Beberapa pekan terakhir ini dunia dikejutkan dengan wabah virus corona, tak terkecuali dengan Indonesia. Pemerintah melalui kementrian kesehatan terus berupaya mencegah dan menangani virus yang mematikan ini antara lain dengan peningkatan pelayanan dan pembentukan Tim Gerak Cepat (TGC) di berbagai otoritas pintuk masuk negara.

Selain tetap berdoa dan berusaha menghindarinya, kita tidak boleh terlalu panik dan khawatir apalagi sampai menebar isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sumbernya.

Di tengah keadaan seperti ini, masih saja ada sebagian saudara kita yang berani menghakimi bahwa virus ini adalah adzab, bahkan setiap kali ada bencana dan penyakit yang menimpa seseorang atau suatu kaum langsung dikaitkan dengan adzab.

Stigma semacam ini perlu diluruskan, karena bentuk kasih sayang Allah swt terhadap hamba-Nya -khususnya orang muslim- tidak selalu berupa kesenangan, boleh jadi berupa penyakit, wabah, dan bencana. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمُ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya”

HR. Bukhari

Hadis ini secara tersirat mengajarkan kepada kita agar jangan mengaitkan penyakit dan musibah dengan adzab, justru Allah swt mengangkat derajat, mengahpus dosa sesorang atau suatu kaum dengan penyakit dan bentuk kesusahan lainnya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui tentang suatu musibah, tugas kita hanyalah membantu orang yang terkena musibah, dan mendoakannya.

Dalam menyikapi wabah virus yang tengah menyebar ini, sepatutnya kita mengedepankan akhlak dan etika anataralain dengan

1) Tidak Berburuk Sangka

Berbaik sangka kepada sesama manusia merupakan akhlak terpuji, terlebih berbaik sangka kepada orang yang tengah terkena musibah, bisa dibayangkan ketika kita sakit atau sedang terkena musibah kemudian ada orang lain yang berburuk sangka kepada kita, akan seperti apa perasaan kita? Tentu membuat perasaan dan hati ini tidak nyaman bukan! Kita perlu berbaik sangka bahwa virus corona ini memang telah Allah swt tetapkan di lauhul mahfudz sebagai cobaan bukan siksaan, sebagaimana firman-Nya

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

Artinya: “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. (Qs Al-Hadid:22)

2) Jangan Mudah Terprovokasi

Di era media sosial seperti saat ini, informasi sangat mudah didapat, kaba-kabar dari berbagai sumber pun lerlalu lalang di genggaman tangan kita, tidak sedikit di antara informasi-informasi itu yang mengaitkan wabah virus corona ini dengan kepentingan politik tertentu. Sebagai seorang muslim yang baik jangan mudah terprovokasi atau memprovokasi, sepatutnya terus menggali informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti situs resmi, bukan dari bc-an grup WA.

3) Membantu dan Mendoakan

Saudara kita yang tengah terkena wabah dan musibah itu jangan dihina, dicaci, tapi justru harus dibantu, bisa dengan harta dan tenaga, atau minimal dengan doa. Karena pada hakikatnya bantuan itu akan menjadi feedback untuk kita sendiri Sebagaimana sabda Nabi saw:

وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ

Artinya: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Sebenarnya masih banyak etika menyikapi musibah dan wabah ini, namun tiga rangkaian tersebut di atas seringkali dilupakan oleh kebanyakan orang, semoga virus corona segera Allah musnahkan di seluruh penjuru dunia. Amiin


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *