Perjalanan Hidup tidak selalu lurus, kadang ada lika-liku yang harus dilewati oleh setiap manusia, hidup tak hanya menceritakan tentang kesenangan semata, kadang kesedihan juga menjadi pembahasan perjalanan seseorang dalam menjalani kehidupan. kesedihan, kesulitan, sakit atau yang lainnya sering sekali kita menyebutnya sebagai Bencana atau musibah yang allah berikan kepada hamba-Nya.

Tapi pernahkah kita berfikir bahwa dibalik itu semua (kesedihan, kesulitan, sakit, musibah) memiliki hikmah yang sangat besar disisi Allah SWT. Imam Ibnu Atha’ilah dalam Kitab Hikamnya menjelaskan, Bagaimana Seharusnya kita Menyikapi Musibah yang datang menimpa kita? Dalam Baitnya Imam Ibnu Atha’ilah mengutip:

إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُفِ فلا تُبَالِ مَعَها أَن قَلَّ عَمَلُكَ, فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إلَّا وَهُو يُريد أن يَتَعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلم تَعْلَم أنَّ التَّعرُّفَ هُو مُوردُهُ عَلَيكَ , والأعمَال أَنتَ مُهدِها إِليهِ , وأَيْنَ مَا تُهدِيهِ إلَيهِ مِمّا هُوَ مُورده عَليكَ

Artinya:

“Jika Dia (Tuhan Yang Maha Benar) ingin membuka diri (Melalui penderitaan yang menimpamu) untuk engkau kenal, maka (bergembiralah, bersuka citalah) dan jangan bersedih hanya gara-gara amal dan pekerjaanmu yang berkurang karena penderitaan itu.

Sebab, Dia tak akan diri seperti itu kecuali memang agar engkau bisa mengenal-Nya lebih dekat. Apakah engkau tidak tahu bahwa perkenalan itu adalah sesuatu yang Dia anugrahkan pada dirimu, sementara amal-amalmu adalah sesuatu yang engkau persembahkan kepada-Nya. Bagaimana mungkin engkau akan membandingkan persembahanmu dengan anugrah-Nya?”

Sungguh dalam makna yang Imam Ibnu Athailah jelaskan, sudah cukup bagi kita bait ini sebagai pencerah dalam menjalani hidup kita, seorang ahli ibadah yang gemar beribadah kepada allah, namun seketika ia dilanda penyakit sehingga membuat ia tak lagi gemar beribadah dikarnakan kondisi yang tidak memungkinkan sehingga hanya amal wajib saja yang bisa ia tunaikan. Atau seorang pekerja yang semangat bekerja demi menabung untuk menikah atau demi menafkahi anak dan istrinya, tiba-tiba ia dipecat dari pekerjaannya, Atau seorang Penuntut Ilmu yang pergi jauh meninggalkan tanah kelahirannya, seketika ia kehabisan bekal dan membuat ia sulit untuk berkonsentrasi dalam belajarnya.

Maka  dari kondisi itu semua janganlah bersedih! Sebab kondisi seperti itu memiliki sebuah hikmah yang sangat dalam, Allah sedang membukakan Pintu perkenalannya kepada kamu, kepada seorang ahli ibadah yang tiba tak lagi gemar karena penyakit, seorang pekerja yang di PHK dan seorang Pelajar yang kahabisan bekal.

Kesedihan kadang menjadi sebuah bukti bahwa manusia memang makhluk yang berperasaan, maka jalan untuk melalui kesedihan itu adalah bersabar, allah berfirman dalam hadits qudsi :

إِذَا ابْتَلَيتُ عَبْدِي المُؤمِن , فَلَم يَشْكُني إلَى عُوّادِه أَنشَطْتُهُ مِن عِقَالي, وَأَبدَلتُهُ لحمًا  خيرًا  مِن لَحمهِ وَدمًا مِن دمِه , وَلِيستَأنفِ العَملَ.

Artinya : “Jika Aku ( Allah ) memberikan cobaan (musibah) kepada hamba-Ku yang beriman  sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya maka Aku akan melepaskannya dari tahananKu (Penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya dan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” (HR. Al-Hakim, shahih)

Kebijaksanaan Syeikh Ibnu Atha’ilah memiliki pesan hikmah dari sebuah penderitaan yang sering dialami oleh setiap manusia, dan penderitaan yang menimpa kepada seorang hamba baik penyakit kemiskinan atau yang lain sebagainya kerap membuat seorang hamba berputus asa atau bahkan sampai mengutuk Tuhan, dalam pembahasan Bait minggu lalu kita sudah mengkaji bait sang imam tentang tetap bersabar dalam menunggu jawaban dari doa-doa yang selalu kita panjatkan meskipun  doa itu datangnya terlambat atau bahkan jawaban dari doa kita berbeda dengan apa yang kita inginkan, maka sekarang sang imam melanjutkan baitnya dengan mengambil hikmah dari sebuah penderitaan yang menimpa seorang hamba, maka dari itu dalam kondisi tertimpa musibah baik penyakit, kemiskinan atau yang lainnya, janganlah menceritakannya kepada semua orang bahkan menceritakannya dengan kondisi mengeluh dan hilang rasa husnudzon kepada Allah Swt, boleh-boleh saja seorang hamba menceritakan atas musibahnya yang menimpanya kepada orang lain dengan catatan tidak kesemua orang ia ceritakan melainkan kepada seseorang yang memang betul-betul memberikan solusi atas musibah tersebut dan keluhannya kepada orang lain harus tetap dibarangi dengan rasa syukur kepada Allah Swt dan harus tetap memuji kepada Allah Swt.

Bersyukur dalam kondisi tertinpa musibah bukanlah hal perkara yang mudah, bila seseorang sedang mendapatkan nikmat yang sangat luar biasa, maka tidak aneh baginya kalua ia senang bersyukur sambal memuji-muji allah, yang sulit adalah kondisi seseorang dalam menerima musibah baik penyakit, dipecat dari pekerjaan, habisnya bekal dalam perjalanan menuntut ilmu, tidak lulus dalam ujian sekolah, perjalanan bisnis kian bangkrut atau bahkan dalam kondisi tuntutan sang calon mertua untuk untuk segera menikahi putrinya sedangkan secara finansial belum siap maka jarang mereka yang tetap bersyukur sambal memuji Allah dalam kondisi sempit seperti ini, kecuali mereka yang memang tetap bersabar dan sering melatih hatinya untuk tetap berhusnudzon kepada Allah Swt. Maka cara melatih hati agar tetap berhusnudzon kepada Allah Swt dalam keadaaan tertimpa musibah adalah yakin bahwa cobaan yang datang itu adalah cara Allah menganugrahkan perkenalannya lebih dekat kepada Hambanya.

Darma Ami Fauzi

Mahasiswa Al-Azhar Kairo, Mesir


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *