Oleh: M.Salapuddin: Peserta program Santri Indonesia Untul Perdamaian Dunia di China 2019

Bagi orang mampu, cerita pergi ke luar negeri mungkin sangat biasa. Tapi bagi orang kurang mampu, pergi ke luar negeri tentu sesuatu yang sangat luar biasa. Pun halnya bagiku. Aku merasa sangat beruntung berkesempatan ke China dan Malaysia. Dan itu dalam program yang dari namanya saja sudah sangat prestise, “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”.

Baiklah, aku tidak akan bercerita tentang bagaimana kegiatan itu karena sudah kuposting secara berkala di status-status sebelumnya. Bila tuan-puan ingin tahu, silakan baca saja di dindingku. Aku ingin bercerita tentang rentetan peristiwa sebelumnya. Dan aku ingin memulai dari “Paspor dan Robbana Ma Kholaqta Hadza Bathila“.

Apa kaitan keduanya?

Aku bikin paspor setahun yang lalu. Bulan November 2018, tepatnya. Waktu bikin paspor, aku ditanya oleh petugas, “Untuk apa?”

Aku jawab sekenanya, “Untuk studi lanjut ke luar negeri.”

Aku jawab sekenanya, yang penting petugas punya alasan untuk membikinkanku paspor.

M.Salapuddin
Peserta program Santri Indonesia Untul Perdamaian Dunia di China 2019

Aku benar-benar menjawab sekenanya karena memang sampai sekarang pun belum ada keinginan untuk studi lanjut di luar. Ini semata-mata karena bidang keahlian yang ingin kudalami rasanya lebih pas untuk digali di dalam negeri. Berbeda kalau aku ingin belajar teknologi atau IT, misalnya, tentu lebih baik di luar.

Aku jawab sekenanya begitu, petugas percaya saja. Jadilah aku punya paspor. Tapi aku bolak-balik tiga kali ke imigrasi Semarang (waktu itu aku bikin di samping kantor pengadilan di Purwoyoso, Semarang, karena tidak tahu kalau di Manunggal Jati ternyata juga bisa bikin).

Saat aku sudah punya paspor, barulah kemudian aku berpikir, untuk apa ini ya? Aku kemudian berpikir, “ah barangkali nanti ada yang mengumrohkanku.” Aku benar-benar percaya diri waktu itu. Aku memang selalu berusaha membangun kepercayadirian yang kuat karena buat orang sepertiku yang anak orang biasa dengan ekonomi juga biasa, apa lagi yang bisa kuandalkan kalau percaya diri saja tak punya? Tentu juga sambil terus belajar.

Penulis bersama teman-teman Program Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia di China

Di tengah-tengah berpikir untuk apa, aku  kemudian ingat satu hal, “Allah tidak menciptakan sesuatu apa pun yang sia-sia, yang tak ada gunanya.” Robbana Ma Kholaqta Hadza Bathila. Aku benar-benar yakin dan percaya diri kalau aku bakal ke luar negeri. Entah, bagaimana pun caranya dan entah kapan waktunya.

Patokan saya satu, “Allah tidak akan menjadikan sesuatu yang sia-sia, yang tak ada gunanya.” Karena aku sudah bikin paspor (tentu karena Allah aku tergerak bikin paspor), maka tidak mungkin paspor itu sia-sia.

Akhirnya paspor itu kurapali wirid “Robbana Ma Kholaqta Hadza Bathila”. Begitu paspor itu jadi, kupandangi ia dengan saksama sambil kubacakan “Robbana Ma Kholaqta Hadza Bathila”. Berkali-kali.

Sampai ketika kemudian paspor itu kutaruh di lemari, setiap kulihat paspor itu, aku selalu membaca “Robbana Ma Kholaqta Hadza Bathila.” Pokonya setiap lihat paspor itu aku bacakan wirid itu. Barangkali sudah ribuan kali ayat Robbana aku bacakan untuk paspor itu.

Dan benar, akhirnya, satu tahun setelah pembuatan paspor, kesempatan ke luar negeri itu benar-benar nyata. Prosesnya sangat cepat dan benar-benar tidak dinyana-nyana. Makanya, bepergian ini, kalau dibahasaarabkan, yang paling tepat adalah “asro”, dijalankan, bukan “saro”. Kebetulan terbang ke China juga dilakukan di malam hari.

Begitulah Allah. Aku tentu tidak menganggap ini semata-mata buah kerja kerasku. Ini anugerah Allah sekaligus ujian dari-Nya. Dan banyak sekali pihak yang secara “sirron” atau “‘alaniyah” berperan memungkinkan tercapainya keberuntungan ini.

Sungguh aku bersyukur mendapatkan kesempatan ini. Sebagai bentuk syukur itu, di China aku beribadah apa saja yang aku bisa: tahajud, dhuha, hajat, baca Al-Qur’an, baca wirid Tsamrotul Qulub (wiridan yang biasa dibaca di pondok Futuhiyyah), dan lain-lain.

China itu sangat besar. Penduduknya sangat banyak. Tapi yang bersujud kepada Allah tidak banyak, dalam artian kebanyakan mereka tidak menyembah Allah. Karena itu, sujudku di China tentu jadi catatan sendiri buat Malaikat. Apalagi aku datang dari tempat yang jauh.

Di sujud itu aku berdoa, “Ya Allah, anugerahilah hamba-Mu ini untuk bisa bepergian ke mana-mana, ke berbagai negara, agar bisa bersujud dan mengagungkan nama-Mu.” Kalimat ini benar-benar aku patri dalam hati karena jangan sampai aku ke luar negeri hanya ingin bersenang-senang.

‘Alakullihal, setiap orang punya proses yang berbeda-beda. Sampean-sampean juga tentu juga punya proses yang berbeda denganku. Yang penting kita selalu bersyukur kepada-Nya.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

2 Comments

Yulia · December 27, 2019 at 10:47 am

It’s amazing story

Syamsyiah Gafur · February 5, 2021 at 8:40 pm

Aamiiin yaa Robbal’alamin. Semoga berlaku pula untuk kami.
Terus berbagi hal positif…terima kasih dan sukses selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *