Para ulama fiqh tidak mempermasalahkan wajib nya laki laki dan perempuan untuk meminta izin ketika ingin berpuasa sunnah akan tetapi bagi seorang perempuan yg sudah menikah (bersuami) maka wajib baginya untuk meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya.
Kutipan diatas mensandarkan dengan dua dalil 1. Sunnah dan 2.dalil ma’qul :

1. Sunnah


عن ابي هريرة ، لا يحل للمرأة ان تصوم وزوجها شاهد الا باذنه” وزاد احمد،ابو داود:  ” غير رمضان

Dengan makna “tidak dihalalkan bagi seorang istri berpuasa dan suaminya ada kecuali dengan izinnya, dan menambahkan abu daud,:  selain ramadhan.
Karena ada penjelasan lagi bahwa memberi kepercayaan kepada suami itu lebih awal dari pada yg sunnah berbeda dengan puasa ramadhan tak apa tidak meminta izin kepada suami meskipun ia membenci.

2. Dalil ma’qul


ان حق الزوج فرض فلا يجوز تركه لنفل.

Sesungguhnya hak kepada suami itu fardu dan tidak dibolehkan meninggalkannya karena untuk melaksanakan yg sunnah
Bahkan imam abu hanifah dan imam maliki  mengkiasakan nya kembali kepada seseorang yg di sewa atau buruh,  jangan lah berpuasa sunnah seseorang yg disewa atau dipekerjakan kecuali meminta izin kepada orang yg menyewanya  (mempekerjakannya) apabila puasanya berdampak dalam pekerjaan.

Hal inipun dikuatkan dengan fatwa darul ifta Mesir, bahwa seorang istri diharuskan meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya bila ingin melaksanakan puasa sunnah yang diulang-ulang seperti puasa Senin Kamis,  Akan tetapi jika puasanya tidak berulang kali (artinya, memiliki batasan waktu tertentu) seperti puasa ‘Arofah, puasa ‘Asyura, puasa enam hari di bulan Syawal, maka boleh dilakukan tanpa izin suami, kecuali jika memang suami melarangnya. Dan juga diharamkannya seorang istri berpuasa qadha di waktu yang luas tanpa izin suami kecuali diwaktu yang memang sudah terlihat mepet itu mengqadha puasa ramadhan seperti bulan sya’ban. Pendapat ini dikutip dari pendapat Syeikh Ibnu Hajar Allah Al-haytami dalam kitabnya Tuhfatul muhtaj fi syarhil minhaj.

Ada pertanyaan apakah puasa sunnah seorang istri sah bila puasa tanpa meminta izin kepada suaminya?  Dan apabila sah, apakah boleh suaminya menyuruh untuk berbuka (sebelum waktunya )?

Jawabannya

tidak ada perbedaan diantara ulama fiqh dari 4 madzhab terhadap sah nya puasa seorang wanita yg tidak meminta izin dari suaminya yg masih ada, akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam penetapan haram dalam semua puasa sunnah atau sebagiannya saja :

1. Madzhab pertama (jumhur) imam hanafi, imam maliki dan imam hanbali mengharamkan untuk semua puasa sunnah dengan hujah hadis yg melarang bagi seorang wanita yg bersuami agar Meminta izin terdahulu jika hendak melaksanakan puasa sunnah.

2. Madzhab kedua, imam syafi’i  berpendapat adanya pengkhususan pengharaman puasa sunnah seorang wanita yg tidak meminta izin kepda suami, yakni puasa yg diulang ulang , dan apabila puasa yg tidak diulang ulang seperti puasa hari arafah asyura dan 6 hari di bulan syawal maka sah puasa nya walaupun tidak meminta izin pada suaminya kecuali sang suami sudah melarangnya.

Dikuatkan juga Dalam kutipan kitab al-mausuah al-fiqhiyah al-kuwatiah

الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء ٢٩ ص ٩٤
اتفق الفقهاء على أنه ليس للمرأة أن تصوم تطوعا إلا بإذن زوجها ” لقول النبي صلى الله عليه وسلم ” لا تصم المرأة وبعلها شاهد ، إلا بإذنه ، ولأن حق الزوج فرض، فلا يجوز تركه لنفل ولو صامت المرأة بغير إذن زوجها صح مع الحرمة عند جمهور الفقهاء ، والكراهة التحريمية عند الحنفية ، إلا أن الشافعية خصوا الحرمة بما يتكرر صومه ، أما ما لا يتكرر صومه كعرفة وعاشوراء وستة من شوال فلها صومها بغير إذنه ، إلا إن منعها

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Darma Ami Fauzi


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *