(Bagian ketiga)

Setelah membahasa tentang tekad seorng pemuda di tulisan sebelumnya, kita akan meneruskan pembedahan kita pada bait-bait yang menjadi contoh dalam nadhom ‘Imrithy. Pada bab I’rab al-Fi’li terdapat sebuah bait كلا ترم علما وتترك التعب artinya, seperti kalimat,”Janganlah kau menginginkan ilmu sedangkan rasa lelah kau tinggalkan.”

Dalam bait ini seakan-akan Syaikh Syarafuddin al-‘Imrithy ingin menegur para pelajar yang tengah menuntut ilmu. Betapa besarnya cita-cita serta keinginan kita untuk meraih ilmu yang telah Allah sediakan di dalam samudera anugerahNya. Kita tinggal menyiduknya saja, meski akhirnya hanya ada setetes ilmu yang kita dapatkan dari samudera yang luas itu. Mungkin setetes, bahkan tidak sampai. Namun dalam proses belajar kita akan menemukan banyak rintangan, salah satunya rasa malas dan enggan merasa lelah, tidak mau capek.

Sifat buruk ini mestilah kita hilangkan. Tak ada harapan mendapatkan ilmu bagi seorang yang bermalas-malasan serta tidak mau lelah untuk mencapainya. Kita harus berusaha, bersungguh-sungguh, bertirakat dengan, misalnya bangun malam, muthola’ah, muroja’ah, puasa sunnah dan lain-lain. Jika saja seorang pelajar dapat mengamalkan tirakat serta meningkatkan kualitas belajarnya, maka insyaAllah ia akan menjadi orang yang bermanfaat di masyarakat kelak.

Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syaikh az-Zarnûji terdapat pembahasan mengenai usaha, ketekunan dan semangat belajar. Pada intinya Syaikh az-Zarnûji ingin menghimbau kepada para pelajar bahwa ilmu tak akan di dapat seacara maksimal melainkan dengan melakoni tiga hal yang telah disebutkan tadi. Usaha, tekun dan semangat.

Beliau menyebutkan:

ثم لا بد من الجد والمواظبة والملازمة لطالب العلم، وإليه الإشارة فى القرآن بقوله تعالى: يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ  (سورة مريم، الآية 12) و قوله تعالى: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (سورة العنكبوت الآية 69)

Kemudian seorang pelajar haruslah berusaha, tekun dan telaten untuk menuntut ilmu. Terdapat petunjuk bagi penuntut ilmu dalam hal ini dalam al-Quran, dalam firman Allah SWT, “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” (QS Maryam:12), dan firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS al-‘Ankabût: 69). (Syaikh Burhanuddin az-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’allim fî Tharîq at-Ta’allum, Dar Ibn Katsîr, halaman 69)

Kedua ayat diatas menegaskan kepada kita akan pentingnya sifat bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu. Cobalah menjadi profesional dalam menjalankan suatu tugas, salahsatunya adalah menuntut ilmu. Idzā kunta fî amrin fakun fîhi muhsinan, apabila engkau dalam mengerjakan suatu perkara, jadilah engkau orang yang berbuat baik. Orang yang baik dalam mengerjakan sesuatu adalah yang mengerahkan seluruh usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Tepatnya ia mencoba menjadi orang yang profesional, meski masih dalam tahapan belajar. Jika belum bisa menjadi profesional, maka mulailah belajar menjadi profesional.

Lantas apa sebenarnya manfaat dari bersungguh-sungguh? Daintaranya yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah bait syair gubahan Imam asy-Syafi’i dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim yang disenandungkan oleh Syaikh al-Imam Sadîduddin asy-Syairāzi kepada Syaikh az-Zarnûji:

الجـــد يــدنـى كــل أمـر شـاسـع             ۞            والـجــد يفــتـح كــل باب مــغـلـق

Kesungguhan mendekatkan setiap perkara yang luas, dan membuka segala pintu yang terkunci. (Syaikh Burhanuddin az-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’allim fî Tharîq at-Ta’allum, Dar Ibn Katsîr, halaman 70)

Semoga dengan pemaparan diatas, kita dapat menambah semangat kita dalam belajar. Ingatlah, tiga perkara yaitu kesungguhan, ketekunan dan ketelatenan adalah sifat yang harus ditanamkan dalam diri masing-masing. Jangan sia-siakan masa muda. Keep spirit!


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *