Oleh: Shulhan Rumaru*

Sekitar 14 abad yang lalu, tanda-tanda kemunculan Islam di Nusantara sudah ditemukan. Nisan makam perempuan bernama Fatimah Binti Maimun di Gresik menjadi salah satu bukti bahwa Islam telah masuk ke Nusantara. Keberadaan Islam berkembang di tengah animisme, dinamisme, Hindu, dan Buddha yang sudah terlebih dahulu dianut penduduk Nusantara. Perlahan, Islam menyebar dengan proses yang damai dan elegan. Dalam kajian sosiologi agama, masuknya Islam digolongkan sebagai penetration pacifique, yaknidengan cara yang damai.

Penyebaran Islam secara damai di Nusantara tentunya harus dipahami oleh masyarakat Muslim Indonesia, terlebih generasi muda. Islam dapat disambut hangat dan diterima dengan tangan terbuka. Cara-cara yang dilakukan oleh para pedagang Gujarat dan Persia dalam menyebarkan ajaran Islam menuai respon baik dari beragam kalangan. Setelah itu, Islam pun menyebar melalui jalur-jalur lain seperti pernikahan, kesenian, dan budaya lokal. Bahkan ada kalangan yang menggabungkan beberapa aspek tersebut menjadi satu.

Seperti di pulau Jawa, misalnya. Masyarakat Jawa hampir pasti mengenal Wali Songo. Sembilan Sunan yang memiliki karakteristik masing-masing mampu menjadi figur yang dikagumi oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Tidak lain, karena mereka mampu mengenalkan Islam lewat dakwah dengan cara-cara yang cerdas. Seperti Sunan Kalijaga, beliau berdakwah dengan media wayang kulit. Alur cerita wayang kulit memang dipengaruhi unsur Mahabarata dan Ramayana dari India, namun beliau mampu memasukan unsur Islam di dalamnya.

Dengan budaya dan seni, dakwah menjadi sesuatu yang menarik. Dakwah sebagai perantara dalam menyerukan kebaikan dan keislaman tidak lagi terkesan membosankan atau hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu. Figur pendakwah yang cerdas dan bijak menggunakan budaya dan kearifan lokal terbukti menjadi penyuluh masyarakat. Mereka mampu mengenalkan dan mengajarkan nilai-nilai luhur agama secara baik dan persuasif. Manfaat dan pengaruhnya terbukti langgeng hingga sekarang. Lantas spirit dakwah seperti apa yang dapat dipetik oleh generasi milenial?

Memahami Makna Dakwah

Secara garis besar, terdapat tiga bentuk dakwah yang selama ini telah dikenal. Ketiga bentuk tersebut adalah dakwah melalui ucapan (bil lisan), dakwah melalui tulisan (bil qalam) dan dakwah melalui perbuatan (bil hal). Dakwah bukan hanya sekadar berupa penyampaian materi saja, tetapi juga bagaimana ajaran yang didakwahkan tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh umat. Selain itu, yang paling penting adalah bagaimana masyarakat dapat tergerak untuk menjalankan kebaikan sesuai dengan tuntunan.

Dari seruan dakwah, masyarakat mampu memahami dan menerjemahkan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan. Selain memiliki kesalehan individual, umat juga terpatri semangat untuk berbuat baik bagi sesama. Mereka dengan senang hati dan sadar berbuat kebajikan dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Hati mereka terang dengan keimanan, tindakan mereka terbalut dengan semangat saling menasehati dan mengajak dalam kebaikan.

Terkait hal ini,  Allah berfirman dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. at-Taubah: 71)

Dalam praktiknya, dakwah melalui lisan bisa disampaikan melalui ceramah atau halaqah di masjid, majelis taklim, bahkan dapat juga melalui media televisi dan radio. Model dakwah ini, jamaah menerima pesan satu arah, meskipun di beberapa kesempatan jamaah dapat bertanya kepada dai. Sehingga terjadi dialog interaktif. Terkait dakwah dengan tulisan, dapat disalurkan di media cetak, semisal buletin, koran, majalah, dan buku.

Selanjutnya adalah dakwah melalui perbuatan. Bentuk dakwah ini mungkin tidak terlihat secara langsung dengan ajakan tutur kata. Namun, dengan perbuatan yang dilakukan langsung oleh pendakwah, dapat memberikan efek yang lebih terasa kepada jamaah atau orang di sekitarnya untuk mengikuti apa yang sudah dicontohkan di kehidupan sehari-hari. Dari ketiga bentuk dakwah di atas, satu hal yang harus diperhatikan adalah etika berdakwah. Islam telah memberikan panduan bahwa dakwah hendaknya dilakukan dengan bijak, ramah, berdasar pada ilmu dan kebenaran. Etika berdakwah ini, salah satunya dapat ditemukan dalam surat al-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S. al-Nahl: 125)

Dakwah “Zaman Now”

Sebagaimana telah disinggung di atas, dakwah Islam yang damai dan bijak terhadap budaya dan kearifan lokal ternyata menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Jika dulu, sekitar lima ratus tahun yang lalu, Sunan Kalijaga mengajarkan Islam di Nusantara dengan cara yang unik melalui kesenian wayang kulit, maka di era sekarang, metode dakwah beliau harus dilanjutkan. Khususnya adalah spirit cerdas membaca budaya dan perkembangan. Tujuannya satu, untuk menciptakan generasi bangsa yang cinta agama dan negara.

Sudah pasti cara yang digunakan dalam berdakwah berubah dan berkembang seiring dengan perubahan masyarakat. Era kemajuan teknologi bukanlah hambatan, akan tetapi merupakan tantangan. Generasi muda harus mampu memaksimalkan kemajuan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat. Bukan sebaliknya, menyalahgunakannya untuk memicu keributan atau menimbulkan keresahan. Dewasa ini, pemanfaatan teknologi media sosial sangat santer menyentuh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Usia remaja hingga menginjak dewasa dapat dipastikan pernah mencecap berbagai macam.

media sosial yang tersedia, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, ataupun Youtube. Beragam media ini sangatlah baik jika digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti contohnya adalah berdakwah.

Dakwah memiliki ruang tersendiri yang tidak akan kehilangan konsumen maupun luput dari perhatian masyarakat. Jika bicara segmentasi, berdakwah lewat televisi atau majelis taklim masih sering ditemui. Namun, ada ranah baru yang harus digalakkan dalam berdakwah, khususnya bagi para pemuda Indonesia. Istilah yang santer terdengar adalah dakwah di era revolusi 4.0.

Para pemuda seyogjanya memiliki kreativitas dalam menciptakan produk dakwah yang menarik, contohnya adalah lewat lagu, buku, maupun video. Penyebaran produk-produk dakwah ini dapat memanfaatkan media sosial yang kini lebih dekat dengan para pemuda. Sebagai misal, beberapa pendakwah ada yang berhasil menjadi ikon di kalangan pemuda saat ini, mereka berhasil menyentuh angka hampir dua juta followers (pengikut) dengan video yang ditonton hampir satu juta setiap kali tayang.

Oleh karenanya, generasi muda Indonesia harus terus memacu diri untuk dapat memaksimalkan media sosial dalam upaya menyebarkan pesan-pesan mulia agama. Kita tidak boleh berpangku tangan membiarkan ruang publik di media sosial hanya dipenuhi oleh berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), ataupun virus radikalisme dan esktrimisme lainnya. Dakwah Islam yang cerdas dan ramah di jagat media sosial inilah yang saat ini perlu terus diperankan oleh generasi muda.


*Shulhan Rumaru, alumni  Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penerima beasiswa S2 LPDP BIT 2017 ke Amerika Serikat.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *