Lockdown is not same for Everyone, disaat musibah Covid 19 kian meningkat dan titik tingkat kewaspadaan yang amat khawatir, pemerintah mulai dengan tegas membatasi kegiatan manusia, dan menghimbau manusia agar memindahkan ruang Kegiatannya yang tadinya diluar rumah dialihkan menjadi didalam rumah. Namun hal seperti ini sungguh tidak bisa kita pukul rata, karena tingkatan ekonomi manusia yang berbeda-beda. Hingga mereka yang dengan terpaksa disaat himbauan untuk tidak keluar rumah, tetap keluar rumah  mencari nafkah demi kebutuhan hidup keluarga dirumah tercinta.

Hal ini mungkin kita sadari dan tidak bisa kita pungkiri, seseorang yang bekerja di sebuah kantor perusahaan atau bahkan seorang guru mereka masih bisa mengalihkan kegiatan belajar mengajar nya melalui via online, namun bagaimana nasib pedang keliling, seperti tukang bubur ayam dipagi hari, tukang sol sepatu yang selalu menyelusuri jalan kota, dalam kondisi genting saat ini ditengah wabah covid 19 bisa kah mereka terus berdiam terus didalam rumah? Dan adakah sebuah solusi?

Ditengah wabah yang kian mengancam dunia, ada halnya yang harus dilakukan seorang muslim yaitu harus lebih banyak merenungi musibah yang menimpa kita sa’at ini dan sabar atas segala yang menimpa kita semua.

Dalam Kitab ihya ulumuddin karya Al-imam ghazali rahimahullah, beliau membagi sabar menjadi 4 bagian :

1. Sabar dalam ketaatan
2. Sabar dalam meninggalkan maksiat
3. Sabar dalam mendapatkan nikmat
4. Sabar dalam tertimpa musibah

Penjelasannya ialah :

1. Menjalani segala perintah Allah amat lah berat dan butuh niat yang kuat, seperti halnya membiasakan diri untuk bangun malam demi melaksanakan sholat tahajud, atau melangkahkan kaki ke masjid dan menghadiri Majlis taklim, dan itu semua membutuhkan kesabaran dalam melaksanakan ketaatan.

2. Sabar dalam meninggalkan maksiat sama halnya contoh nya Ketika seseorang yang hatinya telah tertanam dalam ketaatan, sehingga ia dengan mudah melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah haramkan, maka tidak pantas bagi nya merasa sombong dan menganggap dirinya lebih baik dari yang lain,misalkan ketika ia sering menghadiri kedalam Majlis taklim, namun setelah pulang dari Majlis taklim ia melihat seseorang yang dalam kondisi menjaga warung, janganlah menganggap hina atau merendahkan ia yang menjaga warung, karena boleh jadi ia yang menjaga warung amalnya lebih diterima disisi Allah karena ia niat ikhlas bekerja demi menafkahi keluarganya dan ia yang hadir dalam Majlis taklim, amalnya tidak diterima oleh Allah karena ketika pulang ia menganggap hidayah dan rendah kepada saudara nya sendiri.

3.  Sabar ketika mendapatkan nikmat dari Allah SWT, seseorang yang Allah berikan rezeki yang melimpah, hidup yang penuh dengan berkecukupan. Makan perbanyak lah mensyukuri atas nikmat yang Ia rasakan saat itu. Karena Allah menegaskan dalam Firman-Nya :

(وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ)
[Surat Ibrahim 7]

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

4. Sabar ketika tertimpa musibah, musibah yang Allah berikan kepada hamba-Nya, boleh jadi itu Allah turunkan karena Allah mencintai hamba-Nya sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW, yang artinya ” Bila Allah mencintai seorang hamba-Nya makan akan Allah berikan ia cobaan ” Atau juga Allah memberikan sebuah musibah karena itu sebuah teguran dan murkanya Allah karena ulah manusia itu sendiri yang lalai atas perintah-Nya, maka dalam kondisi seperti ini kita harus merenunginya,  tidaklah perlu menyalahkan orang lain tapi salahkanlah diri sendiri. Kenapa Allah mendatangkan musibah saat ini, apa karena Allah mencintai hamba-Nya atau sebaliknya nya, kita selaku manusia banyak sekali perbuatan maksiat yang kita lakukan sehingga Allah bosan melihat dosa yang kita lakukan dan pada akhirnya Allah turunkan tentara Allah yang tidak terlihat yaitu covid 19.

Sabar dan tawakal adalah kunci saat ini ketika kita telah berikhtiar. Allah berfirman dalam Wahyu-Nya :

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱسۡتَعِینُوا۟ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِینَ)
[Surat Al-Baqarah 153]

Artinya :

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

Dalam tafsir muyassar dijelaskan :

يا أيها المؤمنون اطلبوا العون من الله في كل أموركم: بالصبر على النوائب والمصائب، وترك المعاصي والذنوب، والصبر على الطاعات والقربات، والصلاة التي تطمئن بها النفس، وتنهى عن الفحشاء والمنكر. إن الله مع الصابرين بعونه وتوفيقه وتسديده. وفي الآية: إثبات معيَّة الله الخاصة بالمؤمنين، المقتضية لما سلف ذكره أما المعية العامة، المقتضية للعلم والإحاطة فهي لجميع الخلق.

Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan terhadap segala urusan kalian kepada Allah SWT dengan bersabar. bersabar atas segala segala musibah, sabar dalam meninggalkan maksiat dan dosa dan sabar ketika dalam ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Dan sholat lah yang bisa memenangkan jiwa dan mencegah kemungkaran, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Allah dengan segala pertolongan-Nya, bimbingan-Nya dan penyelesaian-Nya dalam segala urusan. Dan ayat ini menegaskan kepada mereka orang-orang yang beriman.

Maka dari sinilah kita memperbanyak untuk bermuhasabah diri atas segala yang menimpa kita.

Depok, 16 april 2020
Oleh : Darma Ami Fauzi


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *