Catatan part 1: Menjadi ‘Muslim Indonesia’ di Belanda.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Belanda untuk menyelesaikan studi master saya di tahun 2016, pertanyaan yang sering kali terbesit dalam benak saya sebagai seorang muslim adalah, apakah nantinya akan sulit bagi saya mendapatkan tempat ibadah dan makanan halal di negeri tersebut? Apakah negeri Belanda ini ‘ramah’ terhadap umat Islam di tengah gencarnya isu islamophobia di barat? Hingga pertanyaan ‘penasaran’ bagaimana sejarah masuknya Islam Indonesia di negeri kincir angin tersebut?

Dalam tulisan berseri ini, saya akan mulai dengan menjawab pertanyaan terakhir tersebut mengenai sejarah masuknya Islam Indonesia di Belanda. Jika kita merujuk kepada buku berjudul PPME; Sekilas Sejarah dan Peranannya dalam Dakwah Islam di Nederland yang ditulis oleh Muhammad Hisyam dikatakan bahwa bahwa orang Islam Indonesia pertama yang datang ke Belanda adalah duta besar kesultanan Aceh untuk Belanda bernama Abdus Samad pada tahun 1602. Hisyam dalam hal ini juga merujuk kepada penelitian Harry A Poeze dalam buku berjudul: (In het Land van de Overheerser / di negara penjajah). Dalam catatanya, Hisyam menegaskan bahwa kunjungan Abdus Samad ke negeri Belanda kala itu bukanlah dalam sebuah misi dakwah secara khusus untuk menyebarluaskan Islam di negeri van orange tersebut, melainkan hanyalah sebuah lawatan singkat kerajaan Aceh ke Eropa/Belanda.

Penyebaran hingga dakwah Islam Indonesia di negeri Belanda baru terjadi secara masif di awal abad 19, rentang tahun 1920-1930 lebih tepatnya. Kala itu, beberapa muslim Indonesia yang dimotori oleh kaum pelajar, seperti bung Hatta dan lainya mulai berdatangan ke Belanda untuk keperluan studi. Setibanya mereka di Belanda, mereka (pelajar Indonesia dan dimotori oleh seorang Belanda bernama Van Beetem yang kemudian hari berganti nama menjadi Mohammad Ali) mendirikan sebuah perkumpulan, yaitu perkoempoelan Islam, sebuah organisasi yang oleh pemerintah Belanda diakui sebagai salah satu organisasi Islam pertama di negara tersebut. Perkumpulan ini sekaligus menjadi wadah bagi umat Islam Indonesia di Belanda untuk bersilaturrahim sekaligus menjadi sarana untuk tetap mengkaji ajaran agama Islam, berdiskusi dan membahas hal-hal penting seputar keislaman lainya.

Proses penyebaran Islam Indonesia di Belanda terus berlanjut hingga dekade 1950-an, disaat sekitar 12.000 anggota KNIL (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau yang bisa diartikan kurang lebih: Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang sebagian besar berasal dari Maluku, dan kurang lebih 200 orang diantaranya adalah orang Islam, datang ke Belanda. Kedatangan mereka ke Belanda diantaranya adalah untuk memulai ‘kehidupan baru’ dan mendapatkan fasilitas hidup dan kerja di negeri kincir angin tersebut. Awalnya, sejumlah umat Islam Indonesia tersebut tinggal dalam satu wilayah/ kamp bersama ribuan orang Indonesia lainya, hingga akhirnya merek memutuskan untuk memisahkan diri lantas memilih tinggal dan bergabung bersama sesama komunitas muslim di kamp Wijldemaerk, Desa Balk, Provinsi Friesland. Di tempat inilah mereka membangun rumah ibadah/masjid pertama bagi umat Islam Indonesia di Belanda bernama masjid An-Nur.

Penyebaran Muslim Indonesia pun terus berkembang pesat setiap tahunya. Sampai pada tahun 1970-an dimana sejumlah organisasi/komunitas Islam Indonesia pun mulai banyak didirikan, diantaranya adalah: PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) yang berdiri pada 12 April 1971, diantara tokoh yang memperkasainya adalah K.H Abdurrahman Wahid, atau yang kita kenal dengan nama Gus Dur. (Tulisan khusus tentang ini akan dibahas di tulisan selanjutnya). Sebagai tambahan catatan: Sejarah berdirinya PPME ini secara lengkap bisa dibaca di tulisan Sujadi:Persatuan Pemuda Muslim Se-Eropa: Its Qualified Founders, Progression, and nature).

Tidak cukup dengan hanya satu PPME, beberapa tahun setelahnya berdirilah cabang-cabang PPME yang tersebar di beberapa kota dan wilayah Belanda, antara lain: PPME Cabang Den Haag, PPME Cabang Rotterdam, PPME Cabang Amsterdam (1975), PPME Cabang Heemskerk (1998) dan yang terakhir PPME Cabang Breda (2005). Ini belum termasuk dengan organisasi Massa (Ormas Islam) Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (PCI NU Belanda) dan PCI Muhammadiyah, dan lainya.

PPME Al-Ikhlas Amsterdam, salah satu komunitas Muslim Indonesia di Amsterdam. (Dok. pribadi)

Hingga tahun 2017, Muslim Indonesia di Belanda berkembang dengan cukup pesat. Ini ditandai dengan mulai banyak berdirinya masjid/pusat budaya Indonesia di banyak kota di Belanda, antara lain: PPME Al-Ikhlas Amsterdam, Masjid Al-Hikmah Den Haag, Masjid Stichting Generasi Baru (SGB) Utrecht dan lainya. Dalam sebuah wawancara online di awal tahun 2018 lalu, K.H Hasyim Subadi, Ketua Takmir Masjid Al-Hikmah Den Haag sekaligus Rais aam Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Belanda, menyatakan bahwa jumlah masyarkat Muslim Indonesia di seluruh wilayah Belanda hingga tahun 2018 adalah adalah sekitar 9000 jiwa dan diproyeksikan akan terus bertambah seiring dengan banyaknya santri/pelajar Indonesia yang belajar ke Belanda tiap tahunnya.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *