Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan”. (Johann Wolfgang von Goethe, Satrawan Jerman)

Setiap orang memiliki bakat yang beragam dan berbeda-beda, bakat tersebut umumnya telah muncul dan tumbuh sejak kecil dari kecenderungan atau aktivitas yang ia suka. Sehingga dari aktivitas yang ia senangi itulah muncullah hobi.

Asmadi, salah satu pegiat seni dan perintis komunitas ‘Seniman Kecil’.

Kecenderungan (muyūl) ini semestinya terus dia lestarikan hingga dewasa, itu terjadi jika sistem di sekelilingnya atau faktor apapun itu, tidak menuntutnya harus menjadi ini dan itu. Ia bebas menjadi yang ia sukai. Tak ada paksaan dalam profesi. Merdeka dalam beraktivitas, pekerjaan adalah hobi yang dibayar. Kurang lebih idealnya seperti itu, meski realita kadang tidak bersahabat, that’s no problem.

Salah satu hiasan di ruang santai di hostel

Beberapa hari lalu kami pergi ke Kuala Lumpur dalam rangka backpacker, menambah wawasan dan pengalaman kami. Banyak tempat yang kami singgahi, sebagaimana umumnya para wisatawan yang berkunjung ke Kuala Lumpur. Asyiknya, jika kami ingin bepergian ke tempat jauh, kami akan menaiki transportasi umum, sehingga kurang lebihnya memahami grapik dan lingkungan sekitar. Beda halnya jika pergi travelling reguler bersama misal sekolah yang mana jika bepergian mesti menggunakan bis yang telah disewa.

Kami menginap di salah satu hostel yang terletak di Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Hostel tersebut kecil, namun pemiliknya, Asmadi Abdul Wahab, dapat menyulap tempat tersebut menjadi bersih, wangi dan nyaman, kira-kira seperti itulah menurut kami pribadi. Sebab, yang membuat kami tertarik ialah, di hostel tersebut terdapat satu ruangan yang di dalamnya terdapat koleksi-koleksi buku dan tempat bersantai, juga disediakan kopi dan semacamnya, kita tinggal meraciknya saja. Desainnya unik dan memanjakan orang yang datang. Di ruang makan, terdapat lukisan-lukisan sederhana, rupanya itu adalah hasil karya Asmadi dan anak-anak yang tergabung dalam komunitas ‘Seniman Kecil’.

Penulis bersama Asmadi, pegiat seni dan pemilik Hostel.

Asmadi merupakan founder dari komunitas ini, salah satu visinya adalah ‘menyelamatkan bakat melukis dan kesukaan si kecil terhadap seni’. Melihat gerakan dan visi komunitas ini yang postif, memberikan makna bagi kami, melihat bagaimana manusia modern semakin dirantai oleh belenggu formalitas sehingga kapabilitas dan kapasitas dalam diri tidak terbangun dengan baik. Bahkan mungkin terhenti pembangunannya karena ia tidak memahami bagaimana konsep membangun, atau mungkin ia tidak memiliki bahan untuk membangunnya. Dari perjalanan ini, kami mendapatkan banyak inspirasi.

Santri dan Multitalenta

Kamu ini jadi santri jangan cuma bisa tahlilan, baca quran dan baca kitab turats saja, karena santri itu adalah identitas diri, dan profesi adalah sesuatu yang tidak terbatas.” Begitulah kira-kira ucapan salah seorang guru penulis.

Ya, hingga saat ini masih ada beberapa masyarakat yang memahami bahwa santri itu harus jadi penceramah, khatib, guru ngaji quran, ustadz, kiai dan semacamnya. Terbatas pada bakat tertentu. Kendati demikian, perkara-perkara yang menyangkut ilmu pengetahuan serta wawasan kesantrian seperti mampu membaca quran dan kitab turats berbahasa arab, mampu memimpin doa, menjadi imam, dan semacamnya adalah hal yang mesti dikuasai dan menjadi dasar dalam dirinya. Namun bukan berarti terbatas, karena bagaimanapun kita semua mesti menjadi pribadi yang Open-mindedness, bahwa semua bisa jadi apapun yang ia inginkan.

Santri tetaplah santri, apapun profesi yang ia tekuni, apapun bakat dan skill yang tumbuh dalam dirinya sejak dini. Santri bisa menjadi pribadi yang fleksibel dalam memilih aktivitas. Mereka bisa memilih menjadi guru, polisi, tentara, supir, pengusaha, hakim, menteri, bahkan presiden. Karena bagaimanapun para santri dibekali dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para kiai, berupa wawasan islam yang ramah dan wasāthī.

Sikap wasāthī atau moderat melingkupi segalah hal. Sebagaimana yang dituliskan Prof. Quraish Shihab dalam bukunya, “Wasathiyyah”, beliau menerangkan sikap moderasi di dalam semua aspek kehidupan, seperti dalam beragama, berinteraksi dengan manusia, berumah tangga, hingga bernegara. Dari yang demikian lah sikap moderasi juga dapat kita tarik dalam ranah pengembangan bakat dan membangun cita-cita. Simpelnya adalah tetap bermimpi membangun dan meraih impian, ketika terealisasi maka bersyukur dan jika gagal maka tak perlu berlarut dalam kesedihan.

Apapun profesinya, ciri santri adalah tetap menjaga nilai-nilai perdamaian dan tidak pernah, bahkan malu untuk membuat suatu kekacauan dan ketidakseimbangan di tengah-tengah masyarakat. Tetaplah tumbuhkan bakat kita semua, bangunlah impian dan cita-cita, dan berlatihlah, karena salah satu fungsi pesantren adalah Makān li al-Tamrīn.

Tabik!


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *