Suatu ketika Nabi Saw masuk masjid dan ternyata ada sahabat anshar yang bernama Abu Umamah tengah berdiam diri, lantas Nabis saw menyapanya. “wahai Abu Umamah ada apa gerangan, ko duduk di masjid bukan pada waktu shalat?” tanya Nabi Saw. “kegelisahan dan utang selalu mengintaiku wahai Rasulullah” begitu ia menjawab. “maukah aku ajarkan perkataan yang apabila kau ucapkan maka Allah swt akan menghilangkan kegelisahan dan melunaskan utangmu?” begitu Nabi saw menwarakan tip. “Tentu aku mau wahai Rasulullah” jawabnya. Ucapkan lah doa ini di pagi dan sore hari

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ  بِـكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Artinya:

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelilitnya utang dan pemaksaan orang.

Sahabat anshar tadi berkata “aku lakukan itu, dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Nabi saw, Allah swt menghilangkan kegelisahanku dan melunasi utang-utangku.”

Riwayat lain dengan redaksi yang sedikit berbeda yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik (w. 93 H), beliau menjelaskan bahwa Nabi saw sering membaca doa ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ  بِـكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Artinya:

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir kelilit hutang, dan dari penindasan orang

Kisah di atas terambil dari hadis riwayat Imam Abu Daud (202-275 H) dan Imam Bukhari (194-256 H). Pada riwayat tersebut Rasulullah saw mengajarkan kita doa agar terhindar dari berbagai kesusahan hidup:

Pertama; Gelisah dan Cemas

Setiap manusia dalam hidupnya tentu tidak akan terlepas dari berbagai masalah, hanya saja ada sebagian orang yang tidak kuat menghadapinya, sehingga dua kondisi ini seringkali mengganggu semangat seseorang dalam menjalankan berbagai aktifitasnya. Tak jarang kita temukan orang yang ditimpa masalah larut dalam kegelisahan bahkan membuatnya tidak bisa tidur dan makan dengan baik.

Sejatinya, beragam masalah yang menimpa kita adalah ujian untuk mengukur seberapa sabar dan bagaimana kita menyikapi ujian tersebut. Dalam hal ini Allah swt berfirman agar orang-orang mukmin tetap optimis dan tidak larut dalam kesedihan.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِين

Artinya

Janganlah kamu merasa terhina dan jangan pula bersedih, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman (Surat Ali Imran:139)

Kedua; Lemah dan Malas

Dua kondisi ini membuat seseorang tidak produktif dalam hidupnya, padahal ajaran Islam menghendaki umatnya agar memiliki produktivitas yang tinggi, sehingga menghasilkan kekuatan dari sisi ekonomi, politik, intelektualitas, solidaritas, dan aspek lainnya. Hal ini tercermin dari sabda Nabi saw

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

Artinya

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah swt dari pada orang mukmin yang lemah. Setiap masing-masing perkara ada kebaikannya, oleh karea itu berusahalah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu lengah. HR Muslim

Pesan tersirat yang dapat kita petik dari hadis ini, Nabi saw ingin umatnya memiliki kekuatan dalam berbagai aspek yang disebutkan di atas. Namun, jika penyakit malas ini dipelihara oleh seorang mukmin, bagaimana mungkin kekuatan itu dapat dicapai.

Ketiga; Penakut Dan Kikir

Sikap penakut dapat menghambat seseorang untuk maju, sehingga ia sulit mengembangkan potensi yang dimilikinya. Di sisi lain, sikap penakut juga dapat menimbulkan penyakit kikir. Semisal, orang yang memiliki kelebihan harta takut habis bila dibagikan kepada orang lain. Kikir di sini tidak selalu berkaitan dengan harta, tapi juga ilmu. Sebab dalam keduanya terdapat hak yang harus disalurkan kepada orang lain. jika penyaluran dalam harta itu dengan zakat, infak, dan sedekah. Lantas bagaimana dengan ilmu? Para ulama mengatakan zakatnya ilmu itu dengan mengamalkan dan mengajarkannya.

Keempat; Terlilit Hutang dan Penindasan Orang

Banyak faktor yang membuat seseorang terlilit utang, akan tetapi yang perlu kita perhatikan adalah etika berutang. Al-Quran secara panjang lebar menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang hendak berutang, bisa dilihat surat Al-Baqarah:282.

Kendati Nabi saw pernah berutang akan tetapi utang beliau tidak banyak. Bahkan diriwayatkan bahwa beliau enggan menyalatkan jenazah yang masih memiliki utang sampai ada dari pihak keluarganya yang melunasinya. Tak hanya itu Nabi saw mengancam keras orang yang menunda-nunda pembayaran utang. Beliau bersabda:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Artinya:

Menunda pembayaran utang bagi orang yang mampu adalah kezaliman (HR Bukhari Muslim)

Pada bagian akhir adalah berlindung dari penindasan orang lain, sifat-sifat yang disebutkan di atas mulai dari gelisah, sedih, lemah, malas, penkut, kikir, dan banyaknya utang dapat mengakibatkan seorang tertindas baik dari sisi fisiknya maupun mentalnya. Semoga kita dilindungi oleh Allah swt dari sifat-sifat tersebut

Bila seseorang telah terlepas dari beberapa hal di atas, insya Allah hidupnya akan tenang dan bahagia. Doa ini bisa dibaca setiap pagi dan petang, lebih sering lebih baik!


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *