Bismillahirrahmanirrahim
Ibarat sebuah koin, Perempuan dan fashion layaknya dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Sejauh yang saya perhatikan, mayoritas kaum perempuan mendambakan tampil trendi dan menawan. Banyak motif alasan yang menjadi penyebab tentunya. Dan bagi saya, hal tersebut adalah lumrah, karena pada umumnya kaum wanita memang kerap senang memperhatikan penampilan dan hal tersebut pun sah-sah saja selama tidak melupakan ‘idenitas’ utama kita sebagai seorang Muslimah.
**
Sebagai seorang Muslimah yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren pun, saya menyadari bahwa saya belum sepenuhnya menjadi pribadi yang ‘kaffah’ lahiriyah dan bathiniyyah dengan mengamalkan sepenuhnya syariat-syariat yang telah ditentukan dalam islam. Awalnya saya beranggapan, diantara faktor utama yang penyebab kondisi yang menggelisahkan ini, saya kira, adalah lingkungan dimana saya tinggal. Ya, faktor lingkunganlah yang membuat saya menjadi demikian lalai. Sanak keluarga dan lingkaran pertemanan saya yang kurang begitu memperdulikan persoalan syariat menjadi faktor utama kelalaian tersebut bermula. Saya kira begini adanya.
**
Tetapi, lambat laun, saya mulai menyadari banyak hal lainya. Hingga sering kali terdetak dalam benak saya, kenapa ada orang yang mengaku Muslimah tapi ia enggan menutup aurat? perkara penutup kepala misalnya, atau lebih kita kenal dengan istilah hijab/kerudung. Juga, timbul pertanyaan lainya, apa karena tidak sampai kepadanya dakwah yang menyerukan kewajiban menutup aurat? Mungkin. Tapi ada juga yang jelas-jelas sudah tahu tapi menolak melakukannya. Dianggap kurang modis, atau mungkin ketinggalan zaman. Bahkan, ayah saya pun pernah bercerita, dulu sewaktu muda dulu, ia tidak mau berkencan dengan wanita berhijab. “Gimana kalo ternyata daun telinganya enggak ada satu?” katanya, yang membuat saya tergelak.
**
Ungkapan dan pernyataan, ‘berjilbab dianggap kurang modis’. Jika ada yang masiih berpendapat demikian, saya kira pendapat tersebut, mungkin tepat, untuk sepuluh tahun yang lalu. Saya pun merasakannya sendiri. Di awal saya masuk pesantren, sulit sekali menemukan baju-baju Muslimah untuk usia remaja putri. Semua baju Muslimah yang beredar di pasar diperuntukan untuk usia-usia di atas 30an. Semua modelnya ‘ibu-ibu banget’. Ini pengalaman saya. Bisa benar bagi sebagian orang, juga bisa benar bagi sebagian lagianya. Setidaknya, ungkapan ini sempat diaminkan beberapa rekan saya saat itu.

**
Namun saya bersyukur, saat ini, semuanya, saya kira, sudah banyak yang berubah. Sudah banyak designer-designer Muslimah kekinian yang merancang beragam busana khusus untuk Muslimah untuk berbagai usia. Sekarang, menemukan pakaian muslimah yang trendi dan ciamik sudah lumrah ditemui di mana pun.
Untuk pandangan kedua, ‘ketinggalan zaman’. Menurut saya, hal ini bergantung pada pola pikir Muslimah itu sendiri. Seperti yang sudah saya katakan dan alami sebelumnya. Dulu saya berpikir bahwa sebagai Muslimah, bahwa kita juga berhak tampil sesuai keinginan kita. Tentunya, selama masih dalam batas-batas yang wajar. Wajar yang saya maksudkan kala itu adalah masih mengenakan pakaian tertutup, tanpa peduli apa pakaian tersebut masih memperlihatkan lekukan tubuh atau tidak. Masih mengenakan hijab, tidak peduli panjang atau pendek.
**
Alhamdulillah, setelah melalui banyak sekali proses, Allah berkenan membukakan saya jalan untuk memaknai perihal Muslimah dan pakaian yang seharusnya dikenakan. Tidak sekaligus, tentu saja. Saya pun masih berproses sampai saat ini. Yang pastinya, bukan karena cercaan atau cemooh orang-orang tentang gaya berpakaian saya. Sungguh, dakwah dengan cara mengingatkan langsung itu tidak selalu berpengaruh baik. Bahkan sangat mungkin dianggap radikal dan malah menjauhkan.
**
Ada cerita yang juga ingin saya kisahkan. Suatu pagi, saya membaca beberapa artikel di media online, salah satu artikel yang berjudul ‘Pemakaian Jilbab bagi Muslimah Menurut Ibnu Asyur’ sempat menarik perhatian saya. Disana dituliskan bahwa pada zaman dahulu, perempuan yang mengenakan hijab/menutup kepala adalah perempuan-perempuan merdeka. Mereka yang tidak mengenakan penutup kepala adalah seorang budak. Saat itu, hijab dijadikan ciri kedudukan seorang perempuan bermartabat. Gunanya, untuk melindungi perempuan merdeka tersebut dari orang-orang yang berpikiran tidak senonoh. Lantas memudian, beberapa waktu ini sempat viral pernyataan seorang dokter Muslimah berhijab yang menerima kritikan dari seorang wartawan. Dikatakanya, bahwasannya, pakaian yang ia kenakan tidak mencerminkan kecerdasannya. Sang dokter pun menanggapi, bahwa apa yang ia kenakan itu adalah lambang kemajuan dalam berpikir yang telah dicapai manusia selama berabad-abad. Beliau juga menambahkan, adapun ketelanjangan yang ada saat ini, justru simbol kemunduran, kembalinya manusia pada kejahilan. Seandainya ketelanjangan itu simbol kemajuan, maka para binatang itu telah mencapai puncak peradaban. Untuk Bagi saya, menggunakan jilbab bagi perempuan pun adalah salah satu bentuk ikhtiar seorang wanita menjaga martabat dirinya. Karenanya, sebisa mungkin jangan ditinggalkan.
**
Saya masih berpegang pada prinsip bahwa menjadi Muslimah, bukan berarti kita tidak boleh mengenakan apa yang kita inginkan dan sukai. Akan tetapi, sebagai seorang Muslimah yang berorientasi pada dunia dan akhirat, bukankah kita juga harus menolak hal-hal yang menarik kemudharatan besar sekalipun memberikan manfaat?

**
Saya pun tidak bermaksud menyalahkan sepenuhnya muslimah yang belum berhijab sampai saat ini. Tentunya mereka punya pertimbangan masing-masing. Saya hanya bisa mendoakan semoga mereka, suatu waktu, juga mendapatkan sudut pandang baru yang bisa mengantarkan mereka untuk mengenakan hijab. Juga saya ingin tegaskan, menjadi gaya dan trendi bukan sebuah kesalahan. Bergayalah sesuai keinginanmu. Ekspresikan semua yang kamu sukai. tetapi, ingatlah untuk tetap menyeimbangkan dunia dan akhiratmu kelak! Jangan sampai kita terlena untuk mengejar keindahan dunia, lantas rela merendahkan kualitas kita sebagai Muslimah.

April, 2020
Dewita Senja

*sumber poto carabaruQ.com


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *