Oleh Muhammad Alvin Jauhari*

Jika kita mendengar nama Sang Genius dari Timur, R.M.P Sosrokartono, maka yang pertama terlintas adalah salah seorang tokoh besar bangsa Indonesia yang terlupakan, bahkan oleh bangsanya sendiri. Ia merupakan tokoh intelektual dan manusia genius yang menguasai banyak bahasa dan mempunyai jasa besar bagi bangsa Indonesia. Tidak heran jika Ir.Soekarno menyebutnya sebagai “Poetra Indonesia yang besar”, dan Moh. Yamin menyebutnya “Seorang putra Indonesia yang pernah berjuang, menderita dan mendapat kemenangan yang sampai meninggalnya menggerakkan berbagai tenaga untuk kebahagian manusia  dan kemegahan bangsa”. Sosrokartono telah memahatkan jasa perjuangan yang luar biasa besar bagi bangsa, negara dan umat manusia. Seluruh hidupnya diwakafkan untuk perjuangan kemanusiaan.

Lahir

Sosrokartono dilahirkan di Mayong, Jepara, Jawa Tengah, pada Rabu Pahing, 27 Rabiul Awwal 1297 H / 10 April 1877 M. Nama lengkapnya adalah Raden Mas Panji (R.M.P) Sosrokartono. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan, ayahnya bernama R.M Adipati Ario Sosroningrat, putra ketiga R.M.A.A Tjondronegoro IV, seorang Bupati Demak yang terkenal dengan pemikiran progresif dan terbuka dengan budaya modern. Ketika ia dilahirkan, ayahnya telah menjabat sebagai wedana di Mayong, Jepara. Sedangkan ibunya adalah M.A Ngasirah, Putri pasangan KH. Modirono dan Nyai. Hj. Siti Aminah.

Kiai Modirono merupakan seorang ulama’ yang mendirikan sebuah Pondok Pesantren di daerah Telukawur, Jepara sekaligus sebagai pedagang kopra di Pasar Mayong. Jika dilihat dari silsilah keluarga, Sosrokartono mempunyai darah bangsawan sekaligus darah ulama; dari jalur Ayah, Sosrokartono merupakan keturunan klan (keluarga besar) Tjondronegoro, yang jika ditarik terus ke atas, maka akan sampai pada Prabu Brawijaya, Raja Majapahit terakhir.

Sejak kecil Sosrokartono sudah dikenal anak yang cerdas dan suka membaca. Buku-buku berat banyak yang telah dilahap Sosrokartono sejak usia masih anak-anak. Selain dikenal cerdas, Ia juga dikenal sangat tulus dan peduli dengan sesama. Sejak dirinya masih bocah dan masih hidup di lingkungan kantor kewedanan. Sosrokartono sering menolong teman-temannya dan orang lain yang kurang beruntung. Karakter lain yang juga sudah nampak dalam diri Sosrokartono kecil adalah dirinya sering memberikan nasehat-masehat kepada teman sepermainannya. Dari kisah ini Sosrokartono bisa dianggap sebagai bocah yang melampui zamannya. Tindakan dan karakter yang dimilikinya tergolong sebagai hal yang anehdan berani bagi bocah seusianya.

Pendidikan

Selain lahir dari keluarga bangsawan, Sosrokartono juga lahir dari keluarga yang berpikiran maju dan sangat peduli dengan pendidikan. Jiwa progresif dan cintanya terhadap ilmu pengetahuan ini, telah ia warisi dari ayah dan kakek-kakeknya. Sosrokartono juga tumbuh di tengah keluarga yang sangat menjunjung tinggi adat-istiadat Jawa, meskipun juga sangat terbuka terhadap budaya Barat. Ayah Sosrokartono sangat getol memberikan pendidikan terbaik buat anak-anaknya, termasuk terhadap Sosrokartono.

Selain melalui pendidikan formal, Sosrokartono juga diberikan pendidikan oleh ayahnya melalui guru privat yang mengajarkan berbagai disiplin ilmu. Diantara guru privat yang diundang untuk mengajar Sosrokartono dan saudara-saudaranya ini adalah Guru agama Islam atau guru ngaji yang mengajari membaca Al-Qur’an. Selain guru ngaji, guru privat  yang diundang untuk mengajar Sosrokartono dan saudara-saudaranya adalah guru bahasa Jawa dan bahasa Belanda. Kemudian pada usia 8 tahun, Sosrokartono dimasukkan oleh ayahnya ke Sekolah Rendah Belanda, Europe Lagress School (ELS), yang ada di Jepara. Sekolah ini hanya menampung anak-anak Belanda dan anak pribumi dari kalangan bangsawan. Bahasa pengantar yang digunakan dalam sekolah ini adalah bahasa Belanda.

Di sekolah ini, Sosrokartono tergolong siswa yang brilian diantara teman-temanya. Meski demikian Sosrokartono juga tetap berperilaku sesuai dengan sistem budaya Jawa, sekaligus tetap berperilaku sopan, rendah hati dan suka menolong teman-temanya yang membutuhkan. Kemudian selepas lulus dari ELS di Jepara, ia melanjutkan pendidikan menegah ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang. Di Semarang ini, ia mondok di Keluarga Belanda. Tujuan dipondokkan ini agar dirinya semakin paham dan menguasai bahasa Belanda, namun sebagai anak yang berpengang teguh pada kultur Jawa, Ia tidak cocok dengan gaya kehidupan sehari-hari orang Belanda. Meski hidup di lingkungan orang-orang Belanda, ia tetap mampu menjaga diri untuk tidak larut di dalam arus budaya Belanda. Budaya Belanda yang dipandang sesuai dan cocok untuk pengembangan budaya Jawa, ia terima. Namun budaya Belanda yang tidak cocok dengan pakem Jawa, ia tinggalkan.

Sosrokartono tidak mau mengikuti pergaulan bebas yang dilakukan oleh siswa-siswi Belanda. Ia tercatat sebagai anak yang tidak suka berdansa-dansi yang diliput oleh kerlap-kerlip lampu disko. Bagi Sosrokartono, budaya dansa-dansi, clubbing, dugem dan sejenisnya itu, merupakan budaya asing yang tidak cocok dengan budaya Jawa, karena itu tidak perlu diikuti. Pernah suatu ketika Sosrokartono mendapat undangan untuk mengahdiri pesta ulang tahun “Jarig”. Ulang tahun “Jarig” adalah pesta ulang tahun Ratu Belanda. Di dalam pesta ulang tahun gaya Belanda tentu berlaku acara-acar bebas gaya Barat seperti minum-minum, dansa-dansi dan sejenisnya. Maka Sosrokartono pun berusaha tidak mengahdiri undangan tersebut. Namun supaya tidak menyinggung perasaan yang megundang, ia harus menemukan alasan yang valid untuk tidak menghadiri acara ulang tahun tersebut. Sebagai upaya untuk mencari alasan itu, pada sore hari, ia menyiram kakinya dengan air panas sehingga terluka. Dengan demikian, teman-temanya bisa memaklumi kalau Sosrokartono tidak hadir ke pesta ulang tahun tersebut.

Begitu eratnya Sosrokartono berpegang teguh pada budaya Jawa. Tentu sangat langka, seorang pemuda yang mempunyai idealisme tinggi seperti Sosrokartono. Apalagi dirinya merupakan seorang anak bupati. Sosrokartono memang pemuda istimewa, termasuk sikapnya terhadap budaya Barat. Dirinya tidak anti dengan Budaya Barat, tetapi juga tidak larut denganya. Yang dia lakukan adalah mengapreasi budaya asing yang bernilai positif, konstruktif dan mampu memperkaya budaya sendiri. Sementara budaya-budaya asing yang negatif dan tidak sesuai dengan pakem budaya sendiri, ia tolak. Dari sinilah Sosrokartono merupakan sosok pemuda yang inklusif sekaligus kritis. Tidak semua budaya asing ia tolak, juga tidak semua budaya asing ia terima. Yang ia lakukan adalah menyaringnya untuk disesuaikan dan digunakan mengembangkan budaya nasional/lokal.

Semasa Sosrokartono belajar di HBS Semarang yang ia fokuskan adalah memaksimalkan taraf belajarnya. Ia dikenal sebagai kutu buku. Buku yang dibacanya pun tidak hanya buku pelajaran di sekolahnya. Namun ia juga membaca buku yang mampu meningkatkan pengetahuanya, termasuk majalah-majalah dan surat kabar. Ia juga mempelajari segala ilmu dan disiplin pengetahuan. Buku-buku yang berat dari berbagai bahasa pun ia lahap, baik itu bahasa Belanda, Latin, Inggris dan tak lupa juga buku berbahasa Jawa. Kitab-kitab Jawa lainya juga ia pelajari yang berisi ajaran keagamaan dan kesustraan, termasuk buku-buku Jawa tentang wayang. Buku-buku yang ia pelajari inilah yang nantinya juga ia ajarkan kepada adiknya, Kartini.

Demikian cerita bersambung. *Penulis adalah Alumni IICS 2019, Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya, Santri Pondok Pesantren Al-Jihad Surabaya, Alumnus Pesantren Tebuireng & Madrasah TBS Kudus.

Categories: Tokoh

Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *