Santri memiliki semangat juang yang tinggi, solidaritas yang tak perlu diragukan dan keikhlasan dalam menyebarkan ilmu yang telah ia dapatkan ketika menuntut ilmu di pondok pesantren. Namun hak tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti dimanfaatkannya semangat dan tawadhunya santri oleh kelompok ekstrimis atau liberalis. Hal ini mungkin tidak berpengaruh kepada santri yang berprinsip kuat, akan tetapi mudah saja berpengaruh kepada santri yang tengah berproses dalam pencarian jati diri.


Mungkin bagi penikmat novel karya Adian Husaini yang berjudul ”KEMI” sudah tidak asing lagi dengan alur ceritanya. Pada catatannya novel ini hanya bersifat fiksi namun bisa dijadikan pelajaran dan sebuah wawasan, bahwa apa yang dipaparkan oleh penulis novel bisa jadi dikutip dari sebuah kisah nyata. Kemi, santri cerdas dengan semangat juang yang tinggi. Namun, tenggelam dalam cinta kebebasan yang tersesat. Lingkungan yang baru ia temui, pemikiran baru yang belum ia temui di pondok pesantren ternyata membuat ia lengah akan prinsipnya dan ilmu yang telah ia dapatkan di pondok pesantren.


Pemahan liberalism yang tokoh KEMI pahami dalam cerita tersebut seperti menyamakan semua agama. Kemi beranggapan bahwa semua agama adalah sama, hanya penyebutan nama tuhannya saja yang berbeda. Jelas, hat itu adalah sebuah kekeliruan yang amat fatal dan dapat merujuk kepada syirik. Kemudian logika-logika yang terlihat ilmiah namun ternyata cacat dalam makna sebenarnya. Hal-hal seperti ini bisa mengecoh santri, hingga kitab-kitab klasik yang biasa dijadikan rujukan, akhirnya mereka tinggalkan. Menganggap kitab klasik yang diajarkan di pondok pesantren dianggap kolot karena tidak mengikuti perkembangan zaman. Sungguh, ini logika yang menipu. Tampak benar, padahal cacat.

Santri harus lebih cerdas dan kritis. Penting untuk tidak mudah terbawa arus dan zona baru yang baru ia temui. Kitab-kitab klasik tetaplah harus jadi pegangan kuat meskipun sudah lagi tidak tinggal di pondok pesantren. Karena itulah landasan dan pegangan seorang santri selain Al-qur’an dan sunnah, kitab klasik juga merupakan amunisi perang mereka ketika menghadapi kecacatan dalam pemahaman agama islam, seperti masalah akidah dan fiqih.

Bagaimana bisa santri tetap pada prinsip ketika ia keluar namun ternyata ia terkecoh dengan pemikiran yang dibawakan oleh John Hick, seorang beragam Kristen pluralis yang tidak bisa menerima klaim-klaim ketuhanan eksklusif dalam agamanya sendiri. Dan ternyata masih ada orang islam mengikuti jejaknya! Ketika John Hick tidak menyakini agamanya, tidak usahlah seorang muslim mengikuti jejaknya lantas meragukan agama islam itu sendiri.

Masih dalam novel yang disebutkan di atas, terdapat salah satu tokoh protagonist bernama Rahmat. Rahmat dan Kemi bersahabat dekat. Bedanya, ia tidak ikut terjerumus dalam paham yang keliru dan merusak akidah seperti yang dialami Kemi. Fenomena ini mungkin benar-benar terjadi dalam dunia nyata. Bisa jadi salah satu atau beberapa di atara kita pernah menanyakan hal serupa. Baik itu diutarakan secara lisan, atau hanya sekedar melintas dalam pikiran.


‘’Bagaimana kita memahami keadilan Allah, jika ada orang-orang baik seperti Bunda Teresa dan Nelson Mandela akan dimasukan ke dalam Neraka, sedangkan orang-orang jahat akan masuk surga hanya karena ia beragama Islam?’’

Pertanyaan di atas terkadang dapat membuat seseorang terkecoh. Sekilas, bisa saja membuat kita tiba-tiba membenarkan bahwa Allah itu tidak adil, karena menempatkan orang baik di tempat terburuk, sedangkan orang yang berbuat jahat pada akhirnya mendapat tempat yang baik hanya karena dia beragama Islam. Tapi bila kita kritis, pertanyaan tersebut mudah sekali kita bantah.

Sebetulnya kita tidak perlu menanyakan di mana letak keadilan Allah terhadapat orang-orang kafir yang sering melakukan kebaikan namun dinyatakan akan dimasukan ke dalam Nerakanya Allah.


Pertama , kalau kita memaknai kalimat ‘’Bismillahirrahmanirrahmin’’ itu tidak hanya berarti ’’dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang’’ namun secara makna yang dalam ’’arrahman’’ disini bermakna allah sang maha pemberi nikmat besar di dunia, tidak memandang ia itu kafir atau muslim. Rasa kasih-NYA, Allah berikan kepada siapa pun tanpa pandang siapa mereka, beriman atau tidak. Berbeda dengan makna ’’arrahim’’ yang bermakna Allah sang maha pemberi nikmat khusus di akhirat, yaitu untuk orang-orang yang beriman yaitu kaum muslimin. Rasa sayang Allah hanya dikhususkan bagi mereka yang beriman dan beragama islam, tidak untuk mereka yang tidak mengakui Allah sebagai tuhan yang maha esa dan nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.

Kedua, dalam aspek pengakuan dan pembenaran, yakni syahadat, kita tahu yang pertama kali dicari oleh negara Indonesia adalah pengakuan terhadap kemerdekaan bukan bantuan. Begitupun seorang utusan negara asing yang datang ke Indonesia. Bila tidak ada konfirmasi dengan negara yang bersangkutan untuk mengadakan kunjungan, maka jangan berharap untuk diperlakukan dengan baik. Begitupun dengan Allah SWT, ketika meminta manusia agar mengakui Allah adalah satu-satunya Tuhan. Sebagaimana firman-Nya, “Qul Innani Ana Allahu, La-ilaha illa Ana, fa’budni wa aqimish shalata li-dzikri.” Katakanlah, Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, Maka dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (Thahaa: 14)

Lalu kemudian Allah pun menyeru kepada manusia agar mengakui bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya, karena wasilah baginda nabi lah kita dapat mengetahui tata cara ibadah kepada Allah SWT. Dengan kesimpulan seseorang yang tidak mengimani Allah adalah tuhan satu-satunya dan Muhammad SAW adalah utusannya bukannlah orang baik secara iman melainkan ia adalah orang jahat, terlebih-lebih ia yang dalam posisi memeluk agama islam lalu kemudian meragukan keimanannya dan agamanya sendiri.

Pembahasan di atas mungkin hanyalah satu dari seribu pertanyaan yang mengecoh umat islam, terkhusus para santri lah yang menjadi sasaran empuk untuk dirangkul oleh kelompok tersebut. Karena santri cerdas dengan semangat juang yang tinggi, tidaklah cukup. Bila tidak memiliki prinsip hidup yang kuat. Ia yang masih berpegang pada kitab-kitab klasik, meskipun belajar hal-hal yang baru ketika keluar pondok pesantren, seperti buku-buku kontemporer atau artikel-artikel pemikiran barat dan orientalis, entah itu membahas tentang kesetaraan gender, humanism dsb. Selagi pedoman hidup yaitu al-qur’an sunnah dan kitab-kitab karangan ulama masih ia tekuni, pemahaman baru yang ia temui tidak akan membuat ia lengah dan terjerumus dalam kesesatan.

Darma Ami Fauzi
Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *