Kaum santri biasanya identik dengan ‘ngopi’. Rasanya, suatu aktivitas tidaklah lengkap jika tidak ditemani secangkir kopi. Mau ngaji kitab, ngopi, mau diskusi atau halaqoh, ada kopi, pun saat menulis harus sambil ditemani secangkir kopi. Memang, tidak semuanya santri suka ngopi, namun paling tidak hal ini mewakili diri saya pribadi dan beberapa kalangan santri Indonesia yang suka ngopi.

Saya melihat, tradisi ngopi di kalangan santri bukan sekedar ritual minum biasa, tetapi punya sejarah dan budaya yang melegenda. Muchlis Hanafi mencatat bahwa sejarah ngopi di kalangan santri sudah dimulai sejak abad ke-9 H/15 M yang ditandai dengan kebiasaan ngopi para ulama sufi di Yaman untuk menahan ngantuk saat tholabul ilmi. Tradisi ini pun merambah hingga wilayah Islam lainya, seperti Hijaz, Mesir, Syam, hingga sampai ke Indonesia.

Sampai saat inipun, tradisi ngopi masih terus digemari kalangan santri. Aktivitas ngopi santri tidak lagi melulu di warung kopi (warkop) pesantren atau di warkop pinggiran jalan, tetapi juga sudah merambah di gerai-gerai kopi ternama dengan nama yang beragam pula. Kedai-kedai kopi yang ada saat inipun menjadi salah satu alternatif bagi kalangan milenial untuk tidak hanya menikmati citra rasa kopi tertentu, tetapi juga sebagai sarana diskusi, meet-up dan aktivitas khas millenial lainya.

Namun perlu dicatat, bagi para santri yang suka ngopi, jikalau suatu waktu pergi ke Belanda, saya ingatkan supaya jangan sampai salah masuk ‘kedai kopi’. Di negeri kincir angin tersebut, saya catat ada dua jenis gerai yang secara zahir seperti nampak menyediakan kopi, Coffeeshop dan Koffie huis. Coffeshop merupakan istilah dalam bahasa inggris yang mempunyai arti warung kopi, sedangkan koffie huis adalah istilah yang sama namun tertulis dalam bahasa Belanda.

Jika kita baca sekilas, keduanya adalah sama-sama gerai untuk ngopi. Padahal kenyataanya tidak demikian. Coffeeshop, umumnya, adalah sebuat kedai yang menjual berbagai macam jenis narkotika ringan/soft drugs, seperti ganja. Sedangkan, Koffiehuis adalah sebuah kedai yang memang menyajikan segala macam jenis minuman olahan kopi, mulai dari kopi original hingga olahan kopi dengan varian cita rasa lainya.

Saya pernah punya satu pengalaman salah masuk kedai kopi. Suatu hari, saya berjalan-jalan santai sore hari di pusat kota Amsterdam, cuaca kala itu cukup dingin, kurang lebih 5 derajat celcius. Karena dingin, saya pikir, ngopi atau cari minuman hangat lainya adalah solusi terbaik. Di penghujung jalan DamSquare, tidak terlalu jauh dari kanal Amsterdam, saya masuk ke salah satu gerai kopi bertuliskan ‘Coffeeshop’, saya berasumsi, gerai ini adalah tempat untuk ngopi sebagaimana lazimnya kita ngopi di warung kopi samping jalan di Indonesia. Perkiraan saya salah, baru masuk kedai ini saya dapati tidak sedikit pengunjung gerai tersebut dalam kondisi mabok, pun saya saya mencium aroma ganja yang luar biasa menyengat. Tentang mereka yang menggunakan ganja, saya tidak kaget, karena memang Belanda melegalkan penjualan ganja dan jenis narkotika ringan lainya selama diperjualkan di tempat-tempat tertentu. Aroma berbau ganja pun tidak sulit kita dapati di sekitar pusat kota Amsterdam tersebut.

Dari pengalaman ini saya mengerti, bahwa untuk bisa ngopi di negara kincir angin tersebut kios yang harus saya cari adalah ‘koffie huis’, bukan coffeshop. Kembali ke topik awal, mengingat makin banyaknya santri Indonesia yang berkesempatan belajar di negeri kincir angin atau sekedar kunjungan singkat ke negeri ini, sebagai informasi, hendaknya tidak tidak salah masuk kedai kopi jikalau hendak ngopi santai di Belanda nantinya.

Saya yakin, kedai kopi yang dicari kaum santri bukan kedai yang penuh dengan romansa orang mabok dan aroma narkotika, tetapi kedai kopi yang bisa jadi tempat santai sekaligus merefleksikan ide dan gagasan lewat diskusi maupun tulisan untuk pembangunan negeri. Jangan lupa ngopi hari ini!


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *