Ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh para pelajar hadis, agar ia mendapatkan berkah dan manfaat dari sabda-sabda Nabi saw yang dipelajarinya , antara lain yang diuraikan oleh Imam Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya al-Taqrib wal-Taysir fi ma’rifati sunan al-Basyir. yaitu;

1. Meluruskan Niat

Imam Nawawi mengatakan bahwa pelajar hadis harus mendasarkan aktifitasnya (dalam mempelajari Hadist) dengan niat yang baik, ikhlas semata-mata melakukan aktifitasnya itu hanya untuk Allah swt, dan berhati-hati agar jangan sampai menjadikan Hadist sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan-tujuan keduniawian. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, tentang ancaman bagi penuntut ilmu yang bertujuan untuk meraih kesenangan dunia :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

Dari Abu Hurairah Ra berkata bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang mencari ilmu yang seharusnya karena Allah azza wajalla, sedangkan ia mempelajarinya hanya ingin meraih kesenangan dunia maka di hari Kiamat ia tidak mencium harumnya Syurga” 

2. Memohon taufik kemudahan dan kekuatan

Seorang pelajar Hadis diharapkan untuk selalu memohon taufik kepada Allah swt, kemudahan dan kekuatan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah :

bersegeralah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan meminta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah”  

 3. Berakhlak mulia

Seorang pelajar hadis dituntut untuk selalu mempraktekan akhlak yang baik dan tata kesopanan yang mulia. Ia juga harus memfokuskan perhatiannya untuk dapat belajar dengan baik dan mempergunakan sebaik-baiknya kesempatan yang ada. 

4. Berguru kepada Guru Kepada Ahli

Pelajar hadis sebaiknya ia memulai belajar hadistnya dari seorang ahli hadis yang paling menonjol di negerinya, baik dari sistem sanadnya, ilmu, kepopuleran, kualitas keagamaan, dan lain-lainnya.

5. Melakukan Safari Ilmiah

Pelajar hadis bila telah menyelesaikan studinya, ia sebaiknya melakukan safari ilmiah. Ini seperti banyak dilakukan oleh para ulama-ulama hadis papan atas di masa lalu.

6. Mengamalkan Hadis Dalam Kesehariannya

Pelajar Hadis, sebaiknya mengamalkan dalam kesehariannya hadis-hadis yang telah dipelajarinya, terlebih menganai ibadah dan akhlak, karena mengamalkan ilmu bagian dari zakatnya, disamping akan membantunya dalam menghafalkan Hadis

7. Memuliakan Guru dan Teman Belajarnya

Seorang pelajar hadis sudah seharusnya memuliakan dan menghormati para gurunya dan para murid lain, yang sama-sama belajar hadis dari gurunya itu. Karena hal ini merupakan penghargaan terhadap ilmu dan salah satu penyebab manfaatnya ilmu tersebut. Ia juga harus meyakini kemuliaan dan dan keunggulan gurunya melebihi orang lain dan berusaha keras untuk memperoleh keridhaan gurunya. Waktu belajar dengan gurunya jangan sampai terlalu lama, sehingga meyebabkan cepat bosan.

Ia diharapkan dapat menjadikan gurunya sebagai teman bermusyawarah pada semua permasalahan, kesibukan, dan cara efektif memanfaatkan kesibukan.

8. Menyebarkan Hadis

Pelajar Hadis sebaiknya ia menyebarkan dengan cara mengajarkan hadis yang telah dipelajarinya kepada saudara dan teman-temannya. Karena menyembunyikan ilmu itu merupakan hal yang tercela dan hanya dilakukan oleh seorang pelajar yang bodoh karena tujuan dari mencari ilmu itu sendiri dalah menyebarkannya. Ia harus berhati-hati jangan sampai terjebak dengan rasa malu dan kesombongan yang dapat menghalanginya dalam mendapatkan ilmu dari orang lain yang yang statusnya lebih rendah dalam segi umur ataupun kedudukan

Seorang pelajar hadis harus menuliskan penjelasan yang terdapat dalam kitab atau salah satu bagian dari kitab itu dengan sempurna, tanpa memilah dan memilih untuk keterangan yang ia butuhkan saja. Apabila ia mengalami keterbatasan, ia harus meminta bantuan pada seorang hafizh yang mempunyai kapasitas ilmiah yang tinggi.

9. Memahami Hadis yang dipelajarinya

 Pelajar Hadis diharapkan tidak hanya membatasi diri untuk menerima dan menuliskan Hadis, tanpa mengetahui dan memahaminya. Ia harus mencari tahu tentang kualitas hadist itu, kesahihan, kedha’ifan, pemahaman, makna, aspek bahasa, i’rab dan nama-naman rawinya. Semua ini harus dilakukannya secara teliti dengan memperhatikan utuh hal-hal yang bermasalah pada kualitas hadistnya, baik secara tertulis maupun tidak tertulis.

Dalam pembahasannya itu, ia harus selalu mendahulukan pengkajiannya pada kitab shahih (Shahih al-Bukhari dan Sahih Muslim), dilanjutkan dengan kitab Sunan, seperti Sunan Abi Daud, al-Tirmidzi, Nasa’I, dan Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi. Ia harus tekun dalam mempelajari kitab-kitab tersebut Karena belum ada kitab lain yang menyamai kitab-kitab itu, barulah setelah itu ia boleh mempelajari kitab-kitab sesuai kebutuhannya.

10. Melakukan Penelitian Ilmiah

Pelajar Hadis sebaiknya menyibukan diri dengan penelitian ilmiah dalam bidang hadis ketika ia telah dipandang mumpuni, karena sedikit sekali seseorang yang mempunyai kapasitas ilmiah yang tinggi dalam bidang ilmu Hadis.

wallahu’alam


Sumber Bacaan

[1] Jalal al-Din al-Syuyuthi, Tadrib al-Rawi (Kairo:Dar el-Hadist. 1431 H/2010M) hal :416

[2] Abu Daud Sulaiman (W:275 H), Sunan Abu Daud (Beirut: Maktabah Ashriyah) hal:332, no Hadist:3664

 [3] Muslim bin al-Hajaj (W.261 H), Sahih Muslim (Beirut:Dar el-Ihya al-Turast) hal:2052, no Hadist:2663

 [4] Jalal al-Din al-Syuyuthi, Tadrib al-Rawi (Kairo:Dar el-Hadist. 1431 H/2010M) hal :417

     


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *