Oleh: Muhammad Hanifuddin, S.S.I., S.Sos

Beberapa hari ini, saya menikmati tiga jilid otobiografi Bung Hatta. Meskipun sudah beberapa kali membacanya, namun tetap saja, kisah Bung Hatta tidak kering untuk digali inspirasinya. Begitu juga, saya merasa antusias ketika menceritakan satu persatu penggalan kisah itu.Terlebih bagi anak-anak kita. Generasi yang dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan akan menjadi pemegang estafet kelanjutan bangsa Indonesia.

Adalah Mohammad Athar, meskipun telah menyadang gelar sarjana dari universitas ternama di Belanda, santri Syaikh Muhammad Jamil Jambek (1860-1947) itu tidak lantas memilih hidup bergelimang materi. Tawaran jabatan dan fasilitas hidup dari kolonial tidak menyiutkan niat baktinya untuk negeri. Tak pelak, pembuangan adalah episode hidup yang harus ia jalani. Bersamaan dengan banyak tokoh bangsa, anak Bukittinggi itu berbulan-bulan harus merasakan getir dan bahanyanya Tanah Merah Boven Digul Papua (1935-1936). Ancaman kematian dari ganasnya nyamuk Malaria berulang kali mengintainya. Beberapa kali, ia sempat roboh karenanya. Namun takdir masih mengizinkannya bertahan.

Tepat pada bulan Februari 1936, Hatta dipindahkan ke Banda Neira Maluku. Masih sebagai orang buangan, hingga nanti
pada tahun 1942. Di tahun ini, Hatta diangkut dengan pesawat Amfibi Catalina ke Jawa, tepatnya diungsikan ke Sukabumi. Mulai dari pembuangannya ke Digul hingga ke Banda Neira, Bung Hatta senantiasa membawa 16 peti. Apapun tantangan dan kesulitannya, 16 peti tersebut dibawanya. Dari Jawa ke Papua. Dari Papua ke Maluku. 16 peti itu berisi tumpukan buku. Bukan yang lain. Bertahun-tahun di tempat pembuangan itulah, Bung Hatta menelaah, menulis, dan mengajarkannya kepada generasi muda. Buku yang berjudul “Alam Pikiran Yunani” jilid I adalah salah satu jejak pena Bung Hatta. Lantas, mengapa Bung Hatta rela melakukan hal itu?

Dalam kata pengantar buku yang hingga kini masih dikaji di lingkar-lingkar diskusi mahasiswa itu, setidaknya ada dua kepentingan mengapa buku itu ditulis. Pertama, dalam pandangan Bung Hatta, filsafat dapat meluaskan pandangan dan mempertajam pikiran. Bagi bangsa yang terjajah, untuk bangkit bergerak melawan penjajahan, pengetahuan adalah prasyarat. Terlebih jika nanti kemerdekaan telah diraih. Pembangunan hanya akan dapat dilakukan jika anak bangsanya memiliki pandangan yang luas. Tajam menghadapi tantangan, serta jernih merumuskan jalan keluarnya.

Kedua, filsafat dapat menghindarkan kita berpikiran picik. Yakni pikiran yang berbahaya bagi kemajuan ilmu, pengetahuan, dan agama. Bung Hatta mengibaratkan, pemikiran yang picik ibarat katak dalam tempurung. Hanya menyakini pengetahuan yang ia miliki, seraya tidak mau mengembangkannya. Mendialogkannya dengan pengetahuan dan peradaban lain. Lebih ironis lagi, menutup diri dan menganggap tidak ada kebenaran dan pengetahuan di luar dirinya. Sikap ini tentunya tidak baik untuk generasi muda. Generasi yang diidamkan dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Lantas tertarikkah anda?


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *