“Tidak ada kerja berkualitas, berkahnya jangka panjang, kemudian pondasinya sangat kuat, kalau pekerjaan itu tidak melewati jerih payah yang menjadi rumus dalam hidup.”

Prie GS

Menjelang pagi hari, saya langsung bergegas ke dapur menghangatkan air, meracik kopi robusta yang dikirimkan oleh kakak saya yang sedang giat bekerja di jauh sana. Sambil mencari-cari musik, saya pun mendownload aplikasi spotify, awalnya ingin mendengarkan lagu-lagu koplo yang akhir-akhir ini trending, namun tiba-tiba mata saya terfokus kepada beberapa podcast yang disediakan, dan saya coba mencari salah satu tokoh favorit saya di bidang tulis-menulis, Prie GS. Barangkali Beliau aktif di bidang per-podcastan juga. Ketemu!

Ada 6 podcast yang telah diterbitkan oleh Prie GS di Spotify. Durasinya beragam, dari mulai 7 menit hingga setengah jam. Tema yang dibicarakan pun beragam, dan tetap asyik. Salah satu podcast yang menarik bagi saya adala podcast ke-6 yang diunggah pada 10 Desember 2019, judulnya adalah, “Rumus Hidup.” Beuh!

Bayangkan, bagaimana hidup yang kita jalani berpuluh-puluh tahun ini dirumuskan oleh Prie GS. Betapa hebatnya! Kendati demikian, sebenarnya yang disinggung oleh Prie GS sendiri tak lebih banyak, isinya adalah terkait migrasi peran, tepatnya profesi. Berapa banyak diantara kita yang pernah mempertanyakan terkait profesi atau pekerjaan kita, atau muncul dalam benaknya, “Mengapa pekerjaan saya ini begitu banyak mengeluarkan modal, tenaga, pengorbanan, boros, namun penghasilannya tak lebih dari cukup dan hasilnya tidak efektif.”

Pertanyaan tersebut seringkali mengawang-awang dalam otak kita, hingga nyatanya banyak sekali terjadi migrasi peran secara besar-besaran. Hingga saat ini, betpa sedikitnya populasi petani dibanding pekerja proyek, atau karyawan pabrik di kota-kota.

Prie GS menceritakan seorang petani tua yang ditemuinya, kemudian mereka berdua berbincang-bincang. Beliau teringat betapa banyaknya migrasi peran atau profesi, tadinya banyak orang menjadi petani, hingga kini banyak yang migrasi menjadi supir, karyawan pabrik, dan semacamnya. Tentunya penghasilan petani perharinya tidak sebesar para karyawan itu. Prie GS bertanya mengapa pak Tani tetap bertahan pada perannya?

Jawaban Pak Tani itu menginspirasi sekali. Ia menjawab menggunakan bahasa Jawa, artinya, “Loh, kalau saya tidak menanam, maka orang-orang itu mau memakan apa?” jawaban tersebut setidaknya menyadarkan kita, bahwa untuk memakan sesuatu maka harus menanam, dan apabila migrasi peran semakin banyak, maka terjadi ketidakseimbangan peran.

Berapa banyak saat ini pekerjaan yang mudah, simpel, tidak merepotkan, dan untungnya sangat besar. Namun, kendati demikian Prie GS mengingatkan kepada kita bahwa:

“Tidak ada kerja berkualitas, berkahnya jangka panjang, kemudian pondasinya sangat kuat, kalau pekerjaan itu tidak melewati jerih payah yang menjadi rumus dalam hidup.” Ujar Prie GS

“Keuntungan terbesar anda tidak selalu terkait keuntungan-keuntungan finanasial, namun keuntungan yang besar adalah ketika anda menjadi jalan pembuka bagi keuntungan orang banyak, dimana anda menjadi pondasi bagi hidup orang banyak.” Lanjutnya.

Makin kesini manusia semakin banyak dan berkembang. Berkembang disini dalam artian berkembang profesinya, serta perannya, seiring modernnnya peradaban. Apalagi adanya internet dan gadget, perkembangan profesi yang variatif tak dapat dielakkan.

Orang-orang semakin ingin mencari kemudahan dibalik pekerjaannya dengan untung yang besar. Profesi-profesi yang zahirnya tidak menghasilkan banyak keuntungan akhirnya ditinggalkan. Menjadi petani, peternak hewan, barangkali sudah tidak menjadi minat anak muda sekarang. Termasuk kita. Kendati demikian, rumus hidup tetaplah harus dipegang. Jejakilah kelelahan dan kejemuan, dan raihlah keberkahan.

Categories: Kisah Inspiratif

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *