Oleh Muhammad Alvin Jauhari*

Kembali ke Tanah Air

Setelah 28 tahun menjelajahi Eropa, Sosrokartono pada 1925 kembali ke tanah air dan memilih Bandung sebagai tempat tinggalnya. Namun sebelum tinggal di bandung, Ia pertama kali tiba di tanah air langsung menemui Ibundanya, Nyai Ajeng Ngasirah. Ditumpahkan seluruh kerinduanya pada sang Ibu setelah sekian tahun Ia tahan. Selain itu, Sorokartono juga meminta restu dihadapan ibunya untuk menapaki dunia baru sebagai awal membangun visi hidupnya, “ Ngawulo dateng kawulone gusti”.  Dalam sejarah, Sosrokartono memang dikenal sosok yang sangat hormat dan patuh kepada Ibundanya. Jika hendak melakukan hal-hal yang baru dan krusial, maka pertama pasti meminta restu dan doa kepada ibundanya.

Setelah bertemu Ibundanya, Sosrokartono kemudian berziarah ke makam Ayahnya di Kudus dan makan Kartini di Rembang. Setelah itu, Ia melanjutkan silaturrahim ke para kiai yang berada di Jawa Timur, lebih tepatnya Mojokero dan Jombang. Kemudian Sosrokartono memilih Bandung sebagai tempat tinggal, karena di Bandung lah pusat pergerakan nasional. Ketika Belanda mengetahui Sosrokartono telah kembali ke tanah air, maka Ia dianggap sebagai ancaman bagi Rezim kolonial Belanda. Sebab melihat track-recordnya sewaktu di Belanda, Ia tanpa henti-hentinya menyerukan pembelaan dan kemajuan masyarakat kolonial, apalagi di tanah air sendiri maka bisa dipastikan lebih garang. Oleh karena itu, semua gerak-geriknya selalu diawasi dan dipantau ketat oleh Belanda. Berbagai tawaran jabatan yang diberikan Belanda, maupun Jepang yang tujuannya untuk menjinakkan Sosrokartono, secara terang-terangan Sosrokartono menolaknya semua; sebagai wujud idealisme, teguh pendirian akan anti kolonialisme.

Perjuangan di Bandung

Ketika Sosrokartono menetap di Bandung hingga akhir hayatnya, Ia tidak memiliki rumah sendiri, melainkan mengontrak. Di kontrakanya inilah, Ia membuka wisma atau padepokan untuk menolong dan mengabdi pada masyarakat dan bangsa. Banyak masyarakat yang berdatangan, baik itu meminta pertolongan untuk mengobati penyakit atauapun persoalan lain. Ia memberikan pertolongan secara gratis kepada sesamanya yang tidak mampu dan menderita, utamanya hal pengobatan. Dari pagi sampai malam hari Ia melayani dengan lapang hati. Selain itu Ia juga semakin tekun melakukan berbagai tirakat, baik puasa maupun yang lainya. Karena Sosrokartono sejak muda sudah dikenal sebagai sosok pemuda yang gemar tirakat, Ia sering melaksanakan puasa sunnah seperti ngerowot, mutih dan sebagainya. Laku spiritual semakin ditingkatkan ketika Ia hidup di Bandung, dan sebagai implikasinya adalah kepedulian sosial.

Dalam melakukan pengobatan, biasanya Sosrokartono menggunakan sarana air putih yang sudah dibacakan do’a. Berkat kuasa Allah, sudah ribuan orang berhasil disembuhkan dengan izin Allah. Penyakit yang secara medis sulit disembuhkan, dengan meminum air putih yang  dibacakan do’a oleh Sosrokartono bisa disembuhkan atas izin Allah. Selain itu, rumah yang dikenal dengan “ Dar Oes Salam” ini juga digunakan untuk belajar dan mencari ilmu. Laku spiritual yang dilakukan Sosrokartono merupakan wujud pengabdian kepada Allah yang Maha Kuasa, dan dilanjutkan dengan perbuatan baik kepada sesama atau memberikan manfaat yang besar kepada sesama. Ia sering menahan lapar dan dahaga untuk ikut merasakan penderitaan kaum tidak mampu, bahkan dalam kehidupan sehari-hari Ia menjauhi makan-makan yang enak, Ia hanya makan cabe saja, tanpa ada yang lain. Ini Ia lakukan tidak lain untuk ikut merasakan penderitaan sesama. Bisa dibayangkan seorang pangeran, anak bangsawan, kecerdasaan yang luar biasa, pengalaman di Eropa yang banyak, Ia rela hidup dengan penuh kesederhanaan dan tirakat, menjauhi kemewahan dan kekayaan hidup. Ia lebih memilih mengabdikan diri dan menlong serta membantu sesama yang dilanda penderitaan.

Dalam sejarah kiprah Sosrokartono dalam pergerakan nasional tidak lain adalah untuk mencapai Indonesia merdeka. Ia merupakan tokoh yang berperan penting dalam merintis kemerdekaan, meski Ia sendiri tidak bersedia dicatat dihalaman sejarah. Perjuangan yang Ia lakukan sudah dimulai sejak Ia masih di Belanda. Namun perjuangan yang Ia lakukan lebih memilih dibalik layar dan lebih banyak bergerak di luar struktur. Barangkali ia memiliki ini karena sangat ketatnya Belanda mengawasi dirinya dan seluruh aktivitasnya. Setiap hal yang dilakukan Sosrokartono yang berkaitan dengan perjuangan bangsa dan kaumnya, akan selalu dibatasi dan diawasi oleh rezim kolonial. Ia juga sering didatangi oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional. Bahkan sebelum menjelang kemerdekaan, ia juga salah satu dari empat ahli tasawauf yang ditemui oleh Soekarno, selain Hadratussyaikh Hasyim Asyari, KH. Mu’thi Madiun dan Syaikh Musa Cianjur. Empat tokoh ahli tasawuf inilah yang memberikan masukan kepada Soekarno-Hatta bahwa akan turun “ berkat dan rahmat Allah yang Mahakuasa” pada hari Jumat legi 1364 Hijriah, yakni kemerdekaan Indonesia. Masukan mistik inilah yang mendorong Soekarno-hatta untuk memproklamasikan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dan terbukti benar dalam sejarahnya Kemerdekaan RI jatuh pada Jum’at Legi, 17 Agustus 1945 bertepatan 9 Ramadhan 1364.

Selain itu, dalam hal pendidikan Sosrokartono telah banyak mendirikan perpustakaan untuk kemajuan dan kecerdasan anak-anak bumiputera. Ia juga pernah turut mengajar di Taman Siswa dan sekolah yang ada di Jakarta. Tanpa mengharapkan gaji, yang ia inginkan adalah kemajuan anak-anak bumiputera semata, sehingga nanti mampu memperjuangan bangsa dari tekanan kolonial.

Wafat

Setelah sekian tahun menjalankan kehidupan yang diproyeksikan untuk menolong dan membantu sesama, puluhan ribu orang yang telah Ia tolong, baik miskin maupu kaya, dari etnis maupun agama apapun. Pada Jum’at Pahing, tanggal 08 Februari 1952, pukul 11.50, di rumah kontrakanya Bandung, dalam usia 75 Tahun, Sosrokartono kembali ke abadian dengan tenang, kepergian untuk mengakhiri perjuangan dan dan pengabdianya untuk kemanusiaan selama-lamanya. Atas permintaanya sebelum meninggal, Sosrokartono kemudian diterbangkan menggunakan pesawat milik Angkatan Udara RI untuk dimakamkan bersama keluargnya di Kompleks pemakaman Sedomukti, Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Dalam hidupnya ia tidak pernah berkeluarga atau menikah, sehingga Ia tidak meninggalkan, istri, anak dan keturunan. Namun kepergianya ini meneteskan air mata bagi banyak umat manusia, mengingat jasa dan perjuanganya yang besar untuk kemanusiaan.

Nasehat

“Sugih tanpo bondo, digdaya tanpo aji, nglurug tanpo bala, menang tanpo ngasorake”. Sugih tanpo bondo atau kaya tanpa harta. Baginya kaya bukanlah kaya materi atau banyaknya harta, tapi kaya yang sesungguhnya adalah kaya batin, kaya hati, dan kaya ilmu. Digdaya tanpo aji atau Sakti tanpa aji. Baginya sakti itu bukan banyaknya mantra atau aji-aji, karena satu-satunya pelindung dan perisai adalah Allah. Nglurug tanpo bala atau maju tanpa pasukan. Baginya berjuang adalah tanpa mengandalkan atau bergantung bantuan orang lain, bersikap mandiri dan berani menanggung beban berat dan pahitnya kehidupan sendiri. Menang tanpo ngasorake atau menang tanpa merendahkan. Baginya menang adalah dengan tidak merendahkan, menghinakan dan menistakan orang yang dikalahkan.

Wallahu ‘alam bis showab

*Penulis adalah Alumni IICS 2019, Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya, Santri Pondok Pesantren Al-Jihad Surabaya dan Alumni Pesantren Tebuireng & Madrasah TBS Kudus.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *