya ; emas yang tidak dikeluarkan dari tanah karena dibiarkan maka nilai emas itu tidak ada. Begitupun dengan manusia yang hanya berdiam di kampung halaman, enggan untuk berinteraksi dengan luar, bersosialisasi dengan banyak orang, mencari pengalaman yang belum dicoba maka sangat disayangkan kemuliannya dalam menjalani hidup belum sempurna.


So, buat kamu yang sudah mantapkan niat untuk menjadi pelajar luar negeri maka kejarlah, jang putus asa serta jangan lupa untuk selalu meluruskan niat karena terkadang niatnya kita menjadi pelajar luar negeri hanya sebetas ketenaran social media atau berlindung di balik besarnya nama Universitas semata.


Darma Ami Fauzi
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo Mesir


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *