Oleh: Fajri Zulia Ramdhani

Aku tau rezekiku tidak akan dimakan orang lain, karenanya hatiku tenang. Aku tau amalanku tidak mungkin dilakukan orang lain, makanya kusibukkan diriku dalam amal. Aku tau Allah selalu melihatku, karenya aku malu jika didapati aku dalam maksiat. Aku tau kematian menantiku, makanya kupersiapkan bekal untuk jumpa dengan-Nya.” – Hasan al-Basri

Halimah binti Abu Dzunaib as-Sa’diyah adalah ibu susuan dari Nabi Muhammad Saw. Diceritakan suatu hari, Halimah dan suaminya serta anak yang masih disusuinya pergi meninggalkan kampung halaman. Bersamanya, serombongan wanita Bani Sa’ad bin Bakr mencari bayi yang hendak disusui dan mendapatkan upah dari orang tuanya.

Halimah berkata, “saat itu musim paceklik, kami tidak memiliki apapun. Saat itu aku mengenakan baju berwarna hijau. Aku mengendarai unta. Demi Allah, kami tidak memiliki setetes air pun. Kami tak dapat tidur juga bayi kami. Anak kami menangis karena kelaparan, sedang air susuku sudah tak ada lagi. Aku terus melanjutkan perjalanan dengan perlahan karena hewan tunggangan kami sudah lemah dan tak mampu menanggung tunggangan.”

Tibalah mereka di Mekkah, dan bersegera mencari anak susuan. Tak seorang pun ibu susuan yang menerima Muhammad. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab, “sesungguhnya bayi ini yatim.” Mereka seperti itu, karena mengharapkan upan susuan dari bapak si anak.

“Semua ibu susuan mendapatkan bayinya kecuali aku. Ketika kami berkumpul untuk pulang, aku berkata kepada teman-temanku, ‘demi Allah, aku tidak suka pulang tanpa bayi susuan.’ Kami bersama berangkat menuju bayi yatim itu, dan aku mengambilnya.” Suaminya berkata kepada Halimah. “Sungguh kamu harus melakukannya, semoga Allah memberkahi kita karena anak ini.”

Halimah berkata, “Ketika aku sudah mengambilnya, aku pulang dengan menunggang untaku. Aku meletakkan di pangkuanku agar ia dapat menyusu. Ia pun menyusu sampai kenyang. Saudara sepersusuannya pun menyusu sampai puas. Keduanya pun tertidur, sedang sebelumnya kami tak dapat tidur. Suamiku berdiri dan berjalan mendekati unta kami, dan mendapati air susunya penuh. Lalu suamiku memerahnya, dan kami minum hingga kenyang”.

“Kami keluar menunggangi unta, aku menggendongnya. Demi Allah, kami melintasi jalan dengan cepat hingga mendahului tunggangan lainnya”. Teman-temannya pun bertanya kepadanya, “wahai putri Abu Dzuaib, tunggulah kami. Bukankah itu untamu adalah unta yang sama dengan yang kau tunggangi kemarin?” “Benar, ini unta yang kutunggangi kemarin” “demi Allah, telah terjadi sesuatu dengan unta ini”.

Itulah sedikit dari banyaknya keberkahan yang dialami langsung oleh Halimah as-Sa’diyah ketika mengambil Nabi Muhammad sebagai anak susuannya. Ialah yang menanamkan pondasi pertama akhlak yang baik, kemuliaan, kebenaran, dan kejujuran. Mengajarkannya bahasa Arab yang baik, menikmati udara pegunungan yang menopang pertumbuhan Nabi. Pun kasihnya kepada Nabi sangat besar, hingga ketika Muhammad dikembalikan kepada keluarganya di usia lima tahun lebih satu bulan, kesedihan memenuhi dirinya.*
*) kisah diambil dari Muslimah Teladan Sepanjang Sejarah, 2016 oleh Tim Ar-Rahman.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *