Oleh: Mu’arif Rif’at Syauqi

Apa yang kita inginkan tidak semuanya baik, hanya terlihat baik dimata manusia belum tentu baik dihadapan-Nya, manusia hanya bisa merencanakan, sedangkan Dia-lah yang menentukan. Hari demi hari terus berganti, sedangkan impian masih tertancap kuat dalam hati. Terekam dalam memori, tertuliskan pada kertas putih yang kuukir kemarin dipagi hari. Terkadang, impian besar itu membuat diri sendiri mempertanyakannya, karena seakan tak percaya pada diri sendiri yang masih belum bisa apa-apa, hanya bisa bermimpi dan bermimpi.

Usaha semampunya itu menjadi sesuatu yang pasti tanpa membebani. Perlahan tapi pasti, meski tak berlari asal tidak diam diri. Salah satu impian itu adalah aku ingin belajar ke Timur Tengah yang menjadi negara idaman bagi para pelajar muslim Indonesia untuk  berkelana mencari ilmu. Selain itu, aku juga berniat untuk napak tilas para masyaikh Indonesia yang pernah singgah di sana.

Pada akhirnya, waktupun memberi  jawaban atas usaha dan doa yang aku lakukan. Pada saat itu aku berhasil lolos ke Lebanon melalui beasiswa yang dilaksanakan oleh PCINU Lebanon yang bekerjasama dengan KBRI Lebanon. Setelah lama menunggu pengumuman dan keputusan keberangkatan, akhirnya pada tanggal 24 November 2019 ada info terbaru tentang kelanjutan beasiswa itu. Pihak panitia meminta untuk memutuskan jadi atau tidaknya melanjutkan studi di sana. Jika siap, maka akan segera dibuatkan visa dan keberangkatannya sekitar bulan Januari 2020. Namun, aku tidak berani memutuskan sendiri jika tidak ada izin dari guru dan orang tua. Walupun pada saat itu orang tua sudah menyerahkan keputusan kepadaku, tapi izin dari pak kyai belum aku dapatkan.

Berkah ilmu bisa didapat dengan cara menghormati guru, sedangkan berkah kehidupan adalah dengan cara mengormati orang tua, dan keduanya harus kita ambil. Ilmu tak mungkin bisa kita amalkan bila ekonomi dan kehidupan kita sulit (tidak berkah), sedangkan percuma jika hidup bertahta, kaya raya,  dan lain sebagainya, tetapi tidak mengenal ilmu agama. Mana mungkin pula kita bisa mengenal Tuhan, beribadah, bermu’amalah dengan baik dan benar, bila tidak punya ilmunya atau ada ilmu tapi tidak berkah. Aku hanya diberi waktu dua hari untuk memberi keputusan.

Keesokan harinya, tepatnya pada hari Senin 25 November 2019 aku sowan (berkunjung) ke kediaman pak kyai untuk meminta izin dan saran dari beliau. Setelah pengajian selesai, pak kyai biasanya singgah di Guest House. Aku pun langsung menemui beliau yang hampir menyelesaikan makanannya. Ketika mengucapkan salam, beliau menjawabnya lalu berkata, “Ada apa nak?” aku pun mencium tangan beliau dengan penuh rasa ta’dzim kemudian langsung menjelaskan maksud dan tujuan kedatanganku. Ketika telah selesai menjelaskan semuanya, seketika beliau terdiam dan tak lama kemudian beliau berkata, “gak usah nak” dengan nada lirih dan lembut. Intinya, beliau  menyuruhku untuk tetap di pondok saja dan menyelesaikan kuliah di IKHAC (Institut KH Abdul Chalim), ikuti saja pengajian pagi, karena bila keluar dari pondok akan menyesal dan beliau juga bilang, “Sudah semester 3, buang buang waktu saja”. Beliau juga bilang, “Nanti ketika ngaji, ngajinya didekat pak kyai saja”.    Beliau menyuruhku untuk menguasai kitab Hikam, Mukhtar al-Ahadits, dan Muqaranah al-Madzahib. Beliau mengatakan, “Jika sudah paham Hikam, sudah itu pokoknya yang harus kamu pahami untuk bekal nanti”. Sebelum  pamit pulang, beliau menegaskan dan seperti memberi isyarat, jika ingin belajar diluar negeri, maka nanti saat S2 saja dan beliau megakhiri dengan perkataan, “Sudah nak, saran Abah yai itu saja, gak usah kamu berangkat, ngaji dekat pak kyai saja” sambil memberikan uang, lalu sebelum aku pamit, beliau mendoakanku dan doa itu belum bisa aku tulis di tulisanku ini. Akupun langsung pamit untuk kembali ke asrama.

Di perjalanan, mataku mulai berkaca-kaca, bukan karena kecewa tapi terharu atas doa yang beliau panjatkan khusus untukku. Semoga saja doa itu menjadi wasilah keberkahanku dan aku berharap suatu saat bisa menjadi orang yang bisa memberi manfaat pada banyak orang, yakinlah ada hikmah disetiap langkah.

Sebenarnya, aku merasa tidak punya kemampuan untuk bisa lolos apalagi bisa berangkat ke sana, karena memang awalnya tidak ada niatan untuk mengikuti seleksi beasiswa ke Lebanon itu. Cita-citaku adalah belajar di Mesir dan Turki, tetapi beasiswa ke Mesir di tahun 2019 sangat sedikit kuotanya. Aku memutuskan untuk tidak mengikuti beasiswa tahunan itu. Sebelum mengikuti beasiswa ke Lebanon, aku memang sudah mencoba mengikuti beasiswa ke Turki, namun tidak lolos. Kurasa kegagalan itu disebabkan terlalu percaya diri bahwa pasti akan lolos. Berkas-berkas telah kusiapkan untuk mengikuti tes beasiswa ke Lebanon itu. Pengumuman tes awal diumumkan di instagram, tapi pada saat itu namaku tidak ada. Namun, aku sedikit penasaran dan mencoba bertanya pada panitia, ternyata namaku ada, hanya saja tidak tertulis di pengumuman yang diumumkan di instagram PCINU Lebanon. Aku pun lolos ke tahap selanjutnya.

Ketika mengikuti tahap itu, aku berusaha semampunya, meskipun kemampuan membaca kitab kuningku tak seperti membaca cerita seekor kambing. Berbicara bahasa Arab pun masih belum mantap, tapi  aku coba saja sebisanya. Pengumuman tahap dua ini sangat lama sekali kira-kira 1 bulan lebih dan alhamdulillah, hasil pengumuman itu menyatakan aku lolos, hanya saja masuk di cadangan. Dari situlah aku mulai pasrah sepasrah-pasrahnya karena 16 orang yang lolos hanya peserta no urut 1-8 yang pasti berangkat, sebab nilai mereka tinggi. Pada sunyinya malam, aku hanya bisa berdoa dengan lirih, mengadu pada-Nya “Ya Allah, jika ini maslahat lancarkan lah” diiringi dengan sholawat. Beberapa minggu kemudian, di grup whatsapp ada kabar bahwa sebagian dari peserta yang inti mengundurkan diri dikarenakan ada yang sudah kuliah di Jepang, ada yang belum punya paspor, dan alasan lainnya yang menyebabkan mereka mengundurkan diri.

Pada akhirnya, namaku masuk pada peserta inti dan ditempatkan di Daawa University yang terletak di Beirut. Jika mengikuti nafsu jiwa muda yang membara, pasti aku sudah berangkat tanpa peduli apa-apa. Tapi, aku adalah seorang santri yang dididik adab oleh kiai dan aku meyakini Tuhan sudah menyiapkan kejutan-kejutan yang lebih baik dari kisah tadi. Cintaku pada pak kyai itulah penyebab untuk menunda harapan yang ku kejar selama ini.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *