Oleh: Muhammad Hanifuddin, S.S.I., S.Sos

Bermula di tahun 1976, Kalend Osein, santri Pesantren Gontor Ponorogo yang mentok di kelas V. Santri asal Kutai Kartanegara Kalimantan Timur itu harus memupus keinginannya. Tidak lulus dari KMI (Kuliyatul Mu’allimin) yang tinggal satu tingkat lagi, hingga bangku kelas VI. Faktor keterbatasan finansial adalah batu karang yang mengandaskan cita-cita.

Karena semangat untuk bertahan belajar, Kalend Osein terpaksa pindah ke pesantren Darul Falah Pare. Di Pesantren ini, Kalend dapat tinggal dan belajar tanpa biaya. Sekalian berharap dapat mengabdi kepada KH. Ahmad Yazid, tokoh ulama Jawa Timur yang menguasai delapan bahasa asing.

Setelah beberapa waktu belajar di Pesantren ini, Kalend Osein mendapat kepercayaan dari Ibu Nyai Ahmad Yazid. Tepatnya saat ada dua mahasiswa yang sowan ke Darul Falah untuk minta belajar khusus bahasa Inggris dengan KH. Ahmad Yazid. Hanya saja, di waktu yang sama, KH. Yazid sedang keluar kota ke Majalengka Jawa Barat.

Meskipun hanya lima hari, Kalend menggelar pembelajaran bahasa Inggris secara intensif. Namun, sebagaimana yang diharapkan, kedua mahasiswa tersebut dapat lulus ujian negara di UIN Sunan Ampel Surabaya. Berbekal pengalaman inilah, pada 15 Juni 1977, Kalend Osein merintis lembaga kursus bahasa Inggris, BEC (Basic English Course).

Berlahan tapi pasti, keberadaan BEC mulai dikenal luas. Hal ini berkat kualitas lulusan BEC yang membuat banyak pihak mengapresiasi. Peserta didik tidak hanya pandai menguasai tata bahasa dan pemakaian bahasa Inggris saja, tetapi juga dididik agama. Serta ditempa karakternya sebagaimana nilai-nilai kepesantrenan di Gontor.

Berlahan tapi pasti, keberadaan BEC mulai dikenal luas. Hal ini berkat kualitas lulusan BEC yang membuat banyak pihak mengapresiasi. Peserta didik tidak hanya pandai menguasai tata bahasa dan pemakaian bahasa Inggris saja, tetapi juga dididik agama. Serta ditempa karakternya sebagaimana nilai-nilai kepesantrenan di Gontor.

Singkat cerita, alumni-alumni BEC kini dapat secara mandiri mendirikan lembaga kursusan secara mandiri. Tak Pelak, Pare menjadi ikon percontohan pembelajaran bahasa Inggris. Setidaknya sudah ada lima daerah lain yang mencoba merintis pembelajaran ala kampung Inggris Pare. Mulai dari Kampung Inggris Bandung, Kampung Inggris Sumatera Barat, Kampung Inggris Magelang, Kampung Inggris Jakarta, dan Kampung Inggris Solo.

Di awal bulan yang lalu, selama 4 hari, saya berkesempatan untuk menginap di Kampung Inggris Solo. Berbincang dengan sebagian tutor. Melongok agenda kegiatan. Dan sesekali jamaah Shubuh bersama di masjid terdekat.

Lantas, kedepannya, selain semakin banyak Kampung Inggris, mungkinkah ada juga Kampung Filsafat? Kampung Politik? Kampung Hadis? Atau Kampung Tafsir?


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *