Oleh Muhammad Alvin Jauhari (Alumni IICS 2019).

Tahun 2019 Allah menakdirkan saya untuk mengikuti program yang luar biasa yaitu International Islamic Comparative Study yang diselenggarakan oleh Komunitas Santri Mengglobal. Dengan misi membantu lebih banyak Santri belajar di luar negeri. Salah satu nya program International Islamic Comparative Study. Yang mana program ini telah membuka wawasan dan pengalaman global. Mendorong saya sebagai santri untuk lebih terbuka dengan dunia global, serta mendorong untuk mempelajari budaya dan dunia global.

Rupanya, Allah membukakan jalan wasilah untuk belajar ke Luar negeri lagi setelah mengikuti program IICS 2019. Syukur alhamdulillah Tahun 2020 ini Allah memberikan kesempatan lagi untuk belajar di Luar negeri. Ya, kali ini menjadi peserta program menyapa dunia #1 di Malaysia dan Singapura pada 01 – 05 Maret 2020 yang diselenggarakan oleh Komunitas Pemuda Indonesia Menyapa. dua sekolah yang dikunjungi yaitu Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia (PPWNI) Insan Malindo, Klang Malaysia Dan Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB), Malaysia. PPWNI merupakan sekolah bagi anak- anak TKI, sekolah ini tergolong sederhana dan menyedihkan. Pasalnya sekolah ini memiliki lebih dari 100 Siswa, dengan hanya memiliki 4 ruang kelas. Setiap ruang kelas diisi oleh 2- 3 kelas. Mirisnya sekolah ini hanya memiliki 3 Guru pengajar dengan jumlah ratusan siswa. Sedangkan di SIJB merupakan sekolah yang tergolong bagus. Berbeda jauh dengan PPWNI. Dari segi fasilitas dan bangunan.

Di Kedua sekolah tersebut saya memberikan wawasan kebangsaan, penguatan Nasionalisme dan memperkenalkan budaya Khas Indonesia. Termasuk, memperkenalkan Santri dan Pesantren yang ada di Indonesia. Mereka perlu dikuatkan lagi Nasionalisme, karena mereka tinggal di dua negara. Sehingga cinta tanah air mereka setengah – setengah. Oleh karena itu, saya terpanggil untuk berbagi pengalaman dan memberikan penguatan Nasionalisme kepada mereka. Dan mayoritas dari mereka belum pernah ke Indonesia. Sehingga pengenalan budaya Indonesia dan penguatan Nasionalisme & cinta tanah air mereka sangat dibutuhkan.

Selain melakukan Pengabdian di Kedua sekolah Indonesia. Saya belajar dan menggali budaya Malaysia dan Singapura dengan mengunjungi situs – situs bersejarah. Seperti Dataran Merdeka, Bandaraya Melaka Bersejarah dan di Singapura mengunjungi Victoria Theatre. Perjalanan selama 5 hari tersebut membangkitkan semangat dan memotivasi diri terlebih sebagai seorang santri untuk terus meningkatkan kualitas diri dan mendorong diri untuk bisa berguna bagi masyarakat luas tidak hanya di Indonesia, namun juga di Luar negeri. Ini sebagai bukti bahwa Santri bisa berbagai hal. Tidak hanya bisa mengaji, tapi bisa melakukan banyak hal. Termasuk melakukan Pengabdian Sosial dan Edukasi di Sekolah Indonesia yang ada di Luar negeri.

Seorang Santri harus lebih terbuka dan mempunyai jiwa- jiwa pengabdian yang tinggi untuk bangsa dan negaranya. Saudara – saudara kita se tanah air dan sebangsa yang berada di Luar negeri membutuhkan sentuhan tangan dari kita sebagai salah satu generasi kebanggaan bangsa. Santri sudah se layaknya membuka jiwa pengabdian lebih luas lagi. Tidak hanya di Indonesia. Tapi juga harus merambah ke Luar negeri.

Begitulah cerita singkat kami. Perjalanan ini merupakan hasil wasilah dan berkat kami mengikuti Program International Islamic Comparative Study (IICS) 2019. Dengan harapan semoga next time kami diberikan kesempatan Allah untuk belajar lagi di Luar negeri.

Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *