Dalam kitab-kitab klasik, pembahsan mengenai doa sering kali disandingkan dengan dzikir karena sejatinya doa bagian dari dzikir itu sendiri. Diantara ayat al-Qur’an yang menjelaskan keutamaan doa sebagai berikut;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: “Apalabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku. Maka dari itu hendaknya orang yang memohon dan meminta kepada-Ku itu, memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapatkan kebenaran”

Menurut riwayat Imam Ibn Jari al-Thabari yang melatarbelakngi turunnya ayat ini adalah; salah seorang a’râby (orang Arab pedalaman) datang kepada Nabi saw. Lantas orang tersebut bertanya kepada Nabi saw, “wahai Nabi! Apakah Tuhan kita itu dekat sehingga kita cukup membisikan-Nya, atau keberadaan-Nya jauh sehingga kita perlu teriak memanggilnya?”kemudian turunlah ayat ini.

Menurut Syekh Wahbah al-Zuhayli yang dimaksud dengan kata “dekat” dalam ayat di atas bukan berarti dekat secara tempat atau lokasi, maksudnya adalah kedekatan Allah swt dengan mengetahui semua yang hamba-Nya inginkan. Sebagaimana Allah swt mengetahui kondisi hamba-Nya, mendengar ucapan hamba-Nya, dan memantau perbuatan hamba-Nya.

Kemudian atas kesungguhan hamba-Nya itu dalam berdoa dan dibarengi dengan amal baik maka Allah swt mengabulkan permintaannya. Melalui ayat ini kita dapat menarik pesan bahwa semakin berusaha mendekatkan diri kepada-Nya maka semakin dekat pula imipian yang akan terwujud.



0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *