Catatan Menjadi Muslim Indonesia di Belanda (part 9)

Menjalani ibadah puasa Ramadhan di negeri kincir Angin, Belanda menjadi kenangan sekaligus tantangan tersendiri bagi saya. Pada tahun 2017, saya menjalani puasa Ramadhan di negerinya Raja Willem Alexander bersamaan dengan proses menyelesaikan studi master saya di Vrije Universiteit, Amsterdam.

Banyak kenangan indah yang saya rasakan selama berpuasa disana. Mulai dari momen kekeluargaan dan keakraban dengan keluarga besar PPME Al-Ikhlas Amsterdam saat buka puasa bersama, keliling Belanda untuk ikut pengajian Ramadan, shalat tarawih hingga sahur bersama yang jeda antara keduanya tidak lebih dari 4 jam, dan banyak lainya.

Satu bulan berpuasa Ramadhan disana secara tidak langsung juga mengajarkan saya akan arti rindu dan cinta tanah air yang sesungguhnya.  Bagaimana tidak? Setiap hari di bulan Ramadhan, interaksi saya di Belanda selama Ramadhan sangatlah berbeda dari kebiasaan waktu normal di bulan-bulan lainya yang lebih banyak saya habiskan bersama profesor maupun teman kuliah. Saat Ramadhan, saya lebih banyak bergaul dengan warga muslim Indonesia disana, baik pelajar muslim maupun diasporanya. Mulai dari sahur, ngaji sore Ramadhan, buka puasa, hingga tarawih selalu bersama mereka. Bahkan, saat jeda antara setelah tarawih dan sahur yang tidak lebih dari 4 jam tersebut pun kita seringkali tidak tidur melainkan berdiskusi seputar kondisi aktual yang terjadi di Indonesia saat itu.

Saya rasakan gejolak semakin tumbuh rasa rindu dan cinta kita pada tanah air selama momen tersebut. Sehingga benar apa yang dikatakan Ibnu Khaldun tentang teori ‘Ashabiyyah’ dalam ‘masterpiece’ nya  Mukaddimah, bahwa solidaritas kelompok atau kohesi sosial (untuk konteks ini saya lebih senang menyebutnya dengan ‘rasa cinta tanah air’) akan benar-benar diperoleh dari sebuah kesadaran bersama bahwa kita berasal dari keturunan (baca: tanah air) yang sama.

Ngobrol santai di teras lantai 2 PPME Al-Ikhlas Amsterdam saat jeda setelah shalat tarawih dan sahur (Dok. Pribadi)

Terlepas dari semua kenangan tersebut, tantangan berpuasa di Belanda saat itu juga tidaklah mudah dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

Salah satunya adalah faktor lingkungan yang tidak cukup ‘mendukung’ untuk berpuasa. Sebagaimana Belanda adalah negara dengan jumlah penduduk Muslimnya yang tergolong minoritas, berpuasa di Belanda akan menjadi tantangan tersendiri bagi kita yang berpuasa disana. Jangan kaget kalau akan tetap banyak penduduk disana yang makan dan minum seperti biasanya, tidak hanya di jalan, tetapi juga kampus dan tempat umum lainya. Dengan kondisi demikian, bukanlah sebuah alasan pembenar bagi kita untuk melarang mereka tidak makan dan minum di depan kita. Selama berpuasa disana, saya hanya berprinsip, untuk ‘Menghormati mereka yang makan dan minum (tidak berpuasa), kelak mereka juga akan mengerti dan toleran pada kita yang berpuasa’

Tantangan lainya adalah soal durasi puasa di negeri tulip tersebut. Sebagaimana Belanda adalah negara sub-tropis yang mempunyai empat musim (panas, gugur, dingin (salju), dan semi), Ramadhan yang saya jalani saat itu bersamaan dengan musim semi yang durasi waktu siangnya relatif lebih lama daripada waktu malam. Jika di Indonesia, kita terbiasa berpuasa dengan durasi waktu sekitar 12 sampai 13 jam, di Belanda (saat itu) kita harus berpuasa hingga kurang lebih 17 sampai 18 jam.

Rincianya kurang lebih seperti ini. Waktu subuh di Belanda (saat itu) adalah (sekitar) jam setengah 4 pagi sedangkan waktu maghrib adalah jam 21.00 CET dan waktu isya nya sekitar jam 23.00 CET. Dan bahkan, di minggu-minggu terakhir Ramadhan, waktu maghrib di Belanda saat itu bisa hampir mendekati jam 22.00 CET dan waktu isya nya hampir mendekati jam 00.00 dini hari. Durasi puasa dan aktivitas Ramadhan ini sebagaimana yang saya alami di PPME Al-Ikhlas Amsterdam.

Selain berdampak pada waktu buka puasa yang menjadi relatif ‘lebih lama’ tersebut, waktu untuk shalat tarawih pun menjadi lebih malam hingga dini hari. Biasanya shalat Isya dimulai jam 23.00 CET, lalu dilanjut dengan shalat tarawih dan witir yang selesai sekitar jam 00.00 hingga setengah 1 /00.30 dini hari. Karenanya, sebagaimana telah saya ungkapkan sebelumnya, tidak jarang selama Ramadhan saya dan teman teman muslim disana lebih memilih untuk bermalam di masjid, tidak tidur malam antara jeda shalat tarawih dan waktu sahur. Walau di sisi lain tidak sedikit pula jamaah yang langsung bergegas pulang dan memilih untuk santap sahur di rumah. 

Dengan kondisi durasi puasa Ramadhan tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengatur pola makan dan istirahat dengan baik agar bisa tetap ‘fresh’ dalam beraktifitas. Apalagi saat Ramadhan yang saya jalani saat itu adalah masa-masa harus menyelsaikan tugas akhir.

Suatu ketika, ketua program studi saya di bidang Specialization Peace, Trauma, and Religion Vrije Universiteit Amsterdam, Prof. Fernando Enns, memanggil saya secara khusus ke ruanganya untuk menanyakan bagaimana cara saya mengatur pola makan, istirahat, juga mengerjakan tesis sambil berpuasa Ramadan. ‘Apakah dengan tidak makan dan minum selama 17 jam dan hanya istirahat beberapa jam saja dalam sehari semalam kamu masih akan sanggup menyelesaikan tesis di periode ini?’ Tanyanya kepada saya. ‘Saya takut kamu ‘mati konyol’ karena ini semua’, ujarnya sambil tertawa.

Foto penulis bersama Prof. Fernando Enns (Dok. pribadi)

Saya pun tertawa dengan pertanyaanya tersebut. Saya mengerti, alasan Prof. Enns memanggil saya ke ruangaya adalah karena bukti cinta dan perhatianya kepada mahasiswa muslim dan internasional seperti saya. Galibnya, profesor di Belanda akan melakukan hal semacam ini kepada mahasiswanya, dan perlakuan dan perhatian dari seorang profesor kepada mahasiswanya semacam inilah yang membuat saya rindu akan iklim akademik Belanda.

Sambil membuka diskusi, saya menyampaikan kepadanya bahwa dalam Islam momentum puasa adalah salah satu cara terbaik untuk kita mengistirahatkan sejenak perut (lambung) kita dari banyak mengkonsumsi makan dan minum yang berlebih. Ada nilai moril lainya yang terkandung dalam ajaran puasa ini, saya menambahkan. ‘Bahwa puasa juga mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan kondisi kaum fakir dan miskin, sebagaimana saat puasa kita merasakan ‘dahsyatnya’ menahan lapar dan dahaga yang bisa jadi dirasakan oleh kaum fakir dan miskin setiap harinya.

Prof. Enns sempat tersenyum. Tanda dia tidak mau mempermasalahkan ‘semangat’ saya untuk tetap berpuasa. Tetapi, dia masih tetap menanyakan satu hal ‘apa kamu yakin dengan kamu sambil berpuasa kamu juga akan bisa menyelesaikan tesismu nantinya? Insya’a Allah saya yakin bisa, prof!. saya tegaskan kepadanya. Profesor yang juga aktif mengajar di Jerman inipun tersenyum. ‘Baiklah, saya pegang komitmenmu, semoga semua urusanmu menjadi lebih mudah dan dipermudah Tuhan yang maha kuasa’. Doanya kepada saya.

Terima kasih prof, atas doa dan kepercayaanya. Saya pun pamit dari ruangnya sambil bergumam ‘Tidak mungkin Tuhan menguji hambanya di luar batas kemampunya, ujar saya dalam hati menenangkan diri. Alhamdulillah, pada akhirnya tesis saya pun rampung di Bulan Ramadhan. Tepat 3 hari sebelum idul fitri saya sudah submit kepada supervisor. Bulan Ramadhan yang awalnya saya kira akan penuh dengan tantangan, yang terjadi justru malah kebalikanya, penuh dengan keberkahan.

Dito Alif Pratama

Founder Santri Mengglobal


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *