Oleh: Muhammad Hanifuddin, S.S.I., S.Sos

KH. Jali Romlani adalah salah satu masyayikh Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Ringinangung Pare Kediri. Beliau merupakan salah satu santri Syaikh Masduqi Lasem (1908-1975). Dini hari tadi, Kamis 30 Januari 2020, Kiai Jali wafat. Sejenak, setelah membaca kabar duka beliau, tak terasa kedua mata berlinang. Lembaran-lembaran kisah saat saya nyantri (2001-2009) di Ringinagung kembali membuncah. Di pesantren inilah nilai-nilai kesederhanaan, keistiqomahan, dan pengabdian diajarkan kepada santri. Berbagai fan ilmu secara berjenjang dan sistematis didaras dan diamalkan.

Di akhir tahun 2001, setelah beberapa bulan betah di pesantren, saya memberanikan diri untuk sowan ke ndalem Kiai Jali. Mengutarakan keinginan untuk membikin gubug di pekarangan ndalem, yang saat itu sudah mulai dikerumuni gubug-gubug santri. Tanah pondok sudah penuh dengan asrama dan gubug ribuan santri. Karena itu, santri yang ingin membangun gubug ditampung di tanah pekarangan ndalem. Kerumunan gubug di ndalem Kiai Jali ini lantas dikenal dengan nama gubug al-Bayadir, kelurahan Pekalongan. Saya merasa sangat beruntung mendapatkan restu dari beliau. Bahkan saat itu beliau sendiri yang menunjukkan lahan yang masih kosong.

Saat sudah tinggal di gubug al-Bayadir, saya baru mengetahui bahwa Kiai Jali Romlani ternyata juga seorang DPRD Kediri. Meskipun sebagai seorang Kiai dengan ribuan santri dan sebagai anggota Dewan, Kiai Jali tetap mencontohkan perilaku hidup sederhana. Beberapa kali saya mendapati beliau pulang dari kantor DPRD atau agenda kegiatan lain dengan naik angkot. Dari balik jendela gubug, saya melihat sopir angkot dengan sukarela mengantar beliau hingga ke jalan depan ndalem. Hal ini mungkin sebagai bentuk kecintaannya kepada Kiai Jali. Meskipun harus masuk beberapa ratus meter dari rute biasanya, jalan Pare-Kandangan, abang sopir angkot nampak bahagia dan puas. Mungkin merasa mendapatkan kesempatan berharga mengantar sang Kiai.

Selain itu, pelajaran laku hidup sederhana ini juga tercermin dalam bangunan ndalem. Dari dulu hingga sekarang, ndalem beliau tetap sama. Sebagaimana rumah-rumah warga masyarakat pada umumnya. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang dilabur dengan semen putih dan gamping tebal. Lantai rumah terbuat dari bata yang disemen. Tanpa keramik yang mewah dan mahal. Begitu juga dengan perabot-perabot rumah lainnya. Meja, kursi, dan dipan semuanya mencerminkan nilai kesederhanaan. Mobil warna putih yang terparkir di depan ndalem juga bukan mobil mewah. Bahkan sering kali mobil tersebut harus dibongkar dan diperbaiki oleh santri ndalem atau pengurus pondok yang paham seluk beluk otomotif.

Dari segi keistiqomahan, Kiai Jali memberikan contoh langsung kepada santri. Setiap hari beliau istiqamah mengimami shalat jamaah lima waktu di asrama Pekalongan, ziarah ke makam Mbah Nawawi setelah shalat Shubuh, serta mengaji kitab Bulugh al-Maram karya Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani (852 H) setiap bulan Ramadhan. Bahkan tidak jarang, beliau rutin turun langsung bersama santri untuk menyapu dan membersihkan lingkungan pesantren.

Setidaknya ada dua kisah inspiratif yang senantiasa beliau nasihatkan kepada santri. Pertama, jika santri ingin mendapatkan keberkahan ilmu, maka ia harus rajin dan giat (mempeng) ngaji serta taat peraturan pesantren. Kisah yang beliau rujuk adalah keberkahan ilmu Kiai Abdul Hannan Kwagean Pare, murid Kiai Zamroji Kencong. Saat nyantri di Kencong, Kiai Hannan selain mempeng ngaji, beliau juga taat kepada Kiai. Berusaha mencari ridho dari Kiai Zamroji. Salah satu cara yang ditempuh Kiai Hannan adalah istiqomah menyapu halaman masjid pondok setiap pagi. Setelah selesai dzikir dan wirid pagi, Kiai Zamroji turun dari masjid dan merasa senang melihat halaman masjid pondok yang sudah rapi dan bersih disapu oleh Kiai Hannan. Berkah dari keseriusan mengaji dan khitmah ke pesantren inilah, kini, Pesantren Fathul Ulum Kwagean yang diasuh oleh Kiai Hannan berkembang dengan ribuan santri.

Kedua, agar santri nantinya bisa berdakwah dan berperan di masyarakat, maka selama masih di pondok harus belajar berbagai ilmu. Menimba beragam pengetahuan dan kemandirian. Kisah yang dirujuk Kiai Jali adalah nasihat dari Syaikh Masduqi Lasem. Pesan Syaikh Masduqi, santri harus menempa diri semaksimal mungkin selama di pondok. Karena nantinya tidak tahu apakah akan tinggal di kota ataupun di kampung. Jika nantinya santri tinggal di kampung, maka sejak di pesantren harus belajar memimpin tahlil dan yasinan. Demikian juga, santri harus belajar bahasa asing, bahkan bahasa Sweden. Jika suatu saat harus hidup dan berdakwah di masyarakat kota, maka akan bisa mengikutinya.

Sugeng tindak Kiai. Semoga santri-santri njenengan dapat meneruskan laku perjuanganmu. Sebagaimana doa yang senantiasa engkau panjatkan saat santri sowan; santri-santri Ringinagung semoga mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat untuk pribadi, keluarga, dan umumnya untuk masyarakat, nusa dan bangsa.

Categories: Tokoh

Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *