Covid-19 yang semakin menjadi-jadi ini, selain berdampak buruk bagi kesehatan dan ekonomi juga turut menggerogoti dunia pendidikan. Bagaimana tidak, hampir semua lembaga pendidikan formal dari mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi bisa “libur mendadak”. Selain itu, pendidikan non-formal, seperti pengajian, majelis taklim, dan TPQ juga turut menutup kegiatannya sementara .

Kendati memang di era yang serba digital ini akses transformasi ilmu dapat ditempuh melalui internet dan pembelajaran online, namun efektivitasnya tidak seutuh dengan pembelajaran yang langsung tatap muka. Apalagi jika mengaca pada tolok ukur pendidikan versi pesantren, yang mana mengharuskan murid bertatap muka langsung dengan guru dan kiai. Hal ini diyakini dapat membawa keberkahan tersendiri bagi si murid. Selain itu, mata rantai keilmuan dapat diakui dan dipertanggungjawabkan setelah seorang murid bertemu langsung dengan gurunya.

Penyebaran virus corona yang menuntut kita untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah ini. Sebenarnya, tidak luput dari banyak hikmah yang dapat kita petik, antara lain, covid-19 mengingatkan kita akan jati diri pendidikan.

Penulis berani mengatakan bahwa mendidik dengan membimbing anak belajar di rumah adalah salah satu langkah mengembalikan jati diri pendidikan, mengapa demikian? Karena pada hakikatnya pendidikan pertama yang diperoleh oleh anak adalah pendidikan dari kedua orangtuanya.

Tak heran jika dalam banyak literatur ilmu pendidikan diuraikan bahwa faktor utama yang dapat mempengaruhi seseorang adalah keluarga, dari sini timbul pribahasa “harta yang paling berharga adalah keluarga”.

Tujuan utama dari pendidikan itu sendiri, yakni membawa kehidupan manusia kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Al-Qur’an memerintahkan kita agar menjaga diri dari siksa api neraka, perintah pertama ditujukan kepada diri sendiri, kemudian ditujukan kepada keluarga, sebagimana firman-Nya;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.  (QS. At-Tahrim: 6)

Kandungan ayat ini, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi saw, pada awal mula menyebarkan dakwah Islam. Beliau memulai kepada keluarganya sendiri, setelah itu beliau lakukan dari rumah ke rumah. Melalui pendekatan yang santun dan damai. Seakan-akan posisi Nabi saw saat itu sebagai orangtua yang merangkul “anak-anak” yang baru mengenal Islam.

Dari sini maka, peran keluarga terutama kedua orangtua sangatlah berpengaruh bagi perkembangan pendidikan seorang anak. Karena pendidik utama dan pertama seorang anak adalah orangtuanya sendiri, bukan guru di sekolah.

Guru-guru di sekolah, tugasnya hanya membantu mendidik anak-anak untuk mengembangkan potensi dan bakatnya, disebabkan keterbatasan tenaga, waktu, dan kemampuan orangtua. Sekali lagi, mereka bukan pendidik utama. Pendidik utama tetap orangtua si anak. Tak heran jika ada pepatah Arab yang mengatakan;

اَلْأُمُّ مَدْرَسَةُ الْأُوْلَى إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبًا

Artinya: “Ibu adalah lembaga pendidikan pertama (bagi anaknya), jika kamu mempersiapkannya (dengan baik) maka secara otomatis kamu telah menyiapkan bangsa yang baik

Dengan demikian, kondisi yang menuntut kita agar lebih banyak di rumah seperti saat ini, merupakan kesempatan berharga untuk membuka keran komunikasi selebar-lebar dengan sanak saudara, terlebih orangtua dengan anaknya. Hal ini diharapkan agar terwujud komunikasi harmonis dan pembelajaran yang efektif sebagaimana yang digambar oleh Allah swt dalam surat Luqman dari ayat 13-19. Begitu indahnya dialog-edukatif antara ayah dengan anaknya dalam surat tersebut.

Namun sangat disayangkan, di tengah kondisi seperti ini masih banyak anak-anak yang terlantar pendidikannya, mereka malah dibiarkan bebas bermain dan keluyuran kemana-mana, orangtuanya sendiri sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan sibuk dengan hp dan dunia mayanya masing-masing. Belajar di rumah butuh pengawasan, bimbingan dan dukungan penuh dari orangtua, jangan biarkan mereka terlantar dan kualitas pendidikan bangsa ini menurun, hanya karena wabah korona.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *