Oleh: Shona Maharany Fuad

Sejarah Islam di Thailand Selatan

Thailand Selatan meliputi Songkhla, Yala, Pattani dan Narathiwat merupakan provinsi dengan penduduk muslim terbanyak jika dibandingkan provinsi lain di Thailand. Masuknya agama Islam di Thailand juga menyumbang kisah kekerasan dan pemberontakan di dalamnya. Sejarah atas kekerasan dan pemberontakan ini mulai terjadi ketika Siam (nama Thailand pada saat itu) mengambil dengan paksa Kesultanan Patani pada tahun 1902, yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan separatis.

Buntut dari separatisme ini adalah munculnya kebijakan asimilasi dari segi linguistik dan kebudayaan. Asimilasi ini menimbulkan diskriminasi kepada penduduk Pattani yang mayoritas Melayu Muslim, dihadapkan dengan budaya Thailand yaitu Thai Buddhist. Terjadi larangan menggunakan bahasa Melayu, larangan mengajar ajaran Islam di sekolah-sekolah dan tindakan represif aparat Negara terhadap protes masyarakat Melayu Muslim. Bentuk diskriminasi ini berlangsung hingga sekitar tahun 1980, dan berangsur membaik hingga 1990. Tetapi keadaan stabil ini tidak berlangsung lama.

Lebih dari 100 orang kelompok oposisi dari Pemerintah Thailand, pada tahun 2004, menggencarkan serangan di provinsi Pattani, Yala dan Songkhla. Serangan dilangsungkan karena konflik berbasis agama antara Pemerintah Thailand dengan kelompok oposisi yang mayoritas beretnis Melayu dan beragama Islam di Thailand Selatan. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Kru Se, karena banyak masyarakat yang berlindung sekaligus terbunuh di masjid Kru Se. Tidak belajar dari pengalaman, enam bulan setelah peristiwa Kru Se, kerusuhan kembali terjadi. Demonstrasi tragis yang melibatkan 2000 massa terjadi di Narathiwat.

Demosntrasi yang berujung penangkapan dan banyak korban nyawa ini pada mulanya merupakan inisiasi pemuda Muslim untuk membebaskan kawan kawan muslimnya yang di tahan oleh aparat. Peristiwa dikenal dengan peristiwa Tak Bai. Hingga saat ini, beberapa sumber mengatakan bahwa umat Budha merasa terancam oleh islam, dan umat Islam merasa belum diperlakukan secara adil oleh pemerintah.

Hat Yai Sebagai Simbiosis Budaya dan Modernitas Beragama

Meskipun menyimpan kisah perseteruan yang sengit dan sulit, namun kota-kota di Thailand Selatan tidak berhenti berkembang untuk mencapai kemajuan. Sebut saja Hat Yai, Hat Yai merupakan kota yang berada di provinsi Songkhla. Meskipun bukan merupakan ibu kota provinsi namun Hat Yai adalah kota yang cukup sibuk, dengan populasi 359.813 jiwa (2018), kira kira dua kali populasi kota Songkhla. Dengan semakin berkembangnyanya Hat Yai, ideologi Hat Yai masa kini adalah artikulasi antara tradisi dan identitas di satu pihak, dan pembangunan modernitas di pihak lain. Hal ini terlihat dari sisi pariwisata, ekonomi, serta pendidikan di Hat Yai.

Hat Yai memiliki perpaduan yang unik mengenai kebesaran ritual warisan masa lalu serta upaya modernisasi yang cukup gencar. Sebagai kota yang cukup maju, namun diantara gedung gedung hotel dan pertokoan modern masih berdiri kuil kuil bersejarah. Bahkan terdapat beberapa destinasi wisata internasional yang menyuguhkan simbol simbol keberagamaan. Seperti ketika memasuki kawasan Hat Yai Muncipal Park, terdapat four face budha temple, Wat Hat Yai Nai Vihara, dan Kuan Im Temple. Selain kuil, Hat Yai juga memiliki floating market, BigBee Garden serta Tinsualanonda Bridges yang menghubungkan Songkhla Lake, sebuah danau terbesar di Thailand.

Ritme modernitas ini juga berlaku bagi kota Songkhla, kota yang bersebelahan dengan Hat Yai, ada perpaduan yang mengagumkan antara simbol budisme dan islam di sana. Rakyat Songkhla bangga atas keberagaman agama dan kesuksesannya meruwat dirinya menjadi posisi agama yang minoritas di Thailand. Sleeping budha statue dan Masjid Raya Songkhla yang menyedot banyak wisatawan mancanegara adalah contoh yang bagus tentang identitas budaya dalam modernitas beragama. Di sektor pendidikan, Songkhla memiliki Prince University of Songkhla yang merupakan salah satu universitas terbesar di Thailand.

Konstruksi Identitas Thailand Selatan

Menjadi daerah yang pernah dijajah oleh negaranya sendiri serta berbatasan langsung dengan negara lain, Songkhla, Yala, Pattani dan Narathiwat memiliki konstruksi identitas yang cukup kompleks. Ahli ilmu sosial yang berperspektif konstruktif-interpretatif berpendapat bahwa identitas adalah hasil sebuah konstruksi sosial. Sebuah aktifitas proses dan praktik sosial.

Dalam proses interaksi, konstruksi identitas dimaknai sebagai saling terbuka, berdialog, toleran dan menciptakan identitas bersama yang pada gilirannya akan mencegah atau paling tidak meminimalisir terjadinya konflik agama dan etnik. Menurut Castell (2004), perspektif konstruktif, berprinsip bahwa konstruksi identitas merupakan upaya respon dari tekanan situasi kelompok dominan, respon terhadap perlakuan pilih kasih, dan juga upaya defensif dari suatu kelompok etnik dominan. Berdasarkan pandangan ini, maka proses konstruksi sosial selalu dikaitkan dengan keterlibatan anggota komunitas kelompok dan elite yang merepresentasikannya.

Batas-batas budaya (cultural boundary) dan batas-batas fisik (physical boundary) sebuah etnik dapat berubah dalam proses interaksi sosial mereka. Identitas yang pada awalnya bersifat primordial telah dikonstruksi dalam dinamika sosial mereka. Terutama untuk kasus identitas masyarakat di Thailand Selatan, menurut Scupind (2013), pembentukan identitas di Thailand Selatan mengalami perebutan dominasi antara budha, islam, serta pengaruh etnis china dan melayu Thailand.

Masalah terbesar adalah bukan soal pendefinisian kembali batas-batas etnik dan religius dalam hubungannya dengan kelompok etnik atau kelompok agama lain. Sebaliknya, masalah yang mengemuka adalah ketidaksepakatan di dalam masyarakat Thailand Selatan tentang identitas kolektifitas mereka. Identitas di Thailand Selatan selalu beragam, antara peran agama budha dan islam maupun peran etnis china dan melayu thailand.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *